
CEO SUN Energy, Emmanuel Jefferson, menyatakan bahwa investasi dalam Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) telah menjadi lebih terjangkau dalam beberapa tahun terakhir. Dalam lima tahun terakhir, biaya investasi per watt untuk PLTS terus mengalami penurunan yang signifikan.
“Jika kita melihat selama lima tahun terakhir, biaya investasi per watt justru semakin turun. Harga panel semakin menurun, harga inverter dan peralatan lainnya juga semakin murah, sehingga saat ini listrik dari energi surya sudah bisa lebih murah dibandingkan tarif listrik yang ada sekarang,” ujar Emmanuel, Kamis (18/12).
Menurut dia, kondisi ini mendorong meningkatnya minat konsumen terhadap pemanfaatan PLTS, khususnya di Indonesia. Kesadaran bahwa listrik surya memberikan manfaat ekonomi jangka panjang membuat energi surya semakin dipertimbangkan sebagai solusi energi yang efisien dan berkelanjutan.
“Dari sisi konsumen pun sudah menyadari dan melihat ini sebagai sesuatu yang sangat bermanfaat bagi Indonesia,” kata Emmanuel.
Australia Jadi Pasar Terbesar Kedua untuk PLTS Atap SUN Energy
SUN Energy Operasikan PLTS Atap Pertama di Kalimantan Utara
SUN Energy Raih Pembiayaan Rp 500 M untuk Proyek Energi Surya di RI
Dari sisi kapasitas terpasang, SUN Energy mencatatkan pertumbuhan yang signifikan, baik di dalam negeri maupun regional. Secara grup, kapasitas proyek PLTS yang telah dikembangkan hampir mencapai 400 megawatt (MW).
“Sekitar 250 MW ada di Indonesia, lalu 130 MW di Australia, sekitar 20 MW di Vietnam dan 20 MW di Thailand,” ujar Emmanuel.
Indonesia Tetap Jadi Pasar Utama SUN Energy
Kendati berekspansi ke berbagai negara, SUN Energy tetap menempatkan Indonesia sebagai pasar utama. Emmanuel menyebutkan, secara khusus di Indonesia, total instalasi PLTS yang telah dikerjakan SUN Energy mendekati 1 gigawatt (GW), termasuk proyek PLTS atap (rooftop) dan skema independent power producer (IPP).
“Kalau bicara Indonesia spesifik, instalasi kita hampir 1 gigawatt. Jadi bisa dikira-kira market share kami, dan kami percaya saat ini kami nomor satu di Indonesia,” ujarnya.
Dalam beberapa tahun ke depan, SUN Energy menargetkan tetap mempertahankan posisi teratas di pasar PLTS nasional. Perusahaan ini menegaskan komitmennya untuk terus menjadi pemain utama dalam pengembangan energi surya, termasuk dalam menyerap kuota PLTS yang akan ditetapkan pemerintah pada 2026.
“Untuk 2026, kami tetap aim untuk jadi nomor satu. Berapa pun kuota yang pemerintah keluarkan, tentu kami ingin menjadi nomor satu dari sisi share yang kami dapatkan,” kata Emmanuel.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar