Bos Pertamina temui Purbaya bahas insentif merger anak usaha

DIREKTUR Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri bertemu dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada hari ini di kantor Kementerian Keuangan, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Pertemuan itu di antaranya membahas insentif yang akan diberikan dalam proses rencana merger tiga anak usaha BUMN migas tersebut.

Simon menjelaskan tiga anak usaha Pertamina yang akan digabungkan yakni PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS). “Rencana integrasi bisnis hilir kami integrasi. Jadi, kami akan menggabungkan Kilang Pertamina Indonesia (internasional), Pertamina Patra Niaga, dan Pertamina International Shipping,” ujarnya pada Jumat, 9 Januari 2026, seperti dikutip dari Antara.

Ia tak membantah salah satu topik yang dibahas dengan Bendahara Negara itu adalah soal insentif dalam proses merger. Namun, Simon tak mendetailkan lebih lanjut soal rencana bentuk insentif yang akan diambil untuk memberikan keringanan proses merger. “Termasuk (insentif),” katanya.

Sebelumnya Pertamina pernah menargetkan penggabungan tiga anak usaha itu rampung pada 1 Januari 2026. Namun, rencana aksi korporasi itu masih belum dapat diselesaikan.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono, pada pertengahan November 2025 lalu pernah menyampaikan perseroan mendapat pengawalan dari Danantara Indonesia untuk melakukan integrasi di bisnis hilir, yang terdiri dari sektor commercial and trading, refinery dan kilang, serta logistik.

Adapun strategi menyederhanakan operasional bisnis ini merupakan arahan dari Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada energi dan mengurangi kompleksitas operasional. Tujuan utamanya adalah agar Pertamina dapat berfokus kepada bisnis intinya yaitu dalam bidang minyak dan gas, pengolahan hingga distribusi energi, serta energi baru terbarukan.

Selain itu, strategi ini juga diharapkan dapat menambah daya saing perusahaan, dan lebih efisien dalam pengambilan keputusan. "Tentunya ditargetkan bahwa nilai tambah yang lebih besar bagi pemegang saham atau unlock value dapat dilakukan," kata Agung pada 19 November 2025.

Sebelumnya, Simon telah mengumumkan rencana merger tiga anak usaha itu saat Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, pada Kamis, 11 September 2025. Ihwal merger ini juga berkaitan dengan menurunnya laba di masing-masing anak usaha karena kondisi global.

Padahal pada saat yang bersamaan, produksi kilang justru meningkat karena banyaknya pembangunan kilang minyak baru. Tentu hal ini berdampak terhadap pendapatan perseroan karena pemasukan tidak mampu menyokong ongkos produksi.

Simon menganggap kondisi seperti ini tidak menguntungkan untuk perseroan jika terus dibiarkan. “Kilang ini marginnya semakin kecil. Dengan marginnya semakin kecil, tentu secara keseluruhan, secara konsolidasi, akan berpengaruh kurang baik ke bottom line perusahaan,” ucapnya kala itu.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan