BPS Tana Tidung rilis statistik daerah 2025, Sesayap jadi magnet ekonomi

Ringkasan Berita:
  • BPS Tana Tidung merilis Statistik Daerah 2025 yang memotret pembangunan, persebaran penduduk, serta indeks pembangunan manusia sebagai bahan evaluasi kebijakan.
  • Persebaran penduduk tidak merata, dengan konsentrasi tertinggi di Kecamatan Sesayap (31,39 jiwa/km⊃2;) dan terendah di Kecamatan Muruk Rian (4,35 jiwa/km⊃2;).
  • Potensi bonus demografi dan isu gender menjadi sorotan: 68,22 persen penduduk usia produktif, namun keterwakilan perempuan di DPRD hanya 15 persen.
 

aiotrade, TANA TIDUNG - Badan Pusat Statistik ( BPS ) Kabupaten Tana Tidung , Provinsi Kalimantan Utara ( Kaltara ) resmi merilis publikasi Statistik Daerah 2025.

Data terbaru BPS Tana Tidung, menunjukkan persebaran penduduk masih terkonsentrasi di Kecamatan Sesayap, sementara empat kecamatan lainnya relatif renggang.

Kondisi ini tentu menjadi tantangan pemerataan pembangunan di Bumi Upun Taka, julukan Tana Tidung.

Hal ini terungkap berdasarkan rilis publikasi BPS Tana Tidung soal Statistik Daerah Kabupaten Tana Tidung 2025.

Rilis BPS Tana Tidung memotret dinamika pembangunan, ketimpangan sebaran penduduk, hingga capaian indeks pembangunan manusia di Bumi Upun Taka.

Kepala BPS Kabupaten Tana Tidung, Achmad Sani Setiawan, mengungkapkan publikasi ini merupakan indikator penting bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan yang telah berjalan.

"Data ini bukan sekadar angka, tapi cermin kondisi riil di lapangan.

Kami menyajikan indikator terpilih agar mudah dianalisis oleh para pengambil kebijakan," ungkap pria yang biasa disapa Iwan ini kepada aiotrade, Sabtu (10/1/2026).

     

Dalam laporannya, salah satu poin yang disoroti yaitu terkait terjadinya ketidakmerataan persebaran penduduk di lima kecamatan yang ada di Kabupaten Tana Tidung. 

Dimana dari total luas wilayah Kabupaten Tana Tidung 3.858,31 kilometer persegi, persebaran penduduk terkonsentrasi atau tertumpu di Kecamatan Sesayap.

Berdasarkan data terbaru, kepadatan penduduk di Kecamatan Sesayap saat ini mencapai 31,39 jiwa per kilometer persegi. 

Angka ini jauh di atas empat kecamatan lainnya, terutama Kecamatan Muruk Rian yang menjadi wilayah paling renggang dengan kepadatan hanya 4,35 jiwa per kilometer persegi.

“Ada tantangan dalam pemerataan infrastruktur jika melihat sebaran ini.

Sesayap tetap menjadi magnet ekonomi dan pemukiman,” jelas Iwan.

 

Potensi Bonus Demografi dan Gender

Tana Tidung juga mencatatkan potensi ekonomi besar melalui struktur kependudukan. 

Dari proyeksi 28.824 jiwa penduduk di tahun 2025, sebanyak 68,22 persen masuk dalam kategori usia produktif (15-64 tahun).

Namun, dari sisi keterwakilan politik khususnya yang duduk di bangku dewan, permasalahan gender masih menjadi isu krusial. 

Dari 20 anggota DPRD Tana Tidung, sebanyak 85 persen yaitu 17 orang diisi laki-laki, sedangkan keterwakilan perempuan hanya mencapai 15 persen (3 orang).

Artinya, komposisi keterwakilan gender di bangku DPRD Kabupaten Tana Tidung masih didominasi oleh laki-laki, dengan perbandingan yang sangat jauh.

Di bidang pendidikan, meskipun Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) sudah menyentuh 12,85 tahun, rata-rata lama sekolah (RLS) masyarakat Tana Tidung baru berada di angka 9,41 tahun.

“Artinya, secara rata-rata penduduk kita baru menamatkan kelas 3 SMP.

Ini menjadi PR bersama bagaimana mendorong penduduk usia dewasa untuk menyelesaikan pendidikan setingkat SMA atau sederajat,” tuturnya.

Sementara itu, di sektor ketenagakerjaan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) cukup tinggi di angka 74,01 persen, namun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) masih berada di angka 3,67 persen. 

Mayoritas penduduk yang bekerja berstatus sebagai buruh atau karyawan dengan persentase 54,22 persen.

Guna menunjang kualitas hidup, dokumen BPS juga mencatat keberadaan 2 rumah sakit dan 21 puskesmas yang tersebar di wilayah Tana Tidung. 

   

Infrastruktur kesehatan ini menjadi tulang punggung dalam menjaga Angka Harapan Hidup (AHH) penduduk setempat yang terus mengalami tren peningkatan.

Iwan berharap, dengan rilisnya data statistik ini, setiap perencanaan pembangunan di tahun 2025 dan seterusnya dapat dilakukan secara lebih presisi dan berbasis data (data-driven).

"Harapannya, melalui data ini, pemerintah daerah bisa lebih fokus menangani titik-titik yang masih tertinggal, baik dari segi pendidikan maupun pemerataan ekonomi di tiap kecamatan," pungkasnya.

(*)

Penulis : Rismayanti

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan