BRI (BBRI) Targetkan Pertumbuhan Satu Digit pada 2026, Ini Strateginya


aiotrade, JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) atau BRI memiliki strategi pertumbuhan yang lebih terukur pada tahun 2026. Dalam presentasi yang diakses pada Jumat (27/2/2026), BRI menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit relatif sejalan dengan panduan tahun 2025, meski lebih moderat dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit pada tahun buku 2025 yang mencapai 12,3% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Manajemen BRI juga memproyeksikan net interest margin (NIM) berada di kisaran 7,4% hingga 7,8% pada 2026. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan guidance 2025 sebesar 7,3% hingga 7,7%, namun masih di bawah capaian FY25 yang tercatat 7,8%. Hal ini menunjukkan upaya BRI dalam menjaga stabilitas keuangan di tengah dinamika pasar.

Dari sisi kualitas aset, BRI menargetkan biaya kredit (credit cost) di rentang 2,9%–3,2% pada 2026. Proyeksi tersebut lebih rendah di batas bawah dibandingkan dengan realisasi sepanjang 2025 sebesar 3,3%, serta sedikit lebih longgar dibandingkan dengan panduan 2025 di kisaran 3,0% sampai dengan 3,2%. Ini mencerminkan komitmen BRI untuk menjaga kualitas kredit di tengah tantangan likuiditas dan perubahan suku bunga.

Sementara itu, rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) diproyeksikan berada di level 41% sampai 43% pada 2026, relatif stabil dibandingkan dengan guidance 2025 di kisaran yang sama. Pada 2025, CIR BRI tercatat 42,5%.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan bahwa perseroan sangat selektif dalam memilih sektor-sektor yang berkualitas dan memberikan imbal hasil yang baik. Kendati demikian, BRI tetap memastikan agar kredit yang disalurkan tidak berdampak buruk terhadap kualitas aset.

“Kita akan bergerak dalam pertumbuhan single digit antara 7% sampai 9%. Kita memang sangat selektif dalam memilih sektor-sektor yang berkualitas,” ujar Hery dalam Konferensi Pers Laporan Kinerja Keuangan BRI Kuartal IV/2025 secara virtual pada Kamis (26/2/2026).

Dari sisi rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL), Hery memastikan bahwa perbaikan akan selalu ada. Untuk itu, perseroan akan mendorong para mantri untuk terus melakukan penagihan dan rutin mengunjungi nasabahnya.

Ke depan, BRI juga berencana menerapkan autodebet cicilan (auto grab fund/AGF) sebanyak satu atau dua kali bagi para nasabah mikro yang memiliki tabungan di BRI. Penerapan AGF sendiri telah dilakukan pada Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). “Dengan demikian, NPL akan bisa ditekan lebih baik. Itu yang harus kita lakukan pada 2026 ini,” tambahnya.

Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti menambahkan bahwa segmen ritel, terutama mikro dan kecil, masih menjadi tantangan bagi BRI. Untuk itu, perseroan telah menyiapkan sejumlah inisiatif pada 2025, seperti membentuk subdirektorat ritel sendiri, satu organisasi yang terpisah dari risk management, dan SCVP untuk wholesale.

Selain itu, BRI pada 2025 telah memetakan potensi penurunan di segmen ritel, termasuk mikro, kecil, dan wholesale yang terkait dengan booking lama. “Ke depan kita akan memperkuat dari sisi collection arm kita, terutama di segmen ritel, yaitu consumer dan mikro, supaya booking yang baru dan existing backlog-nya juga tetap tertangani dengan baik,” ujarnya.

Hingga 2025, penyaluran kredit BRI secara konsolidasi mencapai Rp1.521,49 triliun. Realisasi itu tumbuh 12,31% YoY dari periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, NPL gross meningkat menjadi 3,29% dan NPL net naik ke posisi 0,96% sepanjang 2025.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan