
aiotrade.CO.ID – JAKARTA.
Tahun 2025 menjadi tantangan berat bagi sektor perbankan di Indonesia. Berbagai faktor seperti likuiditas, pertumbuhan kredit, dan kebijakan makroekonomi turut memengaruhi kondisi perbankan. Kondisi ini juga menjadi pemicu yang memengaruhi lanskap perbankan pada tahun 2026.
Beberapa analis memberikan rekomendasi saham emiten perbankan untuk hari Senin (19/1), dengan melihat kinerja masing-masing bank serta strategi yang diterapkan. Berikut adalah beberapa rekomendasi yang diberikan:
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
Bank Central Asia (BCA) mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 7,6% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 944 triliun per September 2025. Pertumbuhan tersebut didukung oleh ekspansi kredit berkualitas dan terjaganya likuiditas perseroan. Total dana pihak ketiga (DPK) naik 7,0% yoy, dengan CASA sebagai pendanaan inti BCA. Laba bersih BCA dan entitas anak tumbuh 5,7% yoy menjadi Rp 43,4 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Selain itu, BCA berkomitmen mendukung penerapan teknologi QRIS Cross Border di berbagai negara. Fitur ini kini bisa digunakan di sejumlah negara seperti Jepang melalui aplikasi myBCA. Kehadiran fitur dan layanan baru menunjukkan komitmen BCA dalam inovasi serta memperluas cakupan produk dan layanan sesuai kebutuhan nasabah.
Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 10.000
Analisis oleh: David Kurniawan, Indo Premier Sekuritas
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
BRI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 41,2 triliun per kuartal III – 2025. Sebagai bank dengan fokus pada ekonomi kerakyatan, BRI terus memperkuat perannya dalam mendukung pelaksanaan berbagai program strategis pemerintah. Hingga September 2025, BRI telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 130,2 triliun kepada 2,8 juta debitur, setara 74,4% dari total alokasi Rp 175 triliun.
Strategi BRI terfokus pada dua pilar utama, yaitu transformasi bisnis funding dan penguatan core business yang berkelanjutan. Selain itu, BRI juga mengembangkan “Second Engines of Growth” melalui penguatan segmen konsumer dan pengembangan layanan bullion atau bank emas.
Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 5.000
Analisis oleh: Budi Rustanto, OCBC Sekuritas
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
Bank Mandiri membukukan laba bank only pada November sebesar Rp 44,15 triliun. Secara bulanan atau Month on Month (MoM), laba bersih bank only ini tumbuh 28,7%. Namun, jika dibandingkan tahun lalu atau year on year (YoY), capaian ini turun 6,41%.
Fokus BMRI tetap pada kualitas pendanaan dan pengelolaan likuiditas yang prudent. Bank ini menyiapkan basis pertumbuhan yang sehat melalui penguatan strategi bisnis dan digitalisasi, serta menjaga likuiditas, kualitas aset, dan permodalan pada level yang memadai. Per November 2025, Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit sebesar 13,1% yoy menjadi Rp 1.452 triliun.
Rekomendasi: Hold
Target harga: Rp 5.300
Analisis oleh: James Stanley Widjadja, Henan Putihrai Sekuritas dalam risetnya pada 5 Januari 2026
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)
BNI membukukan laba bersih sebesar Rp 15,12 triliun hingga akhir September 2025. Total penyaluran kredit BNI tumbuh 10,5% yoy menjadi Rp 812,2 triliun. Pertumbuhan ini merata di seluruh segmen bisnis, mencerminkan portofolio kredit yang sehat dan berimbang.
Strategi penguatan kualitas portofolio dan efisiensi pendanaan yang disiplin dilakukan untuk tetap adaptif dalam menghadapi volatilitas, sambil terus mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Penguatan fundamental, efisiensi pendanaan, serta transformasi digital menjadi pilar utama ketahanan dan pertumbuhan berkelanjutan perseroan.
Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 4.700
Analisis oleh: Victor Stefano, BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya pada 13 Januari 2026
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar