CEO Danantara Buka Peluang Sektor Investasi 2026

CEO Danantara Buka Peluang Sektor Investasi 2026

Sektor yang Berpotensi Mendorong Investasi pada Tahun Ini

Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara, Rosan P Roeslani, mengungkapkan sejumlah sektor yang dianggap mampu mendorong investasi pada tahun ini. Pemerintah menetapkan target investasi sebesar Rp 2.175 triliun pada 2026. Sejumlah sektor yang dinilai memiliki potensi besar antara lain sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran, energi baru terbarukan, serta pengelolaan sampah untuk energi listrik.

Program Pemerintah yang Mendukung Bisnis di Sektor Perumahan dan Kawasan Industri

Rosan menjelaskan bahwa ada dua program utama yang mendukung bisnis di sektor perumahan dan kawasan industri, yaitu kawasan industri digital dan program tiga juta rumah. Kedua program ini diharapkan dapat meningkatkan realisasi investasi secara signifikan, bahkan mungkin menggeser sektor-sektor lain.

Kementerian Investasi mencatat bahwa nilai investasi di sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran mencapai Rp 140,4 triliun pada tahun lalu. Angka ini naik 14,24% dibandingkan realisasi 2024 senilai Rp 122,9 triliun.

Berdasarkan data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat, total rumah bersubsidi yang terjual pada tahun lalu sekitar 278.900 unit. Angka ini lebih rendah dari kuota 350 ribu unit. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa penjualan rumah secara keseluruhan pada Januari - September 2025 tumbuh negatif 1,29%. Kontraksi ini didorong oleh lemahnya penjualan rumah ukuran sedang dan ukuran besar.

Kawasan Ekonomi Khusus Nongsa sebagai Pemicu Investasi

Rosan menambahkan bahwa sektor perumahan dan kawasan industri juga akan ditopang oleh Kawasan Ekonomi Khusus Nongsa. Kawasan ini dinilai akan memicu realisasi investasi dalam proyek pusat data atau data center berukuran besar.

"Investor data center hyperscale sejauh ini sudah melirik Malaysia dan Thailand. Namun mereka sekarang mulai berbicara dengan Indonesia. Kami melihat data center akan menjadi investasi yang signifikan pada tahun ini," katanya.

Potensi Sektor Energi Baru Terbarukan

Sektor energi baru terbarukan juga dinilai sangat potensial pada 2026, karena minat pembangunan pembangkit listrik hijau di dalam negeri cukup besar. PT Perusahaan Listrik Negara mencanangkan bahwa 76% sumber listrik harus berasal dari energi hijau pada 2034.

Target tersebut didukung oleh rendahnya kapasitas terpasang pembangkit listrik berbasis energi hijau, yakni sekitar 15 gigawatt. Pada saat yang sama, potensi energi hijau mencapai 3.700 gigawatt.

Salah satu sumber energi yang paling dilirik investor saat ini adalah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau PLTSa. Rosan menilai hal ini didorong oleh keterlibatan Daya Anagata Nusantara dalam proses tender proyek.

"Pembangunan PLTSa akan jadi salah satu kontributor realisasi investasi yang baik. Sebab, kami benar-benar melihat dampak keberlanjutan proyek-proyek PLTSa tersebut," ujarnya.

Penyebaran Potensi Energi Baru Terbarukan di Indonesia

Rosan memperinci bahwa potensi energi baru terbarukan di Indonesia tersebar di berbagai sumber, seperti tenaga surya, hidro, dan panas bumi (geothermal). Untuk geothermal, ia menilai minat investor cukup kuat, terutama dari Jepang. Namun demikian, pemerintah masih perlu melakukan pembenahan, khususnya dalam aspek perizinan.

Sebagai contoh, Rosan menyebut adanya investasi geothermal dari Jepang yang memiliki nilai penanaman modal sekitar US$ 900 juta yang akan dilakukan pembangunan pada tahun ini.

Sektor Waste to Energy sebagai Bagian Penting

Sektor lain yang tak kalah penting, kata Rosan, yakni waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi listrik. Rosan mengatakan, proses tender proyek-proyek waste to energy sudah mulai berjalan dan mendapat respons baik dari investor.

Komitmen Pemerintah dalam Investasi Berkelanjutan

Rosan menegaskan bahwa pemerintah akan memastikan investasi yang masuk benar-benar memperhatikan aspek keberlanjutan. Dengan demikian, investasi tidak hanya memberikan manfaat ekonomi saat ini, tetapi juga membawa dampak positif bagi lingkungan, teknologi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia ke depan.

“Kami selalu mencoba untuk investasi yang masuk ini, supaya standard-nya itu makin meningkat, world class standard baik secara operasionalnya, baik secara teknologinya, sehingga sumber daya manusia kita juga terus meningkat,” kata Rosan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan