
PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) memberikan tanggapan terkait perjanjian tarif resiprokal antara Indonesia dengan Amerika Serikat (AS). Dalam perjanjian tersebut, tarif juga berlaku untuk komoditas minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) dan turunannya.
Indonesia telah menyepakati pemberlakuan tarif dagang dengan AS sebesar 19% pada Jumat (20/2/2026). Kesepakatan ini mencakup produk-produk unggulan Indonesia, termasuk minyak kelapa sawit yang akan masuk ke pasar AS. Perjanjian ini seharusnya berlaku 90 hari setelah kedua negara memberikan keterangan tertulis terkait prosedur hukum masing-masing negara.
Namun, Mahkamah Agung AS kemudian mengumumkan pembatalan tarif dagang Presiden Donald Trump karena dianggap tidak sah. Ketidakpastian pun meningkat lantaran Trump tidak terima dan menetapkan tarif global sebesar 15%, naik dari sebelumnya 10%. Bea masuk baru ini disebut resmi berlaku pada Selasa (24/2/2026) waktu setempat.
Head of Investor Relation SGRO, Stefanus Darmagiri mengatakan, adanya ketidakpastian terhadap tarif Trump tidak berdampak langsung terhadap operasional dan kinerja SGRO. “Seluruh penjualan minyak kelapa sawit perseroan difokuskan kepada pasar domestik,” ujarnya kepada aiotrade, Kamis (26/2/2026).
Adapun langkah yang dapat dilakukan perseroan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas ke depannya adalah tetap fokus pada program-program peningkatan produktivitas kelapa sawit. Beberapa program yang dilakukan antara lain intensifikasi, mekanisasi, perbaikan infrastruktur dan digitalisasi, serta melakukan efisiensi untuk dapat meningkatkan kinerja operasional dan keuangan.
“Adanya potensi impor barang substitusi CPO dari Amerika dapat berdampak terhadap daya saing produk-produk CPO Indonesia,” ungkapnya.
Dalam perkembangan terbaru, SGRO menargetkan produksi minyak kelapa sawit (CPO) dan tandan buah segar (TBS) bisa tumbuh hingga 3-5% di tahun 2026. Selain itu, pertumbuhan penjualan di tahun 2026 juga ditargetkan tidak jauh berbeda dengan pertumbuhan produksi, yaitu sekitar 3% dan ditambah berapa marjin persediaan SGRO.
Strategi Peningkatan Produksi dan Produktivitas
Untuk mendukung target pertumbuhan tersebut, SGRO memprioritaskan beberapa strategi utama:
-
Intensifikasi
Perseroan fokus pada peningkatan hasil per hektar melalui penggunaan teknologi dan metode pertanian modern. -
Mekanisasi
Penerapan mesin dan alat bantu dalam proses produksi untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual. -
Perbaikan Infrastruktur
Pembangunan dan pemeliharaan jalur transportasi, gudang penyimpanan, dan fasilitas produksi agar lebih efektif dan efisien. -
Digitalisasi
Penggunaan sistem digital dalam manajemen data, monitoring produksi, dan distribusi untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan operasional. -
Efisiensi Operasional dan Keuangan
Penyesuaian anggaran, pengurangan biaya operasional, serta optimisasi sumber daya untuk meningkatkan profitabilitas.
Tantangan dan Peluang Pasar
Meskipun ada tantangan dari kebijakan tarif yang tidak stabil, SGRO tetap optimis dengan strategi yang diterapkan. Perseroan percaya bahwa fokus pada pasar domestik dan peningkatan produktivitas akan membantu menjaga daya saing produk CPO Indonesia.
Selain itu, SGRO juga berkomitmen untuk terus memperkuat hubungan dengan mitra bisnis dan pemerintah guna memastikan stabilitas pasokan dan permintaan.
Dengan strategi yang terencana dan fleksibel, SGRO siap menghadapi dinamika pasar global sambil tetap menjaga kualitas dan kuantitas produksi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar