Dampak Pestisida Cisadane Masih Dikaji, KLH Siap Ajukan Gugatan

Penyebab Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane

Sungai Cisadane, yang menjadi sumber air penting bagi masyarakat Tangerang dan sekitarnya, masih dalam proses penelitian mengenai dampak cemaran pestisida. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memahami kondisi sungai tersebut secara lebih jelas.

Menurut Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, pengujian cemaran pestisida membutuhkan waktu lama karena laboratorium yang menangani hal ini berada di bawah pengawasan Kementerian Pertanian. Ia menjelaskan bahwa pihaknya akan segera menanyakan apakah hasil uji sudah keluar, jika iya maka akan dimasukkan ke dalam model pemodelan yang sedang dikembangkan.

Insiden pencemaran pestisida di Sungai Cisadane terjadi setelah kebakaran gudang PT Biotek Saranatama pada Senin (9/2). Kebakaran tersebut menyebabkan 20 ton bahan pestisida ikut terbakar. Gudang yang terletak di Kawasan Pergudangan Taman Tekno BSD Serpong, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, menyimpan pestisida jenis cypermetrin dan profenofos, yang biasa digunakan untuk mengendalikan hama tanaman.

Berdasarkan peninjauan oleh KLH sebelumnya, cemaran pestisida telah menyebar hingga sekitar 22,5 kilometer. Area yang terdampak meliputi Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang. Berbagai biota akuatik juga terkena dampaknya, seperti kematian ikan mas, ikan baung, ikan patin, ikan nila, dan ikan sapu-sapu.

Untuk mengetahui lebih lanjut, KLH melakukan pengambilan sampel air di hulu dan hilir Sungai Cisadane serta mengumpulkan sampel ikan mati dan biota lainnya untuk uji laboratorium. Proses pemeriksaan melibatkan ahli toksikologi. Hanif juga memastikan akan menindaklanjuti insiden ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Kami akan melakukan gugatan perdata pada kasus Cisadane maupun PT Vopak yang (menyebabkan insiden) gas oranye di Cilegon,” kata Hanif. Dengan langkah-langkah ini, KLH berharap dapat memberikan solusi yang efektif dan menjaga kelestarian ekosistem Sungai Cisadane.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan