
Penanganan Kasus Pelanggaran Disiplin Pelda Christian Namo oleh Danrem 161/Wira Sakti Kupang
Brigjen TNI Hendro Cahyono, yang menjabat sebagai Danrem 161/Wira Sakti Kupang sejak Agustus 2025, kini menjadi sorotan publik terkait penanganan kasus pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh Pelda Christian Namo. Ayah dari Prada Lucky Namo yang tewas dianiaya oleh seniornya di Yonif TP 834 Waka Nga Mere, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini tengah menghadapi proses hukum militer.
Hendro menjelaskan bahwa Pelda Christian diduga melanggar aturan militer karena hidup bersama seorang wanita tanpa ikatan pernikahan sah. Hal ini berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI Nomor 398/VII/2009 dan Keputusan Kasad Nomor Kep/330/IV/2018, yang secara eksplisit melarang prajurit melakukan hubungan suami istri di luar pernikahan yang sah.
“Yang bersangkutan diketahui telah hidup bersama dengan seorang wanita tanpa ikatan pernikahan yang sah, baik secara kedinasan maupun agama, sejak tahun 2018 hingga saat ini, dan telah memiliki dua orang anak,” jelas Brigjen TNI Hendro Cahyono. Ia menegaskan bahwa setiap pelanggaran akan ditindak tegas sesuai ketentuan hukum militer.
Hendro juga membantah tudingan bahwa Pelda Christian tidak mendapat informasi terkait proses hukum kasus kematian putranya. Ia menegaskan bahwa proses hukum terhadap Pelda Christian kini berjalan transparan di Pengadilan Militer III Kupang, dan pihak Korem tidak bisa mengintervensi.
“Berkas dari penyidik sudah disampaikan ke oditur militer. Sebagai pimpinan wilayah saya menekankan kepada seluruh komandan agar selalu memberikan jam komandan kepada satuannya agar hal ini tidak terjadi lagi,” ujarnya.
Peran Danrem dalam Menegakkan Disiplin Prajurit
Sebagai Danrem, Hendro bertanggung jawab untuk menegakkan disiplin prajurit dan memastikan prosedur hukum berjalan sesuai ketentuan. Ia juga menegaskan bahwa TNI AD berkomitmen untuk menegakkan disiplin dan hukum tanpa pandang bulu.
Selain itu, Hendro mengimbau kepada prajurit agar tetap memegang teguh disiplin keprajuritan. Ia juga meminta media massa untuk lebih selektif dalam memberitakan terkait kasus tersebut agar tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap proses hukum yang sedang berjalan.
“Saya memohon kepada media agar lebih selektif dalam pemberitaan sehingga tidak menimbulkan perspektif negatif terhadap proses hukum yang sedang berjalan di Pengadilan Militer III Kupang,” ujarnya.
Bantahan dari Pelda Christian Namo
Ditemui terpisah, ayah almarhum Prada Lucky Namo, Pelda Christian Namo, menegaskan dirinya tidak pernah berniat melanggar aturan militer saat menyuarakan kritik terkait penanganan kasus kematian anaknya. Ia menyampaikan hal tersebut merespons laporan bahwa dirinya dianggap melanggar disiplin prajurit usai berbicara di media.
Christian mengatakan bahwa sejak awal kematian Prada Lucky, ia sebagai keluarga korban tidak pernah menerima pemberitahuan resmi dari satuan terkait informasi putranya. “Sejak awal kematian anak saya, saya tidak pernah menerima surat atau pemberitahuan resmi. Tidak ada satu pun yang datang sebagai perwakilan dari satuan untuk menjelaskan kepada kami sebagai keluarga korban,” ujarnya.
Ia juga membantah pernyataan yang menyebut dirinya tidak percaya terhadap pengadilan militer. “Saya tidak pernah bilang tidak percaya pengadilan militer. Saya bilang saya kecewa. Jangan salahkan saya. Saya bicara sesuai fakta. Kalau dibilang saya tidak percaya, saya bisa buktikan perkataan saya. Saya bisa gugat balik,” ujar Christian.
Christian menegaskan bahwa apa yang ia lakukan bukan bentuk pembangkangan terhadap institusi TNI, melainkan upaya mencari keadilan untuk anaknya. “Saya anggota TNI. Saya tidak melawan TNI. Saya melawan ketidakadilan. Saya cari kebenaran untuk anak saya. Saya bertanggung jawab atas ucapan saya. Jangan membuat pembenaran sendiri,” ungkapnya.
Proses Hukum yang Sedang Berjalan
Kasus Pelda Christian Namo kini telah ditangani dan berada dalam proses penyelidikan di Denpom IX/1 Kupang untuk memastikan semua prosedur hukum berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Hendro menegaskan bahwa TNI AD berkomitmen untuk menegakkan disiplin dan hukum tanpa pandang bulu.
Ia juga menyatakan terus memantau jalannya persidangan dan penegakan hukum dilaksanakan sesuai aturan. “Jadi tidak benar kalau ada bilang, ayahandanya, Pelda Christian tidak mendapat informasi. Yang bersangkutan juga sudah saya panggil bahwa sekarang prosesnya ada di oditur militer, peradilan militer,” ujarnya.
Pelda Christian menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmennya untuk mengawal proses hukum hingga tuntas. “Saya sudah kehilangan anak saya. Saya akan konsisten mencari keadilan. Jangan main-main dengan hukum. Saya terima konsekuensi dari semua yang saya katakan,” ujar ayah Prada Lucky.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar