
Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) Membawa Perubahan Signifikan di Jawa Tengah
Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) yang diinisiasi oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin telah menunjukkan dampak nyata di berbagai wilayah. Program ini berhasil menurunkan angka kematian ibu (AKI) serta mempercepat penanganan kasus tuberkulosis (TBC). Berikut adalah beberapa poin penting terkait pelaksanaan dan hasil dari program ini.
Implementasi Program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, menjelaskan bahwa Speling merupakan implementasi dari program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Program tersebut memberikan layanan cek kesehatan gratis (CKG) kepada masyarakat. Pemprov Jateng mengintegrasikan layanan Speling dengan CKG, dengan keunggulan utama yaitu hadirnya dokter spesialis langsung ke masyarakat.
Hasilnya, program ini mencatat kemajuan nyata, termasuk penurunan AKI dan penanganan kasus TBC yang lebih cepat. Data menunjukkan bahwa jumlah AKI pada September 2025 tercatat sebanyak 245 kasus, turun 75 kasus dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 320 kasus.
Upaya Menekan Angka Kematian Ibu
Upaya untuk menekan AKI terus dilakukan, salah satunya dengan pemeriksaan kehamilan secara rutin melalui USG sebanyak dua kali dan minimal enam kali kunjungan ke dokter selama masa kehamilan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi kehamilan berisiko tinggi sejak dini. Jika ditemukan potensi risiko, pasien akan dirujuk ke fasilitas layanan lanjutan seperti rumah sakit PONEK atau Puskesmas PONED.
Penanganan Kasus TBC yang Lebih Efektif
Untuk penanganan TBC, fokus utama program bukan hanya pada penurunan angka kasus, tetapi juga pada peningkatan penemuan dan kesembuhan pasien. Target kesembuhan harus mencapai 90 persen dari kasus yang ditemukan. Hingga saat ini, angka kesembuhan sudah mencapai 86 persen.
Pemprov Jateng menargetkan menemukan 107 ribu kasus TBC pada tahun ini. Hingga Oktober 2025, 61 persen kasus sudah ditemukan melalui pemeriksaan aktif di lapangan. Setiap pasien TBC harus ditelusuri minimal delapan kontak erat untuk memastikan penularannya cepat dihentikan.
Program Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT)
Keluarga pasien juga mendapat pengobatan pencegahan melalui program Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), yang dilaksanakan oleh Puskesmas. Keluarga yang kontak erat dengan pasien TBC diberi obat pencegahan. Obat tersebut diberikan oleh Puskesmas agar bisa diminum.
Jangkauan dan Sinergi Antar Stakeholder
Sejak dimulai, program Speling telah menjangkau 582 desa dari total 1.278 desa yang ditargetkan. Jumlah warga yang telah mendapat manfaat mencapai 63.600 orang, belum termasuk 9,2 juta jiwa yang telah mengikuti program cek kesehatan gratis.
Sinergi antara pemprov, rumah sakit, dan pemerintah kabupaten/kota menjadi kunci keberhasilan program ini. Gubernur Jateng juga mendorong semua pihak untuk bersinergi dalam pelaksanaan program ini.
Pengalaman Warga dan Dokter
Dokter umum Brianita Rizki yang bertugas di poli paru Balai Desa Wonoharjo mengatakan telah memeriksa 16 pasien. Alhamdulillah sebagian besar hasilnya aman, tapi satu pasien positif TBC. Bila terdeteksi positif, pasien akan langsung diobati sesuai protokol, baik di Puskesmas maupun dirujuk ke rumah sakit.
Warga Wonoharjo, Sunarti, merasa terbantu dengan pemeriksaan gratis yang ia terima. Ia memanfaatkan layanan untuk memeriksa kemungkinan terkena TBC. “Tadi dirontgen, ketemu dokter spesialis langsung. Senang banget, apalagi gratis,” ungkapnya.
Maryati, warga lainnya, mengatakan biaya berobat secara mandiri cukup tinggi. “Kalau berobat sendiri mahal. Program ini sangat membantu, semoga terus berlanjut. Terima kasih Pak Gubernur,” katanya.
Layanan Speling juga menyasar ibu hamil dengan pemeriksaan langsung ke rumah warga. Salah satunya, Sunarni, yang kandungannya diperiksa di rumah oleh tim medis. “Terima kasih Pak Gubernur, program ini sangat membantu,” ucapnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar