
Dewi Niki Annisa (30) berhasil menurunkan berat badan sebanyak 17 kg dalam waktu satu tahun tanpa harus menjalani diet ekstrem. Awalnya, ia memiliki berat badan 75 kg dan kini telah mencapai 58 kg. Proses ini bukanlah hal mudah, namun dengan konsistensi dan kesadaran akan gaya hidup sehat, ia mampu meraih hasil yang memuaskan.
Kunci Sukses Diet
Menurut Dewi, kunci sukses dari perjalanan dietnya bukan hanya sekadar angka di timbangan, tetapi juga konsistensi, olahraga rutin, pola makan seimbang, serta pemahaman mendalam terhadap tubuh sendiri. Ia mengungkapkan bahwa awalnya, tubuhnya mengalami ketidaknyamanan seperti mudah lelah, susah menemukan baju yang cocok, dan tingkat rasa percaya diri yang rendah.
Perubahan yang terjadi tidak hanya terlihat pada fisik, tetapi juga pada psikologisnya. Dewi merasa lebih segar, stabil secara emosional, dan lebih sadar akan kebutuhan tubuhnya.
Diet Sehat yang Menyenangkan
Awal perjalanan diet Dewi dimulai dengan intermittent fasting (IF) yang dikombinasikan dengan olahraga ringan seperti jalan kaki dan senam. Seiring waktu, ia mulai menambahkan latihan beban, muaythai, tenis, dan lari. Pola makan yang diterapkannya pun seimbang, termasuk karbohidrat dari nasi merah, protein tanpa digoreng, dan sayuran yang bisa dikukus, ditumis, atau dimakan mentah.
Ia juga memperhatikan jam makan saat IF, misalnya makan pukul 12 siang dan berhenti makan pukul 7 malam. Dengan konsistensi dan kondisi defisit kalori, ia mampu menjaga pola makannya tetap sehat.
Menyesuaikan Diet dengan Fase Menstruasi
Dewi juga menyesuaikan dietnya dengan fase menstruasi. Di masa menjelang menstruasi hingga saat menstruasi, ia mulai mengurangi IF agar bisa memenuhi kebutuhan nutrisinya. Ia menyatakan bahwa selama fase tersebut, ia menerapkan IF yang lebih ringan atau bahkan tidak melakukan IF sama sekali, cukup dengan fokus pada makanan bernutrisi.
Tantangan dalam Perjalanan Diet
Meskipun berhasil menurunkan berat badan, Dewi mengakui adanya tantangan besar yang harus dihadapi, terutama stres dan keinginan untuk makan. Ia mengungkapkan bahwa jika belum banyak belajar, seringkali stres muncul, terutama ketika ada makanan yang ingin dimakan, tapi tidak boleh. Hal ini membuatnya merasa frustrasi.
Untuk mengatasinya, Dewi belajar mengenali tubuh dan kebutuhan kalori harian, sehingga bisa menuruti keinginan sesekali tanpa berlebihan. Fase luteal menjelang menstruasi menjadi momen yang menantang karena craving meningkat. Ia menekankan pentingnya fleksibilitas, yaitu boleh menuruti keinginan asalkan tetap dalam batas kalori harian.
Manfaat Diet Tak Sekadar Berat Badan Turun
Perubahan yang dialami Dewi tidak hanya terlihat dari penurunan angka di timbangan. Ia merasakan perbedaan signifikan dalam kesehatan fisik dan mental. Ia menyebutkan bahwa sebelum diet, bangun tidur rasanya tidak nyaman, capek, dan mood berantakan. Setelah menjalani diet, ia merasa lebih enteng, hormon lebih stabil, dan menstruasi tepat waktu.
Konsep mindful eating membantunya lebih sadar terhadap makanan yang dikonsumsi, tidak mudah kalap, dan membantu menjaga berat badan tetap stabil.
Menjaga Konsistensi Gaya Hidup Sehat
Untuk mempertahankan hasil, Dewi tetap konsisten menjalani pola makan sehat dan olahraga rutin. Ia mengatakan bahwa makanan tetap sehat, kurangi tepung dan minyak, tapi semua bisa dinikmati. Olahraga minimal seminggu sekali menjadi prioritas.
Ia juga menekankan bahwa jangan terlalu mengekang diri dengan larangan berlebihan. Jika terlalu banyak larangan, keinginan justru makin kuat. Nikmati prosesnya, pelan-pelan, sambil belajar.
Pesan Penting dari Dewi
Dewi menambahkan bahwa penting untuk tidak hanya ikut-ikutan diet, tetapi memahami tubuh sendiri, menghargai setiap progres, dan menyeimbangkan kesehatan fisik dan mental. Ia menegaskan bahwa jangan hanya fokus pada angka di timbangan. Belajar, pahami tubuh, dan nikmati prosesnya. Hargai setiap progres, sekecil apa pun.
Perjalanan Dewi Niki membuktikan bahwa penurunan berat badan yang sehat adalah tentang memahami tubuh, menikmati proses, dan menjaga keseimbangan fisik serta mental. Konsistensi dan kesadaran akan gaya hidup sehat menjadi kunci agar perubahan ini bertahan lama.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar