Emas, Perak, dan Platinum Pecahkan Rekor, Saham Tutup Tahun 2025 di Puncak Keuntungan


Pasar logam mulia mengalami penurunan kecil pada hari Rabu (31/12/2025), setelah investor memanfaatkan momentum untuk merealisasikan keuntungan besar sepanjang tahun. Harga emas, perak, dan platinum mencatat kenaikan yang luar biasa di tahun 2025, sementara pasar saham menutup tahun dengan kinerja terbaik sejak sebelum pandemi COVID-19.

Pergerakan pasar pada akhir tahun ini berjalan relatif stabil, setelah 12 bulan penuh gejolak geopolitik, pelemahan tajam dolar AS, ketidakpastian pasar obligasi, serta euforia saham terkait kecerdasan buatan (AI). Namun, logam mulia mengalami aksi ambil untung yang cukup signifikan. Harga perak di London merosot hampir 6% setelah melonjak sekitar 150% sepanjang tahun. Emas, yang mencatatkan tahun terbaik sejak krisis minyak 1979, turun sekitar 1%, sementara platinum jatuh 8% dari rekor kenaikannya sebesar 120% di 2025.

Di sisi lain, pasar saham Eropa relatif datar, tetap berada di dekat level tertinggi sepanjang masa. Meskipun penuh tantangan, sektor perbankan dan senjata justru melampaui kinerja "Mag 7", tujuh perusahaan raksasa AS yang menjadi tolok ukur pasar global. Indeks MSCI global juga datar setelah mencatat reli senilai 15 triliun dolar AS sepanjang tahun. Investor masih mencermati notulen rapat Federal Reserve (The Fed) Desember yang menyoroti perbedaan pendapat antara pembuat kebijakan soal suku bunga AS.

Secara keseluruhan, indeks ini diproyeksikan naik sekitar 21% sepanjang tahun, kenaikan terbesar sejak 2019, didorong oleh saham produsen chip dan booming-nya saham terkait AI. Kyle Rodda, analis senior di Capital.com, mengatakan: “Meski ada beberapa kejutan kecil, tahun ini luar biasa untuk hasil investasi. Keuntungannya memang terpusat pada beberapa sektor, tapi kombinasi booming AI dan kebijakan moneter serta fiskal yang longgar mendorong aset berisiko ke level tertinggi.”

Di pasar valuta, dolar AS menguat tipis menjelang akhir tahun, namun secara keseluruhan mengalami penurunan 9,4% sepanjang 2025 — penurunan terbesar sejak 2017. Hal ini membuat euro dan sebagian besar mata uang lain mencatatkan keuntungan signifikan, kecuali yen.

Tahun depan, perhatian investor akan tetap tertuju pada langkah The Fed terkait suku bunga. Notulen rapat Desember mengungkap dukungan mayoritas peserta rapat untuk pemotongan suku bunga, dengan beberapa pihak menilai kebijakan ini penting untuk menstabilkan pasar tenaga kerja setelah perlambatan penciptaan lapangan kerja baru.

Di pasar obligasi, sebagian besar pasar obligasi zona euro tutup pada Rabu. Obligasi pemerintah Inggris (gilts) 10 tahun berada di level 4,5%, sementara obligasi AS (Treasuries) sedikit di bawah 4,12%, turun 45 basis poin sepanjang tahun.

Di sisi komoditas, harga minyak Brent bergerak sekitar 61 dolar AS per barel, menutup tahun dengan penurunan lebih dari 17%. Ini menjadi tahun ketiga berturut-turut harga minyak turun, terdorong oleh pasokan berlebih, tarif perdagangan, dan spekulasi terkait sanksi AS terhadap produsen seperti Rusia dan Venezuela.

Dengan catatan tersebut, investor menutup tahun 2025 dengan portofolio yang beragam: logam mulia untuk keuntungan spektakuler, saham teknologi untuk rally AI, dan minyak yang tetap menjadi tantangan global.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan