
Proyeksi Sektor Konsumer Indonesia Tahun 2026
Sektor konsumer di Indonesia diperkirakan tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif sepanjang tahun 2026. Hal ini didorong oleh beberapa faktor utama, termasuk kenaikan upah minimum nasional dan kebijakan fiskal pemerintah yang cenderung ekspansif.
BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan pandangan optimis terhadap sektor ini dengan mengharapkan pertumbuhan laba per saham (EPS) sebesar 8,6% secara tahunan. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Christy Halim, menjelaskan bahwa peningkatan upah minimum nasional rata-rata sebesar 5,7% untuk tahun fiskal 2026 menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat.
Meskipun angka kenaikan ini sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya yang mencapai 6,5%, penyesuaian tersebut dinilai masih mampu memberikan dukungan tambahan terhadap total konsumsi domestik dan menjaga stabilitas sektor konsumer secara keseluruhan.
“Selain itu, kami tetap meyakini bahwa kebijakan fiskal yang lebih ekspansif pada tahun ini akan secara bertahap menopang konsumsi,” ujar Christy dalam riset terbaru yang dirilis.
Pada tahun ini, selain program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerintah telah menaikkan alokasi anggaran perlindungan sosial sebesar 8,6% menjadi Rp508,2 triliun. Angka ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam mendukung belanja rumah tangga.
Selain itu, fleksibilitas dalam realokasi anggaran serta perluasan insentif Pajak Penghasilan Ditanggung Pemerintah (PPh DTP) ke sektor pariwisata diharapkan memberikan stimulus tambahan bagi perekonomian masyarakat.
Pertumbuhan Pendapatan Sektor Konsumer
Dari sisi fundamental emiten, pendapatan agregat sektor konsumer diperkirakan tumbuh sebesar 5,7%. Pertumbuhan ini didorong oleh pemulihan volume penjualan serta kenaikan moderat pada harga jual rata-rata (average selling price/ASP).
Emiten dengan pangsa pasar dominan seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) dinilai memiliki kekuatan harga yang lebih tangguh untuk meneruskan kenaikan biaya input kepada konsumen. Hal ini didukung oleh membaiknya dinamika pasokan gandum, kakao, dan kopi robusta yang berpotensi memperlebar marjin laba kotor sebesar 60 basis poin.
“Kondisi tersebut diharapkan mendorong perbaikan margin secara luas, dengan margin laba kotor (gross profit margin/GPM) sektor diproyeksikan meningkat 60 basis poin dan margin operasional naik 50 basis poin,” ucap Christy.
Rekomendasi Investasi dari BRI Danareksa Sekuritas
BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan peringkat overweight untuk sektor konsumer. Saat ini, saham ICBP dianggap sebagai pilihan utama dengan target harga sebesar Rp11.500 per saham. Sementara itu, MYOR juga memiliki target harga sebesar Rp2.700 per saham.
Catatan Penting
Berita ini tidak bertujuan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar