
Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS
Pada hari Rabu (25/2/2026), nilai tukar rupiah mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat sebesar 0,17% secara harian menjadi Rp 16.800 per dolar AS. Sementara itu, menurut Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga menguat sebesar 0,10% menjadi Rp 16.813 per dolar AS.
Perkembangan Suku Bunga AS
Ekspektasi terhadap suku bunga AS yang tetap tinggi turut memengaruhi perkembangan rupiah. Presiden Federal Reserve Boston, Susan Collins, menyatakan bahwa suku bunga kemungkinan akan tetap tidak berubah "untuk beberapa waktu”. Hal ini didasari oleh perbaikan di pasar tenaga kerja, meskipun risiko inflasi masih ada.
Ketua Federal Reserve Chicago, Austin Goolsbee, juga menolak ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter. Ia menilai suku bunga harus tetap tidak berubah karena inflasi masih berada di atas target 2% Fed. Raphael Bostic, ketua Federal Reserve Atlanta, sepakat dengan pendapat tersebut dan menekankan pentingnya menjaga inflasi sebagai fokus utama.
Pengaruh Rating Moody’s terhadap Rupiah
Dari dalam negeri, Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang, melihat bahwa rupiah dipengaruhi oleh pemberian rating oleh Moody's. Moody's Ratings (Moody's) telah memberikan peringkat Baa2 terhadap obligasi berdenominasi yuan offshore China dan euro yang diterbitkan pemerintah Indonesia. Obligasi ini dikeluarkan dengan mekanisme shelf registration (obligasi berkelanjutan) senilai US$ 10 miliar.
Kinerja Ekonomi Indonesia
Secara fundamental, Moody’s masih menilai Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang memadai. Dukungan dari kekayaan sumber daya alam serta struktur demografi yang relatif menguntungkan menjadi bantalan pertumbuhan jangka menengah.
Moody’s memperkirakan pertumbuhan ekonomi riil Indonesia akan bertahan di kisaran 5% dalam beberapa tahun ke depan. Selain itu, defisit fiskal tetap berada di bawah ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Prediksi Pergerakan Rupiah
Ibrahim memperkirakan bahwa rupiah pada hari Kamis (26/2/2026) akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah dengan rentang antara Rp 16.800 hingga Rp 16.830 per dolar AS. Pergerakan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal, termasuk perkembangan suku bunga AS dan kinerja perekonomian domestik.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar