GOPAN waspadai ancaman impor 580 ribu saham ayah buyut dari AS

Tanggapan terhadap Rencana Impor Ayam dari Amerika Serikat

Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, memberikan tanggapan mengenai rencana impor 580 ribu ekor ayam Grand Parent Stock (GPS) dari Amerika Serikat dalam kerangka perjanjian dagang resiprokal. Ia menilai bahwa impor GPS bukanlah hal baru bagi industri perunggasan Indonesia. Namun, ia tetap menekankan pentingnya perhitungan yang cermat agar tidak berdampak negatif pada peternak lokal.

Menurut Sugeng, dampak langsung dari impor GPS belum akan terasa secara instan. Hal ini karena GPS merupakan indukan yang akan menghasilkan parent stock (PS), yang kemudian akan berkembang menjadi final stock (FS) atau ayam broiler siap potong. Proses dari GPS hingga menjadi ayam pedaging membutuhkan waktu sekitar dua tahun.

“Nah, ini yang menjadi masalah jika perhitungannya tidak cermat. Karena nanti bisa menimbulkan kelebihan pasok jika tidak dihitung dengan benar,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia setiap tahun memang mengimpor sekitar 500 ribu hingga 800 ribu ekor GPS untuk memenuhi kebutuhan bibit di hulu industri perunggasan. Menurutnya, langkah tersebut masih dalam batas kebutuhan normal untuk penguatan industri unggas nasional.

Namun, ia tetap mengingatkan bahwa jika produksi ayam broiler melonjak tanpa perencanaan yang matang, potensi kelebihan pasok (oversupply) bisa menekan harga di tingkat peternak. Oleh karena itu, penting untuk memastikan keseimbangan antara impor dan produksi dalam negeri.

Ancaman dari Impor Karkas Ayam

Lebih jauh, Sugeng menilai ancaman yang lebih besar justru datang jika pemerintah membuka keran impor karkas atau daging ayam dari AS. Ia menilai bahwa impor karkas berpotensi memicu persaingan tidak seimbang, terutama karena tingkat efisiensi produksi dalam negeri dinilai masih kalah dibandingkan produsen besar di luar negeri.

“Yang harus dicegah saya kira impor karkas atau daging ayam dari Amerika. Kalau itu terjadi, akan berdampak pada peternak, bahkan industri unggas pada umumnya,” tegasnya.

Selain itu, industri perunggasan nasional memiliki peran penting dalam menyerap tenaga kerja. “Kalau karkas dari Amerika Serikat datang, dampaknya tidak bagus bagi industri peternakan di Indonesia. Yang paling merasakan dampaknya saya kira pelaku-pelaku kecil,” ujarnya.

Informasi tentang Perjanjian Dagang Resiprokal

Sebagai informasi, Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia–Amerika Serikat atau Agreement on Reciprocal Trade (ART), Indonesia menyetujui impor produk ayam AS dalam bentuk live poultry, yakni untuk kebutuhan Grand Parent Stock (GPS) sebanyak 580 ribu ekor (dengan estimasi nilai sekitar US$ 17-20 juta atau sekitar Rp 285,5 miliar-Rp 335,9 miliar).

Impor ini dilakukan sebagai bagian dari kerangka perjanjian dagang yang bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan perdagangan antara kedua negara. Namun, penting untuk memastikan bahwa impor ini tidak mengganggu keseimbangan pasar dalam negeri dan menjaga keberlanjutan industri peternakan lokal.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan