Grab kuasai 253,9 juta saham Superbank (SUPA)


aiotrade, JAKARTA — Grab melalui A5-DB Holdings Pte. Ltd. meningkatkan kepemilikan sahamnya di PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) dengan melakukan dua transaksi pembelian pada 24 dan 25 Februari 2026. Transaksi ini mengakibatkan peningkatan porsi hak suara perseroan dari 14,29% menjadi 15,04%.

Berdasarkan laporan kepemilikan saham yang disampaikan pada Rabu (25/2/2026), jumlah saham yang dimiliki A5-DB Holdings sebelum transaksi tercatat sebanyak 4.842.642.495 saham. Setelah transaksi, kepemilikannya bertambah menjadi 5.096.556.895 saham. Dengan demikian, terdapat penambahan sebanyak 253.914.400 saham. "Tujuan transaksi untuk investasi," tulis pengumuman tersebut pada Rabu (25/2/2026).

Pada 24 Februari 2026, A5-DB Holdings membeli 130 juta saham di harga Rp1.100 per saham dengan nilai transaksi sekitar Rp143 miliar. Sehari kemudian, investor tersebut kembali membeli 123,91 juta saham di harga Rp1.150 per saham dengan nilai sekitar Rp142,5 miliar. Secara keseluruhan, nilai pembelian dari dua transaksi tersebut mencapai kurang lebih Rp285,5 miliar.

Seluruh transaksi tersebut dilakukan dengan tujuan investasi dan tidak mengubah status A5-DB Holdings sebagai non-pengendali. Selain itu, perusahaan berkewarganegaraan asing tersebut juga menyatakan tidak berstatus sebagai pengendali dan tidak bermaksud mempertahankan pengendalian.

Saat ini, kepemilikan Superbank di bawah Grab melalui A5-DB Holdings Pte Ltd dan PT Kudo Teknologi Indonesia, lalu Grup Emtek melalui PT Elang Media Visitama. Sebagian saham SUPA juga dimiliki oleh Singtel melalui Singtel Alpha Investment Pte Ltd, KakaoBank Corp dan GXS Bank Pte. Ltd.

Sebelumnya A5-DB Holdings Pte Ltd melakukan tiga kali transaksi pembelian saham SUPA pada Februari 2026:

  • Pertama, entitas investasi yang dikendalikan oleh Grab itu memborong 158.070.000 saham SUPA pada 6 Februari 2026 pada harga Rp899 per saham. Nilai transaksi itu sebesar Rp142,1 miliar.

  • Kedua, A5-DB Holdings Pte Ltd membeli 79 juta saham SUPA seharga Rp1.100 per saham atau senilai total Rp86,9 miliar pada 18 Februari 2026.

  • Ketiga, saham SUPA diborong sebanyak 120 juta pada 23 Februari 2026 dengan harga Rp1.100 per saham atau senilai total Rp132 miliar. Dengan demikian, Grab secara tidak langsung telah memborong 357,07 juta saham Superbank. Total dana yang dikucurkan mencapai Rp361 miliar.

Kepemilikan saham Grab di Superbank menunjukkan strategi investasi yang terus berkembang. Perusahaan asal Singapura ini tampaknya memiliki rencana jangka panjang dalam memperkuat posisi di sektor perbankan Indonesia. Dengan peningkatan kepemilikan saham, Grab dapat memengaruhi kebijakan dan strategi perusahaan tanpa harus menjadi pemegang saham mayoritas.

Selain itu, transaksi-transaksi ini juga menunjukkan bahwa Grab aktif dalam memperluas portofolio investasinya. Hal ini didukung oleh fakta bahwa perusahaan telah melakukan beberapa kali pembelian saham dalam waktu singkat. Dengan adanya peningkatan signifikan dalam jumlah saham yang dimiliki, bisa jadi Grab sedang mempersiapkan langkah-langkah strategis di masa depan.

Investasi Grab di Superbank juga memberikan dampak positif bagi perusahaan. Penambahan modal dari investor besar seperti Grab dapat membantu perusahaan dalam mengembangkan bisnis dan meningkatkan daya saing di pasar. Selain itu, kolaborasi antara Grab dan Superbank bisa membuka peluang baru dalam layanan keuangan digital.

Dalam konteks industri perbankan Indonesia, peningkatan kepemilikan saham oleh perusahaan teknologi seperti Grab menunjukkan tren baru dalam dunia finansial. Perusahaan-perusahaan teknologi semakin aktif dalam memasuki sektor perbankan, baik melalui investasi langsung maupun kerja sama strategis. Hal ini mencerminkan transformasi yang sedang terjadi di sektor keuangan, di mana inovasi dan teknologi menjadi faktor utama dalam pertumbuhan dan perkembangan.

Dengan situasi ini, para pemangku kepentingan diharapkan tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di pasar. Investasi besar seperti yang dilakukan oleh Grab bisa menjadi indikator penting bagi perkembangan industri perbankan di Indonesia.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan