Grup Bakrie Kuasai 6% Saham BIPI, Jaga Proyek WTE


Perusahaan holding investasi Grup Bakrie, PT Bakrie Capital Indonesia (BCI), telah membeli saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) hingga sebanyak 3,82 miliar saham. Dalam laporan kepemilikan saham terbaru, BCI membeli saham tersebut pada harga Rp 248 pada 24 Februari 2026 dengan tujuan investasi jangka panjang. Kini, BCI menguasai sekitar 6% saham BIPI.

Selain BIPI, emiten yang dikendalikan langsung oleh BCI antara lain PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP). Perubahan kepemilikan saham ini berdampak signifikan pada kinerja pasar saham BIPI. Pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (25/2), harga saham BIPI melonjak 17,78% dan berada di level Rp 322 per unit. Kapitalisasi pasarnya pun mencapai Rp 20,51 triliun.

Dalam tiga bulan terakhir, saham BIPI mengalami peningkatan signifikan sebesar 245,65%, sementara dalam sebulan terakhir naik 38,26%. Hal ini menunjukkan adanya minat besar dari investor terhadap emiten yang bergerak di bidang migas dan infrastruktur batu bara.

BIPI juga tengah mengincar proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE) yang diluncurkan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anugrah Nusantara (Danantara). Direktur Utama Astrindo Nusantara Infrastruktur, Raymond Anthony Gerungan, menyatakan bahwa perseroan telah menggarap proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) sejak lebih dari tiga tahun lalu. Namun, perubahan kebijakan pemerintah pusat dan daerah membuat proyek tersebut perlu mengalami penyesuaian.

Saat ini, BIPI fokus mencari pendanaan setelah studi kelayakan rampung. Proyek WtE ini diperkirakan membutuhkan investasi sebesar US$ 300 juta hingga US$ 350 juta. Berdasarkan paparan publik, proyek WtE BIPI direncanakan berlokasi di Pulau Jawa, meski lokasi spesifik dan mitra strategis belum diungkapkan.

WtE adalah program nasional yang dirancang untuk mengolah sampah kota menjadi energi listrik. Proyek ini digadang-gadang sebagai solusi kedaruratan sampah sekaligus upaya mendukung ketahanan energi nasional di masa depan. Danantara akan segera mengumumkan lelang PSEL dalam waktu dekat. Tender tersebut akan dilakukan untuk empat wilayah yaitu Bogor, Denpasar, Yogyakarta, dan Bekasi.

Pada tahap awal, mitra bisnis akan diminta menyiapkan proposal atau request for proposal (RFP). Proses RFP dilakukan berdasarkan kesiapan daerah, bukan secara serentak. Syarat peluncuran RFP meliputi kesiapan lahan, jaminan pasokan sampah minimal 1.000 ton per hari, serta komitmen jelas dari pemerintah daerah.

Di fase proyek WtE, proses penilaian proposal yang sudah diajukan akan dilakukan. Penentuan pemenang BUPP PSEL menggunakan sistem penilaian berbasis formula yakni komponen teknis (50%) dan komponen finansial (50%). Aspek teknis mencakup desain, keandalan teknologi ramah lingkungan, kepatuhan lingkungan, jadwal konstruksi, dan keterlibatan mitra lokal. Sementara aspek finansial mencakup IRR proyek, struktur pembiayaan, dan kekuatan sponsor.

“Harga terendah tidak otomatis menjadi pemenang dan pemenang adalah yang memiliki skor total tertinggi,” tulis Danantara dalam laporannya.

Setelah evaluasi, Danantara akan melakukan sejumlah tahapan sebelum konstruksi dimulai. Di antaranya klarifikasi dan negosiasi terbatas, penerbitan letter of award, dan penandatanganan joint venture agreement. Lalu pembentukan ProjectCo untuk perjanjian kerjasama dengan Pemda, kontrak EPC, dan O&M hingga penandatanganan PPA dengan PLN.

Berikut perincian rencana eksekusi bertahap proyek WtE untuk 2025–2026:

  • Oktober–Desember 2025: Seleksi DPT & RFP
  • Januari 2026: Penyampaian Proposal
  • Januari–Februari 2026: Evaluasi Proposal
  • Februari 2026: Negosiasi & Penetapan Mitra
  • Maret–Mei 2026: Penutupan Hukum & Persiapan EPC
  • Maret–Juni 2026: Groundbreaking proyek secara bertahap

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan