Hanya 5 Hari Perdagangan, IHSG Terbatas di Sisa Tahun 2025

Hanya 5 Hari Perdagangan, IHSG Terbatas di Sisa Tahun 2025


JAKARTA – Menjelang akhir tahun, aktivitas di pasar saham diperkirakan akan mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh rendahnya volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diproyeksikan akan cenderung stabil. Pasalnya, hanya tersisa lima hari perdagangan yang dapat digunakan investor untuk melakukan transaksi.

Momen window dressing, yang biasanya menjadi titik puncak aktivitas investor, dinilai telah berlalu. Kini, investor lebih fokus pada aksi profit taking dan rebalancing portofolio.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menjelaskan bahwa momentum window dressing terjadi awal Desember 2025 ketika IHSG berhasil menembus level 8.700. Ia memproyeksikan aktivitas perdagangan tinggi akan terjadi pada Senin (22/12/2025). Hal ini karena dana dari transaksi baru akan masuk ke RDN T+2 pada 24 Desember 2025.

Menurut Nico, pada minggu ketiga dan keempat Desember, perdagangan tidak lagi efektif. Sebab, investor besar telah melakukan aksi ambil untung pada pekan kedua, sehingga volatilitas IHSG akan berkurang.

Bagi investor ritel, masih ada peluang untuk mencari saham-saham potensial di sisa tahun ini. Sementara itu, investor institusi lebih memilih posisi wait and see dalam melakukan rebalancing portofolio. Nico menjelaskan bahwa hal ini dilakukan karena adanya rotasi sektor yang diperkirakan akan terjadi pada 2026. Biasanya, investor institusi akan kembali masuk pada awal tahun.

Selain itu, di sisa tahun ini tidak ada lagi sentimen signifikan yang bisa memengaruhi pergerakan IHSG. Bahkan, pembagian dividen interim dari sejumlah emiten tidak akan memberikan dampak besar terhadap indeks tersebut.

Hans Kwee, Pengamat Pasar Modal & Co-Founder Pasardana, menambahkan bahwa IHSG terkoreksi karena aksi taking profit pada saham-saham konglomerasi. Namun, saham perbankan justru bergerak ke zona hijau.

Ia menyebut ada potensi dana yang berotasi dari saham konglomerasi menuju saham big cap atau blue chip. Hal ini didorong oleh katalis window dressing yang masih berlangsung hingga akhir tahun.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, juga memperhatikan secara teknikal bahwa IHSG masih berada dalam fase uptrend meskipun window dressing telah terjadi di awal Desember. Ia menjelaskan bahwa IHSG sedang dalam fase bullish consolidation. Pergerakan indeks ini akan didorong oleh pergeseran dana dari saham lapis dua dan lapis tiga ke saham keping biru.

Untuk sisa tahun ini, Nafan memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran support antara 8.655–8.506 dengan resistance di 8.666–8.706. Sementara itu, Hans memperkirakan IHSG akan menguat dengan support di 8.560–8.493 dan resistance di 8.776–8.800.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan