Harga CPO Turun Ikuti Penurunan Ekspor Malaysia


aiotrade, JAKARTA — Harga minyak sawit mengalami penurunan untuk sesi kedua berturut-turut, mencapai level terendah dalam dua pekan. Penurunan ini dipengaruhi oleh melemahnya harga minyak mentah serta penurunan ekspor dari Malaysia.

Berdasarkan data yang diperoleh, harga kontrak berjangka crude palm oil (CPO) turun di bawah 4.000 ringgit (US$986) per ton pada Jumat (2/1/2026). Sementara itu, harga minyak kedelai, yang menjadi barang substitusi utama minyak sawit di pasar bahan bakar dan pangan, juga mengalami penurunan sebesar 1,8% pada Rabu (31/12/2025).

Pelemahan harga minyak sawit terjadi karena gerak harga minyak mentah yang menutup tahun dengan penurunan terdalam sejak 2020. Hal ini disebabkan oleh berbagai risiko geopolitik dan peningkatan pasokan global. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun sebesar 0,9% pada Rabu (31/12/2025), dengan penutupan di angka US$57,42 per barel, sehingga melengkapi penurunan sekitar 20% sepanjang tahun 2025.

Menurut Gnanasekar Thiagarajan, kepala perdagangan dan strategi lindung nilai di Kaleesuwari Intercontinental, penurunan ekspor Malaysia memberikan tekanan terhadap pasar minyak sawit. Data AmSpec menunjukkan bahwa ekspor dari produsen terbesar kedua dunia tersebut turun sebesar 5% secara bulanan menjadi 1,2 juta ton pada Desember 2025.

“Pembelian pada harga murah (bargain buying) diperkirakan akan muncul di pasar minyak sawit, karena permintaan musiman menjelang perayaan dapat menopang harga di bawah 4.000 ringgit per ton,” ujar Thiagarajan, seperti dikutip dalam laporan tertentu pada Sabtu (3/1/2026).

Namun, permintaan yang meningkat menjelang Tahun Baru Imlek dan Ramadan pada Februari 2026 diperkirakan akan mendorong kenaikan harga CPO. Beberapa analis memperkirakan bahwa permintaan yang tinggi dari sektor makanan dan bahan bakar akan memberikan dukungan terhadap harga minyak sawit dalam beberapa minggu mendatang.

Beberapa faktor lain yang turut memengaruhi harga minyak sawit antara lain:

  • Perubahan iklim: Cuaca yang tidak menentu dapat memengaruhi produksi kelapa sawit di berbagai negara.
  • Kebijakan pemerintah: Kebijakan terkait impor atau ekspor minyak sawit bisa memengaruhi fluktuasi harga.
  • Perkembangan teknologi: Inovasi dalam pengolahan minyak sawit dapat memengaruhi efisiensi produksi dan harga pasar.

Selain itu, pasar minyak sawit juga sangat rentan terhadap fluktuasi harga komoditas lain yang saling terkait, seperti minyak kedelai dan minyak nabati. Pergerakan harga minyak mentah juga menjadi salah satu indikator utama bagi investor dan pelaku pasar.

Dengan situasi yang dinamis, para pemain pasar tetap mengawasi perkembangan terkini baik dari segi ekonomi maupun politik. Prediksi kenaikan harga pada akhir tahun 2026 masih menjadi harapan bagi banyak pihak, meskipun ada ketidakpastian yang harus dihadapi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan