Harga emas naik akibat risiko tarif dan geopolitik, investor pilih aset aman


Emas mengalami penguatan signifikan dalam perdagangan Rabu (25/2/2026) di New York, disebabkan oleh meningkatnya minat investor terhadap aset aman. Hal ini terjadi di tengah kekhawatiran akan dampak tarif terhadap inflasi serta ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Harga emas spot melonjak sebesar 1,1% menjadi US$ 5.202,28 per ons pada pukul 14.00 waktu setempat. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup naik sekitar 1% di level US$ 5.226,20 per ons.

Penguatan harga emas terjadi setelah AS mulai memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10% sejak Selasa. Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan kemungkinan menaikkan tarif tersebut menjadi 15%.

Dalam pidato kenegaraannya, Trump menyatakan bahwa hampir semua negara dan perusahaan ingin mempertahankan perjanjian tarif dan investasi yang ada dengan Washington. Ia juga menegaskan alasan terkait potensi serangan terhadap Iran, dengan menyatakan bahwa ia tidak akan membiarkan negara yang ia sebut sebagai pendukung terorisme terbesar di dunia memiliki senjata nuklir.

Di sisi lain, Iran dan AS dijadwalkan menggelar putaran ketiga pembicaraan nuklir pada Kamis di Jenewa.

Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, menyampaikan bahwa:
Ada dampak inflasi dari tarif dan harga minyak yang tinggi, terutama jika serangan akan segera terjadi.
Ia juga menilai bahwa ada lindung nilai oleh investor yang beralih ke emas.

Emas dikenal sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian dan sering diburu saat risiko geopolitik meningkat. Logam mulia ini juga dipandang sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, meski tidak memberikan imbal hasil.

Harga emas sempat mencetak rekor tertinggi di US$ 5.594,82 per ons pada 29 Januari 2026 dan telah naik sekitar 20% sepanjang tahun ini. Namun, Bank of America memperkirakan harga emas berpotensi melemah menjelang musim semi karena investor mulai memperlambat penambahan eksposur.

"Ketidakpastian tarif yang kembali muncul dapat membuat periode konsolidasi harga relatif singkat," tulis BofA dalam catatannya. Bank tersebut menambahkan, harga emas diperkirakan bisa mencapai US$ 6.000 per ons dalam 12 bulan ke depan.

Selain emas, harga perak spot melonjak 3,9% menjadi US$ 90,73 per ons, tertinggi dalam tiga minggu.

Sebelumnya, pada 29 Januari, perak sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 121,64 per ons. BofA mencatat harga perak berpotensi kembali menembus level US$100 per ons tahun ini.

Harga platinum spot turut melonjak 7,1% menjadi US$ 2.320,90 per ons, tertinggi sejak 29 Januari. Sementara itu, harga paladium naik 2,6% ke level US$1.814,41 per ons.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan