Harga minyak melonjak, emiten migas butuh strategi ini


Jakarta – Tren kenaikan harga minyak dunia yang terjadi di tengah ketegangan situasi geopolitik global menjadi faktor positif bagi perusahaan produsen minyak dan gas (migas), terutama di sektor hulu. Kenaikan ini memberi peluang bagi emiten-emiten migas untuk meningkatkan pendapatan dan margin.

Menurut data dari Trading Economics, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat mencapai level US$ 66,48 per barel pada 20 Februari 2026, menjadi angka tertinggi sepanjang tahun ini. Pada Jumat (27/2/2026) pagi, harga WTI berada di US$ 64,41 per barel atau turun tipis 0,01% dibandingkan hari sebelumnya. Meski begitu, dalam sebulan terakhir harga WTI masih menguat sebesar 4,92%.

Sementara itu, harga minyak Brent crude naik 0,04% menjadi US$ 70,88 per barel pada Kamis (26/2). Dalam satu bulan terakhir, Brent juga mencatatkan kenaikan sebesar 4,89%.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyatakan bahwa peningkatan harga minyak dunia sangat menguntungkan emiten hulu migas. Hal ini karena dapat meningkatkan spread dan margin perusahaan. Namun, ia menekankan bahwa peningkatan aktivitas produksi tidak langsung terjadi karena proses pengeboran membutuhkan waktu.

“Kenaikan harga ini lebih akan memicu peningkatan capital expenditure (capex) untuk perawatan sumur tua dan pengeboran sumur pengembangan,” ujarnya.

Dalam kondisi harga yang membaik, Wafi menilai emiten migas perlu fokus pada deleveraging utang dan optimalisasi produksi dari sumur yang sudah ada. Ia menilai ekspansi melalui akuisisi blok migas yang telah berproduksi saat harga minyak tinggi berisiko karena valuasinya cenderung sudah premium. Akuisisi akan lebih menarik jika menyasar blok eksplorasi dengan valuasi lebih rendah.

Selain itu, emiten juga dapat mempertimbangkan diversifikasi ke infrastruktur gas di sektor midstream. Menurut Wafi, emiten migas dengan portofolio seimbang antara minyak dan gas serta memiliki strategi lindung nilai (hedging) yang baik berpeluang mencatatkan kinerja lebih solid saat harga minyak melesat.

Namun, risiko yang perlu diperhatikan adalah perlambatan ekonomi China yang bisa menekan permintaan energi global.

Dari sisi saham, Wafi merekomendasikan investor untuk mencermati beberapa emiten, seperti:

  • PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan target harga Rp 1.700 per saham
  • PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dengan target harga Rp 4.800 per saham
  • PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan target harga Rp 1.680 per saham

Sementara itu, untuk PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), investor disarankan untuk bersikap wait and see.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan