Pengalaman Wisata yang Menghubungkan Hati dan Alam
Desa Saung Ciburial, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, menawarkan pengalaman unik bagi siapa pun yang ingin kembali merasakan ketenangan alam dan kehidupan pedesaan yang damai. Udara pegunungan yang sejuk dan hamparan hijau persawahan menjadi ciri khas desa ini. Di sini, wisatawan bisa merasakan perjalanan “back to nature” sambil menyaksikan atraksi budaya yang autentik, seperti pertunjukan adu tangkas domba Garut yang legendaris.
Perjalanan Wisata dari Rel ke Desa
Kunjungan ke Desa Saung Ciburial menjadi bagian dari rangkaian Famtrip Railwy West Java Rute 4 dengan tema “Railways Scenic Panoramic Familiarization Trip to Garut – Tasikmalaya 2025”. Program ini merupakan kerja sama antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat bersama Asita Jawa Barat. Selama empat hari, mulai 21 hingga 24 Oktober 2025, sebanyak 21 pelaku pariwisata dari berbagai daerah dan mancanegara diajak menjelajahi potensi wisata di Jawa Barat.
Pada hari kedua perjalanan, Rabu (22/10/2025), rombongan diajak berkunjung ke Desa Saung Ciburial, sebuah desa wisata yang kini menjadi ikon kebangkitan ekonomi berbasis budaya lokal di Garut.
Dulunya, desa ini dikenal sebagai Desa Sukalaksana, daerah agraris yang sederhana dan tertinggal. Kini, desa ini tumbuh menjadi destinasi wisata berkelas nasional berkat sentuhan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sukalaksana. “Dulu desa kami termasuk miskin. Tapi kami percaya, dengan mengangkat potensi alam dan budaya sendiri, bisa menjadi kekuatan ekonomi,” tutur Siti Julaeha, salah satu pengelola Desa Wisata Saung Ciburial.

Transformasi tersebut berawal dari semangat masyarakat untuk menjadikan kekayaan alam dan budaya sebagai sumber kesejahteraan. Sejak dirintis tahun 2010 dan diresmikan pada 2018, Saung Ciburial kini masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 dari Kemenparekraf.
Eduwisata dan Ekowisata Berbasis Kejarifan Lokal
Desa Saung Ciburial mengusung konsep eduwisata dan ekowisata berbasis kearifan lokal. Setiap pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan indah, tetapi juga bisa belajar langsung dari keseharian warga. Ada beragam aktivitas menarik—dari menanam sawi, menangkap ikan di sungai (ngagogo), belajar membatik, hingga membuat kerajinan tangan.
“Konsep kami adalah wisata berbasis kearifan lokal. Jadi, pengunjung bukan hanya datang untuk berfoto, tapi ikut merasakan kehidupan masyarakat, dari pertanian, peternakan, hingga UMKM,” jelas Siti.
Atraksi Adu Tangkas Domba Garut yang Mengesankan
Salah satu atraksi paling ditunggu wisatawan adalah pertunjukan adu tangkas domba Garut. Tradisi ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga warisan budaya yang telah menjadi identitas masyarakat Priangan. Domba-domba pilihan dengan tanduk melingkar dan tubuh kekar ditampilkan dalam arena hijau, diiringi musik tradisional dan sorak semangat penonton.

“Ketangkasan domba ini simbol keteguhan dan semangat masyarakat Garut. Kami ingin wisatawan memahami nilai budaya di baliknya, bukan sekadar tontonan,” ujar Siti menegaskan.
Selain atraksi domba, ada pula pertunjukan seni bela diri pencak silat dari kelompok Gajah Putih serta permainan tradisional anak-anak yang dikenal dengan Kaulinan Barudak Urang Lembur (Kabarulem), sebuah upaya melestarikan budaya masa lalu dalam kemasan yang edukatif dan menghibur.
Harmoni Alam dan Tradisi
Terletak di kaki Gunung Cikuray pada ketinggian 1.019 meter di atas permukaan laut, Desa Saung Ciburial menawarkan udara sejuk, air jernih dari mata air Ciburial, dan panorama persawahan yang menenangkan. Mata air ini menjadi sumber kehidupan warga sekaligus ikon desa Ciburial sendiri berarti “air yang memancar keluar dari tanah”.
Tak hanya itu, wisatawan juga bisa menikmati minuman khas seperti teh kewer, kopi akar wangi, hingga kuliner tradisional yang menggugah selera. Fasilitas penginapan pun beragam, dari homestay warga hingga saung-saung eksklusif dengan pemandangan alam pegunungan.

Kini, Desa Saung Ciburial bukan hanya tempat berlibur, tapi juga laboratorium hidup tentang pemberdayaan masyarakat dan pelestarian budaya. BUMDes setempat berhasil menggerakkan ekonomi dengan pendapatan desa mencapai ratusan juta rupiah per tahun, sekaligus mempertahankan keasrian alamnya.
“Bagi kami, wisata bukan hanya soal ekonomi, tapi bagaimana menjaga warisan dan lingkungan agar tetap lestari,” ungkap Siti.
Dari Rel ke Ragam Cerita: Wisata yang Menghubungkan Hati
Railways Scenic Panoramic Familiarization Trip 2025 bukan sekadar perjalanan promosi. Ia adalah upaya nyata menghubungkan kembali wilayah Jawa Barat selatan lewat rel dan cerita. Dari hamparan sawah Garut hingga jembatan baja Cirahong, dari batik hingga budaya adat, perjalanan ini menjadi bukti bahwa wisata berbasis rel bisa menjadi motor penggerak ekonomi kreatif dan kebanggaan daerah.
Dengan kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat lokal, wisata kereta api Jawa Barat kini bukan lagi kenangan masa lalu melainkan masa depan pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar