
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dalam kondisi negatif pada perdagangan akhir pekan ini. Penguatan yang sebelumnya terjadi pada hari sebelumnya kini berubah menjadi koreksi.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI, IHSG mengalami penurunan sebesar 74,64 poin atau 0,91% ke level 8.160,62 pada perdagangan Jumat (27/2/2026) pukul 09.02 WIB.
Kondisi IHSG terus tertekan oleh pelemahan mayoritas indeks sektoral. Beberapa sektor yang mengalami penurunan terdalam antara lain transportasi, energi, barang konsumen non primer, infrastruktur, barang baku, barang konsumen primer, teknologi serta properti dan real estate.
Volume perdagangan saham di BEI pagi ini mencapai 3,42 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,17 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 372 saham mengalami penurunan yang berdampak pada penurunan IHSG, sementara 130 saham menguat dan 180 saham lainnya stagnan.
Berikut adalah daftar top losers di LQ45:
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun sebesar 3,50% menjadi Rp 7.575 per saham
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun sebesar 3,01% menjadi Rp 80.500 per saham
* PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun sebesar 2,82% menjadi Rp 1.895 per saham
Sementara itu, top gainers di LQ45 antara lain:
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik sebesar 1,76% menjadi Rp 7.225 per saham
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) naik sebesar 0,87% menjadi Rp 2.330 per saham
* PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) naik sebesar 0,69% menjadi Rp 2.910 per saham
Pergerakan IHSG yang terus menurun menunjukkan ketidakpastian di pasar modal. Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal dan internal, termasuk sentimen global serta dinamika domestik. Investor perlu tetap waspada dan memantau perkembangan lebih lanjut untuk membuat keputusan investasi yang tepat.
Selain itu, volume perdagangan yang cukup tinggi menunjukkan bahwa investor masih aktif melakukan transaksi meskipun dalam kondisi negatif. Hal ini bisa menjadi indikator bahwa ada potensi pergerakan harga yang signifikan dalam waktu dekat.
Pemantauan terhadap sektor-sektor yang mengalami penurunan juga penting dilakukan. Sejumlah sektor seperti transportasi dan energi bisa menjadi fokus utama karena dampaknya terhadap kinerja perusahaan dan industri secara keseluruhan.
Investor disarankan untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan dan tetap menjaga risiko dengan diversifikasi portofolio. Selain itu, penggunaan strategi investasi yang tepat dapat membantu mengurangi tekanan dari fluktuasi pasar.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar