
Peran Strategis Grand Parent Stock dalam Industri Perunggasan
Pemerintah Indonesia menyetujui impor 580 ribu ekor ayam live poultry untuk kebutuhan Grand Parent Stock (GPS) dari Amerika Serikat (AS). Nilai impor GPS tersebut diperkirakan sekitar US$ 17-20 juta atau Rp 285,5 miliar-Rp 335,9 miliar (kurs Rp 16.800 per US$). Kesepakatan ini merupakan bagian dari Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia–Amerika Serikat atau Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Impor GPS kembali menjadi perhatian karena perannya yang strategis dalam industri perunggasan nasional. Namun, apa itu Grand Parent Stock?
Berdasarkan penjelasan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, struktur pembibitan unggas tersusun dalam piramida genetika mulai dari great grandparent stock (GGP), grand parent stock (GPS), parent stock (PS), hingga final stock (FS) atau ayam komersial.
GPS merupakan generasi indukan yang menghasilkan parent stock, yang kemudian memproduksi DOC (day-old chick) untuk dibesarkan menjadi ayam pedaging atau petelur. Dengan demikian, GPS tidak ditujukan untuk konsumsi langsung, melainkan sebagai sumber utama pembibitan dalam rantai produksi unggas nasional.
Hingga tahun 2026, Indonesia masih bergantung pada impor GPS ayam, terutama dari AS dan Prancis, untuk menjaga stabilitas pasokan bibit.
Tantangan dan Solusi dalam Pembibitan GPS
Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, mengatakan hingga kini belum ada perusahaan nasional yang mampu memproduksi GPS secara mandiri karena teknologi rekayasa genetika yang mahal. “GPS sangat dibutuhkan peternak ayam dalam negeri sebagai sumber genetik utama dan belum ada fasilitas pembibitan GPS di Indonesia,” ujar Haryo dalam keterangan tertulis.
Meski begitu, beberapa perusahaan nasional mulai aktif melakukan impor mandiri dan pembibitan lebih lanjut. Danantara, salah satu perusahaan ternama, baru-baru ini melakukan groundbreaking di Kabupaten Malang, Jawa Timur untuk pengembangan pembibitan Grand Parent Stock lewat proyek hilirisasi ayam terintegrasi yang direncanakan berlangsung di 30 provinsi.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Suganda, mengatakan rencananya pada tahap pertama akan diberdayakan 18 ribu ekor ayam GPS yang diharapkan bisa menghasilkan 130 ribu ekor DOC (Final Stock) yang akan diberdayakan oleh peternak rakyat.
Dalam implementasinya, pemerintah menugaskan BUMN pangan sebagai operator utama proyek. Pendanaan infrastruktur didukung investasi Danantara sekitar Rp 20 triliun, sementara peternak rakyat akan difasilitasi melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Jadi, ini adalah kolaborasi antara pemerintah khususnya Kementerian Pertanian dengan Danantara dan BUMN IDFOOD yang nanti sebagai offtaker dalam ekosistem hilirisasi ayam terintegrasi ini,” ujar Agung.
Pembangunan fasilitas pembibitan GPS di Kabupaten Malang dilaksanakan oleh PT Berdikari, anak perusahaan ID FOOD. Fasilitas tersebut dibangun di atas lahan seluas 5,6 hektare dengan kapasitas 18 ribu ekor GPS.
Langkah Progresif dalam Pengembangan Peternakan Ayam
Proyek ini menunjukkan langkah progresif dalam pengembangan sektor peternakan ayam di Indonesia. Dengan adanya pembibitan GPS yang lebih terencana, diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan jumlah DOC yang tersedia di pasar.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan swasta seperti Danantara memberikan peluang besar bagi peternak rakyat untuk ikut serta dalam rantai produksi yang lebih terstruktur dan efisien.
Dengan pendanaan yang cukup dan dukungan dari berbagai pihak, proyek ini diharapkan mampu menciptakan ketahanan pangan di sektor perunggasan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para peternak lokal.
Dengan adanya inisiatif ini, diharapkan Indonesia dapat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pembibitan ayam, sehingga mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan daya saing sektor perunggasan nasional.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar