Industri otomotif masa depan: Saat mobil belajar memahami manusia

Industri Otomotif Masa Depan: Saat Mobil Belajar Memahami Manusia

 

KALA udara dingin menusuk tulang, suhu hanya dua derajat Celsius, Tribunnews mendapat kesempatan langka menjajal apa yang mungkin menjadi cikal bakal fitur-fitur mobil masa depan di sebuah trek lapang yang membentang seluas 63 hektare.

Di tempat inilah, di proving ground milik Bosch di Memanbetsu, masa depan industri otomotif sedang diuji coba — hasil kerja keras ribuan jam para insinyur mereka di meja kerja dan laboratorium, di jalur uji bervariasi di ujung utara Jepang.

Bosch menyebut momen ini sebagai Mobility Driving Experience (MDeX), sebuah program eksperimental yang ingin menunjukkan satu hal revolusioner bahwa masa depan otomotif tidak lagi ditentukan oleh mesin penggerak konvensional, namun oleh perangkat lunak.

Lewat MDeX, perusahaan teknologi asal Jerman ini seolah menyatakan kalau dunia roda empat kini bukan lagi tentang siapa mobil tercepat atau paling kuat

“Hal yang penting sekarang adalah siapa yang bisa menghadirkan pengalaman berkendara paling cerdas,” kata Klier Willy, Vice President, Marketing & Business Strategy and Product Management Bosch Mobility South and East Asia.

Begitu cerdasnya, seperti penjelasan Willy, hingga seolah mobil-mobil dengan komponen berfitur masa depan ini belajar memahami apa yang diinginkan sang pengendara.

Kalau sudah begini, pertanyaan akan masuk ke level berikutnya, masihkah manusia yang mengendalikan mobil atau sebaliknya, mobil yang menyetir pengendaranya.

“Perpaduan keduanya merupakan hal ideal. Manusia sebagai pengendara punya kealpaan yang bisa dibantu oleh data digital dan kecerdasan buatan,” ujar Dominik Scholz, Business Field Strategy Lead Bosch Engineering Jepan saat menemani Willy memberi penjelasan.

Mereka juga didampingi Michael Grieb, Direktur Power Electronics Business Unit Bosch Mobility di Jepang.

Bosch Mobility adalah divisi khusus dari perusahaan yang bertanggung jawab atas pengembangan teknologi otomotif baik untuk roda dua maupun roda empat bahkan di bidang powersports, berbagai kendaraan balap.

Connected Maps Service: Mobil yang Digerakkan Data dan Cloud System

Di trek uji Memanbetsu yang dingin, sejumlah mobil uji berderet. Mulai dari VolkWagen Golf, Mercedes Benz GLE, hingga Lexus RZ siap untuk dijajal.

Semua kelengkapan mobil ini masih bawaan pabrik alias original equipment manufacturer (OEM) kecuali sejumlah komponen yang sudah ditambahkan Bosch untuk menunjukkan inovasi mereka.

Uji fitur kendaraan dimulai dari VW Golf.

Compact hatchback ini dipasangi apa yang dinamai Bosch sebagai Connected Maps Service, sebuah fitur untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan berkendara, sekaligus meningkatkan ketersediaan fungsi mengemudi otomatis.

Otomatis? Ya, ini bukan sekadar fitur map biasa, melainkan mampu membuat mobil bereaksi otonom atas berbagai kendala yang ditemui di jalanan.

Bagaimana cara kerjanya? Saat pengujian, seorang instruktur Bosch mengajak Tribunnews untuk berkeliling trek uji menggunakan mobil ini melewati sejumlah kondisi jalanan mulai dari speedbump, jalan berlubang, hingga tikungan basah yang licin.

Data-data soal kondisi jalanan ini kemudian dikumpulkan. Data ini kemudian diproses dan bahkan dibagikan ke kendaraan lain yang menggunakan sistem dari Bosch.

Saat untuk kedua kalinya melewati jalur yang sama, mobil secara otomatis mampu melambat saat tiba di jalan berlubang, tak peduli seberapa dalam sang sopir menjejakkan gasnya.

Hal lain yang Istimewa adalah, stir juga mampu mengendalikan sendiri secara otomatis saat mobil melenceng dari jalur ketika terlalu cepat melalui tikungan basah. Pengereman otomatis menambah sensasi ‘masa depan’ dari fitur ini.

“Fitur ini akan mampu memberikan peringatan bahaya sebelum situasi kritis terjadi. Juga membuat kendaraan menyesuaikan gaya mengemudinya sesuai kondisi jalanan dan cuaca,” papar Willy.

Ini artinya, sistem Connected Maps Service memungkinkan mobil untuk mengetahui lebih dulu ketimbang si pengendara faktor-faktor risiko berbahaya di jalanan seperti jenis jalan, rentang kecepatan, dan kondisi lingkungan dan cuaca untuk kemudian menyesuaikan gaya mengemudi mobil itu sendiri.

Contohnya, jika rute kendaraan melewati hujan, mobil akan menyesuaikan kecepatannya jauh sebelumnya ke tingkat yang menghilangkan risiko tergelincir bahkan memungkinkannya berhenti secara aman.

Ini terjadi berkat layanan cloud Bosch yang memungkinkan kendaraan untuk bertukar data dengan sistem cloud, kendaraan lain, infrastruktur, pusat layanan, dan penyedia layanan pengemudi.

Hebatnya, platform soal peta kondisi jalan dan cuaca ini tak melulu harus menggunakan sistem yang disediakan Bosch.

“Anda bisa menggunakan platform open source apa saja seperti misalnya Google Map. Bila ada pengendara lain yang menyebut ada lubang di titik tertentu, maka data tersebut akan diproses oleh mobil untuk kemudian bereaksi secara otomatis manakala sopir tidak menyadari akan kondisi jalan tersebut,” paparnya.

Trailer Assist and Reverse, Kamera Canggih Berpadu dengan AI

Mobil berikut yang dijajal Tribunnews adalah Mercedes Benz GLE yang dipasangi Bosch fitur Trailer Tow Assist.

Meski tak lazim di Indonesia, trailer merupakan jenis kendaraan popular di kawasan Amerika, khususnya di Amerika Utara.

Pada dasarnya fitur ini adalah bantuan presisi bagi pengemudi saat memasangkan, menarik, dan mundur mobil dengan trailer atau karavan di belakang.

Saat uji fitur, Tribunnews yang belum pernah sama sekali mengendarai mobil dengan trailer di belakang, diminta untuk memasangkan mobil utama ke trailer lalu mengendarainya secara memutar.

Instruktur dari Bosch menjelaskan, pada situasi alami, sering terjadi situasi jackknife, di mana kendaraan penarik justru berbenturan dengan trailer atau karavan saat berbelok atau parkir.

Benar saja, kurangnya pengalaman menderek dan ketidakmampuan melihat ke belakang trailer membuat proses mundur trailer cukup menegangkan!

Namun, begitu fitur ini dinyalakan, Tribunnews mendapat bantuan manuver yang secara otomatis mengarahkan trailer ke posisinya sehingga memudahkan parkir.

Lewat head unit di dashboard mobil, bantuan penarik trailer menghitung dan menampilkan jalur kemudi yang dipilih Tribunnews untuk memandu trailer ke posisinya secara mulus.

Michael Grieb menjelaskan, kunci dari fitur ini adalah kamera jarak dekat yang terletak di bagian belakang kendaraan.

Fish eye camera ini menggabungkan algoritma pemrosesan gambar klasik dengan metode kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI) untuk deteksi objek yang fleksibel, membuatnya semakin cocok untuk aplikasi mengemudi otonom.

Data yang diberikan menyebut, kamera tersebut memiliki resolusi 8 megapiksel dengan jangkauan deteksi maksimum 300 meter, sudut pandang horizontal ±60°, dan sudut pandang vertikal 54,8°.

Plus, sensor ultrasonik memfasilitasi parkir yang nyaman di ruang yang sangat kecil, kondisi jalan sempit, dan parkir otomatis/jarak jauh.

eAxle Genarasi Terbaru: Elektrifikasi Cerdas Nan Ringan, Senyap, dan Hemat Energi

Inovasi lain yang dipamerkan adalah eAxle generasi baru — penggerak listrik terintegrasi yang menggabungkan motor, girboks, dan pengontrol dalam satu unit.

Tribunnews merasakan hal ini saat menjajal Honda N-e, baik versi niaga maupun versi passenger car.

Soal ini, Dominik Scholz memberi penjelasan, eAxle generasi baru ini merupakan gabungan mulai dari inverter hingga converter konvensional menjadi satu unit komponen utama.

Dengan material semikonduktor SiC, sistem ini lebih ringan, hemat energi, dan meningkatkan jarak tempuh.

Lebih dari itu, perangkat lunak kontrolnya mampu menekan kebisingan serta memanfaatkan panas buangan untuk menghangatkan baterai — sebuah solusi cerdas di musim dingin ekstrem seperti di Memanbetsu.

Tidak ada raungan mesin besar atau hentakan keras saat perpindahan gigi. Yang terdengar hanyalah suara lembut motor listrik dan desiran kerikil di bawah roda.

Semua terasa... terkalkulasi.

Easy Turn, Berputar di Ruang Sempit dengan Sedikit Sentuhan

Selanjutnya, Tribunnews menjajal Nissan Ariya yang dipasangi fitur Easy Turn.

Fitur ini memungkinkan mobil berputar di ruang sempit hanya dengan sedikit sentuhan.

Resep ampuh dari pengurangan radius putar ini adalah kendali pada kaliper rem itu sendiri.

Secara logika sederhana, jika anda berputar ke kanan secara tajam, maka mobil akan memiliki sudut putar yang lebih ringkas saat hanya kaliper rem belakang kanan yang bekerja.

Hal ini yang dikendalikan oleh system Easy Turn oleh Bosch.

“Easy Turn bekerja dengan algoritma yang mengoordinasikan aktuator untuk mengurangi radius putar, bahkan di jalan sempit,” papar Klier Willy menyederhanakan penjelasan rumit atas proses kerja sistem yang ada.

Fitur ini dipadankan dengan teknologi Act-by-wire dan Brake-by-wire yang menggantikan koneksi mekanis dengan sistem elektronik penuh.

Artinya, jeda waktu antara kendali di stir dengan reaksi di roda akan sangat terpangkas menjadi super-cepat.

Vehicle Motion Management, Bak Punya 3 Mobil dalam Satu Kendaraan

Salah satu inovasi yang paling menonjol adalah Vehicle Motion Management (VMM) — sistem manajemen gerakan kendaraan berbasis perangkat lunak yang mampu menyesuaikan mode berkendara dengan kebiasaan pengemudi.

Fitur ini benar-benar mengenali sang empunya mobil hanya dengan memasukkan face recognition dan mengisi sejumlah pertanyaan seputar gaya berkendara.

Ya, teknologi deteksi wajah memang bukan hal yang baru, namun jika mobil seperti tahu secara otomatis apa yang harus dia lakukan saat sang sopir duduk di balik kemudi, itu adalah terobosan yang luar biasa.

Saat Tribunnews menjajal fitur ini di Lexus RZ, mobil kelima dan terakhir untuk diuji, sistem VMM menyediakan tiga mode: sport, luxury, dan off mode (sistem fitur dimatikan).

Ketiga mode ini didapat dari data yang dimasukkan lewat sejumlah pertanyaan yang diberikan ke Tribunnews. Artinya, sistem mencoba mengenali gaya berkendara Tribunnews lewat pertanyaan yang digabungkan dengan teknologi face recognition.

Sehingga, saat Tribunnews duduk di belakang kemudi dan fitur ini diaktifkan, mobil akan langsung bisa menyesuaikan gaya berkendara.

Mode sport menjanjikan fitur handling mobil yang lebih agresif, dengan manuver tajam. Di sisi lain, mode luxury menyediakan Gerakan yang cenderung lebih elegan dan halus.

“Teknologi ini merupakan sistem solusi komprehensif yang mengelola gerakan kendaraan secara independen, menggunakan arsitektur sistem terbuka dan data sensor dari semua kendaraan. Sistem ini mengoordinasikan kontrol aktuator gerak kendaraan seperti rem, kemudi, tenaga mesin, dan suspensi, sehingga memberikan pengalaman berkendara yang lebih aman, lebih nyaman, dan lebih berkelanjutan bagi pengemudi,” kata penjelasan pihak Bosch.

Tak bisa dipungkiri, fitur ini seolah membuat kita memiliki tiga jenis mobil dalam satu kendaraan.

Hebatnya, semua pembaruan dilakukan lewat kode, tanpa harus mengganti satu pun komponen keras.

Dari Mesin ke Pikiran, Saat Data Jadi Bahan Bakar Baru Mobilitas

Kesimpulannya, di Bosch MDeX, data adalah bensin abad ke-21.

Bagi Bosch, “fun to drive” tidak lagi sekadar adrenalin dan suara mesin. Kini, kesenangan itu didefinisikan ulang sebagai sinergi antara manusia dan mesin.

Melalui Bosch Mobility, teknologi pengendali gerak dikuasai lewat data.

Setiap tarikan kemudi, setiap tekanan pedal, terasa presisi dan seimbang — bukan karena mekanik, tapi karena kode.

Dari balik kemudi, sensasi baru terasa: kemudi presisi milimeter, pengereman elektronik instan, dan menyesuaikan gaya pengemudi pengendara plus keamanan yang sangat terjaga.

Inilah wajah baru otomotif — kendaraan yang tidak lagi digerakkan oleh piston, tetapi oleh alur data dan kecerdasan buatan.

Bosch memformulasikan konsep Software-defined Mobility (SDM) secara komprehensif — kendaraan yang seluruh karakternya ditentukan oleh perangkat lunak. Setiap sistem, dari kemudi hingga rem, kini bisa diperbarui secara over-the-air (OTA), seperti mengunduh pembaruan sistem di ponsel.

Dari sistem bantuan pengemudi (ADAS) yang mampu menarik trailer dengan akurasi satu derajat, hingga peta komunitas real-time yang terus diperbarui oleh jaringan pengguna, Bosch menegaskan kalau  setiap bit data memiliki tujuan: membuat pengemudi lebih aman, percaya diri, dan nyaman.

Teknologi Battery in the Cloud bahkan mampu memantau kondisi baterai secara jarak jauh, memprediksi keausan, hingga mengoptimalkan pengisian daya — langkah penting menuju masa depan mobil listrik yang efisien dan berumur panjang.

Ketika sesi uji selesai, angin yang membekukan masih berembus perlahan.

Tribunnews keluar dari kabin mobil uji dengan satu kesan kuat: Bosch sedang membangun mobil yang bisa memahami pengemudi.

Jika abad ke-20 adalah era mesin pembakaran internal, maka abad ke-21 adalah era “mobil yang didefinisikan oleh kecerdasan” — kendaraan yang bukan hanya bergerak, tetapi belajar dan beradaptasi bersama penggunanya.

Dari Memanbetsu yang beku, masa depan otomotif terasa hangat — bukan oleh mesin, tapi oleh ide bahwa mobil kini punya otak sendiri.

   

(oln/*)

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan