Inflasi 10 Tahun 32%, Ini Trik Investor Cetak Untung Di Atas Inflasi


aiotrade.CO.ID – JAKARTA.

Dalam dunia investasi, strategi dan perencanaan yang matang menjadi kunci utama untuk mencapai hasil yang optimal. Investor kini masih memiliki peluang besar untuk menghasilkan imbal hasil yang mampu melampaui laju inflasi, terlepas dari kondisi ekonomi yang sering kali tidak menentu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam 10 tahun terakhir, tingkat inflasi Indonesia bervariasi. Tahun 2023 menjadi periode dengan inflasi tertinggi, yaitu sebesar 5,3%, sedangkan pada tahun 2024, inflasi mencapai level terendahnya, yaitu 1,6%. Secara rata-rata, inflasi tahunan selama 10 tahun terakhir berada di angka 2,9%.

Infovesta mencatat bahwa pertumbuhan inflasi Indonesia selama 10 tahun terakhir mencapai 32%. Artinya, agar daya beli dana investor tidak tergerus, mereka perlu mencetak return minimal sebesar 32% dalam jangka waktu tersebut.

Secara historis, tingkat inflasi yang tercatat dinilai masih rendah, terutama karena pertumbuhan ekonomi yang juga melambat. Eko Endarto, Perencana Keuangan dari Finansia Consulting, menyatakan bahwa tingkat inflasi tersebut sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dilampaui oleh investor.

“Jika menggunakan indikator inflasi 32% dalam 10 tahun atau sekitar 3,2% per tahun, saya kira tidak terlalu susah. Rata-rata obligasi ritel saja memberikan imbal hasil di atas 4%, sehingga dengan investasi di obligasi ritel sudah cukup untuk mengalahkan inflasi,” ujar Eko kepada aiotrade.

Ia menekankan bahwa kunci utama adalah memastikan dana tidak terjebak dalam tabungan atau instrumen investasi yang tidak aman. Selama dana ditempatkan pada instrumen yang tepat, peluang mendapatkan return riil positif tetap terbuka.

Di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, Eko merekomendasikan investor untuk menyusun portofolio sesuai dengan profil risiko masing-masing. Berikut rekomendasi komposisi portofolio untuk berbagai tipe investor:

  • Untuk investor konservatif, disarankan alokasi sekitar 20% di tabungan dan deposito, 50% di obligasi, serta 30% di emas.
  • Untuk investor moderat, komposisi bisa diarahkan sekitar 20% di deposito, 40% di emas, dan sisanya di saham.
  • Sementara itu, investor agresif dapat menempatkan sekitar 10% pada tabungan dan deposito, 30% di emas, serta porsi terbesar pada saham, properti, atau aset kripto.

Meskipun demikian, Eko mengingatkan investor tetap perlu memperhatikan berbagai sentimen makro agar portofolio tetap on track melampaui inflasi. Kepastian ekonomi dan kejelasan program pemerintah menjadi faktor penting yang memengaruhi arah investasi.

Dalam situasi yang belum pasti, ia menyarankan investor untuk mengurangi eksposur pada sektor yang likuiditasnya rendah, seperti properti. Sebagai alternatif, investor dapat mencari instrumen lain yang memberikan potensi imbal hasil setara dengan properti, namun dengan tingkat likuiditas yang lebih baik.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan