
Puluhan Industri Baru Siap Ekspansi di Jawa Barat Tahun 2026
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan bahwa sejumlah industri baru akan melakukan ekspansi pada tahun 2026. Hal ini diiringi oleh masuknya gelombang investasi ke berbagai kawasan industri di wilayah tersebut. Pemprov Jabar optimistis bahwa ekspansi ini dapat membantu menekan angka pengangguran sekaligus memulihkan jumlah tenaga kerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).
Namun, pendapat dari pengamat ekonomi Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, menunjukkan bahwa klaim tersebut perlu dikaji lebih dalam. Menurutnya, tidak semua investasi memiliki dampak langsung pada penyerapan tenaga kerja karena banyak proyek berskala besar bersifat padat modal, bukan padat karya.
Acuviarta menekankan bahwa arah promosi investasi Jawa Barat seharusnya diperluas ke sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan yang memiliki daya serap tenaga kerja lebih besar. Ia menilai ketiga sektor tersebut merupakan potensi unggulan daerah yang selama ini belum mendapat perhatian maksimal dari sisi promosi investasi.
Berdasarkan perhitungannya, investasi senilai Rp100 miliar belum tentu berdampak signifikan terhadap penurunan pengangguran. “Setiap Rp1 miliar investasi rata-rata hanya menyerap sekitar 10 hingga 15 pekerja,” ujar Acuviarta saat dihubungi, Rabu 24 Desember 2025. Dengan skema tersebut, investasi Rp100 miliar diperkirakan hanya menyentuh sekitar 1.000 tenaga kerja dari total belasan ribu pengangguran yang ada.
Ia juga menyoroti tren investasi di Jawa Barat yang besar secara nilai, tetapi cenderung padat modal sehingga efek penggandanya terhadap lapangan kerja masih terbatas. Kondisi ini, menurutnya, diperparah oleh masuknya tenaga kerja dari luar daerah yang ikut mengisi peluang kerja di Jawa Barat.
Dua Syarat Investasi Berdampak pada Penyerapan Tenaga Kerja
Acuviarta menyebut ada dua syarat agar investasi benar-benar berdampak pada penyerapan tenaga kerja, yakni bersifat padat karya dan sesuai dengan ketersediaan tenaga kerja lokal. Ia mencontohkan industri kendaraan listrik yang kini ramai berinvestasi, namun lebih mengandalkan teknologi dan modal besar dibandingkan tenaga kerja.
“Berbeda dengan industri tekstil, produk tekstil (TPT), atau alas kaki yang relatif menyerap lebih banyak pekerja,” ujarnya. Selain sektor manufaktur padat karya, Jawa Barat juga dinilai memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan kehutanan.
Sektor-sektor tersebut bukan hanya sesuai dengan karakter wilayah Jabar, tetapi juga memiliki daya serap tenaga kerja yang lebih luas. Meski begitu, promosi investasi untuk sektor-sektor unggulan lokal tersebut dinilai masih minim dan kurang agresif.
Mendorong Agenda Khusus untuk Promosi Investasi
Ke depan, Acuviarta mendorong pemerintah menggelar agenda khusus untuk mempromosikan investasi di sektor padat karya berbasis potensi lokal. Ia bahkan mengusulkan agar investment summit digelar terpisah agar investor lebih fokus pada pengembangan sektor unggulan daerah.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Nining Yuliastiani, menyatakan realisasi investasi di Jabar akan memberikan efek berganda yang signifikan. Menurutnya, dampak tersebut mencakup penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya beli masyarakat, hingga penguatan struktur industri daerah.
Nining juga menyebut mayoritas proyek investasi ditargetkan mulai beroperasi pada 2026, sehingga Jawa Barat diproyeksikan tetap menjadi kontributor utama investasi nasional. Hingga Triwulan III 2025, sektor industri masih menjadi penopang utama perekonomian Jawa Barat, sementara sektor perdagangan berperan sebagai pendukung distribusi dan konsumsi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar