IWIP Dorong Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara, Pendapatan Warga Meningkat

IWIP Dorong Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara, Pendapatan Warga Meningkat

Dampak Ekonomi yang Signifikan dari Indonesia Weda Bay Industrial Park

Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) telah menjadi salah satu motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Sejak beroperasi, IWIP memberikan dampak besar terhadap masyarakat sekitar, termasuk dalam hal perekonomian dan kesejahteraan.

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di wilayah ini jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Maluku Utara pada triwulan II-2025 mencapai Rp 31,5 triliun dengan dasar harga berlaku dan sebesar Rp 17,6 triliun dengan dasar harga konstan 2010. Pertumbuhan ekonomi secara kuartalan mencapai 5,16 persen, sementara pertumbuhan tahunan pada periode yang sama mencapai 32,09 persen.

Pertumbuhan Ekonomi yang Mengesankan

External Affairs Manager IWIP, Lukman Hakim, menjelaskan bahwa wilayah seperti Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. "Pertumbuhan ekonomi di wilayah ini jauh di atas rata-rata daerah lain dan itu dikonfirmasi sebagai dampak dari kegiatan industri pertambangan dan pengolahan yang didorong hilirisasi," ujarnya.

Pada 2022, Halmahera Tengah sempat mencatat pertumbuhan ekonomi lebih dari 100 persen. Meskipun pada 2023, pertumbuhan diperkirakan turun ke kisaran 60 persen, angka tersebut tetap jauh di atas pertumbuhan nasional yang berkisar 5 persen.

Peran UMKM dan Masyarakat Lokal

IWIP juga aktif dalam mendukung UMKM dan warung-warung lokal sebagai mitra dan pemasok. Berdasarkan data yang pernah dibaca manajemen, total volume transaksi kemitraan tersebut pada awal 2023 mencapai sekitar Rp 3 triliun. Sekitar 10.000 orang merasakan manfaat langsung dari aktivitas kawasan industri, termasuk sektor kuliner, pajak, hingga perdagangan ritel.

"Setiap tanggal gajian, biasanya tanggal 5, toko-toko ramai. Transaksi melonjak. Teman-teman perbankan juga melihat lonjakan transaksi saat gajian atau pencairan THR. Jadi dampaknya bukan hanya ke pekerja, tapi ke seluruh kegiatan ekonomi di sekitar," jelas Lukman.

Perubahan Kondisi Ekonomi yang Drastis

General Manager Human Resources IWIP, Rosalina Sangaji, menggambarkan perubahan kondisi ekonomi yang drastis sejak IWIP beroperasi. Ia mengingat betapa jauhnya perbedaan antara kondisi saat ia datang pada tahun 2018 dan sekarang.

"Waktu saya datang tahun 2018, desa-desa di sekitar sini masih jauh dari kata memadai. Rumah masih pakai batang sagu, rumah yang tembok hanya satu," terang Lina.

Kini, warga mulai mengembangkan usaha kos-kosan untuk karyawan. Rata-rata masyarakat memiliki sedikitnya 20 kamar kos dengan tarif sekitar Rp 1,5 juta per bulan. "Rata-rata mereka (warga) paling sedikit punya kos-kosan 20 kamar. Harga kos-kosan itu sebulannya Rp 1,5 juta paling murah. Jadi untuk masyarakat sekitar minimal pendapatannya Rp 30 juta per bulan," ucap Lina.

Keterlibatan Tenaga Kerja Daerah

IWIP juga bekerja sama dengan Organisasi Angkutan Darat (Organda) untuk melayani mobilitas karyawan, khususnya yang bepergian melalui Ternate. Komposisi tenaga kerja IWIP didominasi putra daerah, dengan sekitar 77 persen berasal dari Maluku Utara. Dari jumlah tersebut, 36 persen merupakan masyarakat kawasan tambang dan 39 persen lainnya dari berbagai kabupaten/kota di Maluku Utara.

"Gaji karyawan ditransfer ke Ternate, Bacan dan daerah lain. Jadi dampaknya menyebar ke kabupaten-kabupaten di Maluku Utara, meskipun tidak semuanya berada di sekitar kawasan," ujar Lina.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan