
Perjalanan Jakarta - Banyuwangi: Pengalaman Berkesan dalam Kereta Jarak Jauh
Perjalanan dari Jakarta ke Banyuwangi menggunakan kereta jarak jauh bukanlah pengalaman baru bagi kami. Namun, perjalanan kali ini berbeda karena merupakan perjalanan terjauh yang kami tempuh tanpa berhenti bermalam di kota-kota lain. Diperkirakan perjalanan akan memakan waktu sekitar 17 jam. Meskipun begitu, semangat kami tetap tinggi.
Kami memulai perjalanan dengan mengecek posisi penting seperti pintu keluar terdekat, mushola, dan toilet. Alhamdulillah, kondisi toilet cukup baik dan bersih, sehingga tidak perlu khawatir dengan kebutuhan dasar selama perjalanan.
Untuk kebutuhan sholat, terdapat mushola di bagian depan gerbong restoran. Mushola tersebut kecil, hanya mampu menampung tiga orang, campuran pria dan wanita. Kondisinya rapih dan bersih, serta tersedia sarung dan mukena.
Berdasarkan rute yang tercantum di beberapa tempat di kereta, setelah berangkat dari Stasiun Pasar Senen di Jakarta, kereta akan singgah di 26 stasiun lain, termasuk beberapa stasiun besar seperti Tegal, Semarang Tawang, Pasarturi, dan Gubeng di Surabaya, hingga Stasiun Ketapang di Banyuwangi sebagai tujuan akhir.
Gerbong yang kami tumpangi tampak rapih dan bersih. Nuansa warna biru langit berpadu dengan abu-abu dan putih menciptakan kesan anggun. Di setiap pasangan kursi terdapat meja kecil dan dua colokan listrik. Ini memudahkan penumpang untuk mengisi daya perangkat gadget kapan saja. Setiap kursi juga dilengkapi meja lipat jika ingin bekerja dengan laptop atau sekadar untuk makan.
Awal perjalanan, gerbong kami tidak begitu penuh, mungkin hanya seperempat yang terisi. Ada juga pasangan bule yang duduk di beberapa baris setelah kami. Namun, selama perjalanan, penumpang silih berganti. Pada saat tertentu, gerbong kami hampir penuh juga.
Lintas Jawa, Melintas Waktu
Kereta melaju perlahan ke arah selatan Jakarta, kemudian lurus ke timur setelah melewati Stasiun Jatinegara. Setelah sedikit mengantre untuk sholat Dzuhur dan Asar yang dijama' qasar dalam mushola mungil kereta, kami mulai duduk anteng menikmati perjalanan sebelum hari gelap.
Kami memilih duduk di sisi kiri arah laju kereta, berharap bisa melihat laut karena kereta akan melewati jalur utara Jawa. Meski kereta melaju ke timur, cahaya matahari yang cerah masih masuk ke dalam kereta.
Sepanjang Bekasi, Kerawang, hingga Cirebon, selain permukiman, kami lebih banyak menyaksikan hamparan sawah yang sebagian besar telah menguning atau kering kecoklatan pasca panen. Area ini adalah lumbung padi Jawa Barat, bahkan nasional. Puluhan biri-biri tampak asik bergerombol di sisa-sisa sekam padi.
Sementara kami asik ngobrol, berfoto-foto, dan mencari tahu lokasi-lokasi yang lewati via Google maupun tanda-tanda area, di sebelah kami sepertinya duduk pasangan tua yang juga asik sendiri. Mereka tampaknya sudah terbiasa naik kereta ini, lihai memesan berbagai makanan kereta ini dan tampak santai menikmati perjalanan.
Di setiap stasiun, kereta hanya berhenti sebentar, mungkin tidak sampai 10 menit. Hanya pada beberapa stasiun mereka berhenti cukup lama, bisa hampir setengah jam. Salah satunya di Stasiun Cirebon, sekitar pukul tiga sore.
Saya menyempatkan turun. Banyak penumpang lain juga, terutama para perokok. Saya sendiri hanya sibuk foto sana sini melalui ponsel, sambil memperhatikan banyak petugas di atap kereta.
"Isi apa, Mas?", tanya saya penasaran kepada petugas tadi setelah turun dari atap dengan tangga kecil di samping kereta.
"Air, Mas", jawabnya singkat. Tak lama panggilan untuk segera masuk ke kereta berkumandang.
Kereta kembali melaju. Sedikit pemandangan laut di sisi kiri kami terlihat setelah lepas dari Cirebon ini.
Makan Enak, Tidur Setengah Nyeyak
Sekitar pukul enam sore, kami tiba di Stasiun Tegal. Saya memaksa turun karena stasiun terlihat cukup besar dan megah. Bangunan utamanya mungkin sebesar Stasiun Bogor yang sering saya lihat. Menurut Wikipedia yang kami kulik, memang Stasiun Tegal telah dibangun sejak 1886. Awalnya sebagai stasiun trem, dan setelahnya berganti berbagai kepemilikan dan direnovasi sehingga menjadi stasiun kereta antar kota.
Dilihat dari bangunannya, sepertinya semua bangunan stasiun yang kami lewati adalah bangunan tua, khas stasiun-stasiun jaman Kolonial Belanda dulu. Walaupun beberapa terlihat sentuhan renovasi gaya modern.
Saya sedikit membayangkan suasana masa-masa lampau di setiap stasiun yang kami lewati atau berhenti singgah. Nuansa kelabu muda di setiap stasiun, monokrom seperti bayangan cerita masa silam di film-film. Membayangkan stasiun-stasiun itu beroperasi ketika zaman kolonialisme Belanda dulu.
Dan, saya pun mengingat-ingat ketika keluarga kami juga sempat berkereta, melewati beberapa stasiun tersebut pada dekade 80an. Bermain-main keseimbangan di atas rel sembari menunggu kereta datang, atau sekadar menempelkan telinga di atas besi rel yang konon dapat mendeteksi kedatangan kereta.
Sekitar pukul enam sore, kami tiba di Stasiun Semarang. Sudah gelap. Agak ragu saya mau turun karena waktu berhenti sudah banyak kepotong ketika kami sedang sholat. Kereta melaju kembali. Pasangan tetangga kursi terlihat sempat membeli ayam goreng di peron stasiun untuk makan malam mereka.
Setiap beberapa waktu, biasanya terdapat pramugari kereta atau prami (train attendant) yang mendorong troli sepanjang lorong gerbong, menawarkan makanan dan minuman kepada penumpang. Dijual.
Karena selepas maghrib ini kami sudah lapar, tidak perlu menunggu troli makanan lewat. Istri saya segera menuju gerbong restoran yang cuma di depan gerbong kami untuk memesan makanan.
Kami memesan dua nasi kotak dengan lauk daging sei sapi dan ayam geprek. Kemasan kotak karton cukup baik, menarik, dan rapih. Rasa tidak mengecewakan. Dengan harga 40 ribuan per kotak, cukup memuaskan menurut kami untuk makanan di dalam sebuah kereta.
Selepas maghrib tadi, setiap penumpang mendapatkan selimut. Cukup tebal, lembut, wangi, dan ukuran pas bagi penumpang yang berselimut sambil duduk.
Malam berlanjut, tidak tampak lagi pemandangan di luar. Kami menyibukkan diri sebelum mengantuk dengan membaca buku, ngobrol, atau menonton tayangan di YouTube maupun Netflix melalui tab kami. Sesekali tertidur setengah nyenyak.
Tengah Malam
Kami tertidur, walau tentu tidak terlalu nyenyak. Mulai tengah malam, saya perhatikan selama tidur-tidur ayam ini, ketika kereta akan berhenti di suatu stasiun, seorang prami akan berjalan keliling sambil membawa sebuah catatan, mengecek penumpang berdasarkan nomor duduk, yang akan turun di stasiun berikutnya. Mungkin khawatir sang penumpang ketiduran. Bagus juga.
Tengah malam, pasangan bule yang naik bersama kami dari Senen tadi akhirnya turun di Stasiun Probolinggo. Saya kembali terlelap sesaat.
Sekitar setengah empat, kereta memasuki Stasiun Jember, saya telah bangun sepenuhnya. Menyegarkan diri. Hampir waktu Subuh di kota ini. Setelah masuk waktu sholat, saya segera sholat bergantian dengan istri, agar ketika turun di Ketapang, kami tidak perlu sibuk mencari mushola lagi.
Selesai sholat, saya segera memindahkan koper besar kami ke depan kursi baris pertama, dekat tempat duduk kami. Barang-barang bawaan lain di kompartemen atas tempat duduk pun telah kami turunkan. Penumpang tidak banyak, mungkin sebanyak penumpang saat kami naik di Pasar Senen kemarin hari.
Akhirnya kami tiba di Stasiun Ketapang, 04.45. Hanya lima menit terlambat dari jadwal semula, 04.40. Kami sedikit repot menurunkan koper dari tangga kereta, walau akhirnya semua berjalan lancar. Koper besar kami meluncur di peron stasiun dibawa istri. Sesekali kami angkat berdua. Saya membawa ransel dan daypack.
Berlari Mengejar Feri
Kondisi stasiun sudah tidak saya perhatikan lagi. Kami fokus mengikuti arus penumpang menuju pintu keluar yang kami tidak tahu di sebelah mana.
Sepanjang jalan menuju pintu keluar, kami masih bimbang, apakah perlu porter atau tidak mengangkat koper sampai ke jalan depan stasiun nanti. Atau, apakah kami harus pesan taksi online atau tidak nanti, dan sebagainya. Kalau dari Google Maps, seharusnya tujuan kami dekat saja.
Pintu keluar stasiun ternyata berada di sisi utara stasiun. Sampai ke luar stasiun, kami perhatikan sekeliling. Ah.., itu jalan besar, tak jauh. Belasan penumpang lain berjalan ke arah sana, juga sambil menggeret koper. Kami pun bergegas mengikuti, sambil menggeret koper di antara jalan berlubang. Kami ingin mengejar feri penyeberangan ke Gilimanuk Bali jam lima pagi ini. Apakah terkejar? *
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar