Jawa Barat Dihadapkan pada Gelombang Investasi, Ekonom Tetap Meragukan Dampaknya pada Penurunan Peng

Investasi di Jawa Barat dan Dampaknya terhadap Pengangguran

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengumumkan bahwa sejumlah industri akan berekspansi ke wilayah tersebut pada tahun 2026. Diklaim, langkah ini dapat membantu menurunkan angka pengangguran serta memulihkan jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, seorang pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, menyatakan masih ada keraguan mengenai dampak investasi tersebut terhadap penurunan pengangguran.

Menurut Acuviarta, meskipun beberapa perusahaan memiliki nilai investasi besar, tidak semua dari mereka bersifat padat karya. Hal ini berarti potensi penyerapan tenaga kerja bisa terbatas. Ia menyarankan agar pemerintah lebih fokus pada sektor-sektor seperti pertanian, perkebunan, atau perikanan yang memiliki potensi besar untuk menyerap tenaga kerja.

Potensi Investasi dan Dampaknya

Acuviarta menjelaskan bahwa investasi sekitar Rp 100 miliar belum memberikan dampak signifikan dalam mengurangi jumlah pengangguran. Analoginya, setiap Rp 1 miliar investasi hanya mampu menciptakan lapangan kerja bagi 10 hingga 15 orang. Dengan demikian, investasi senilai Rp 100 miliar hanya mampu menjangkau sekitar 1.000 dari total 15.000 pengangguran.

Ia juga menyoroti bahwa saat ini banyak investasi yang masuk ke Jawa Barat bersifat padat modal, bukan padat karya. Hal ini membuat daya ungkit serapan tenaga kerja tetap terbatas. Selain itu, adanya intervensi tenaga kerja dari luar Jawa Barat juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Syarat Investasi yang Berdampak Positif

Untuk memastikan bahwa investasi sejalan dengan serapan tenaga kerja, Acuviarta menyarankan beberapa syarat. Pertama, investasi yang masuk harus bersifat padat karya. Kedua, kebutuhan tenaga kerjanya harus tersedia di Jawa Barat.

Contohnya, beberapa perusahaan yang berinvestasi di Jawa Barat berasal dari sektor kendaraan listrik yang lebih padat modal daripada sektor seperti TPT atau alas kaki yang relatif lebih banyak menyerap pekerja.

Perlu Promosi Sektor Lain

Menurut Acuviarta, Jawa Barat memiliki sektor lain yang potensial jika diprioritaskan, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan kehutanan. Selain sebagai potensi alamiah, sektor-sektor ini bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak. Sayangnya, promosi untuk sektor-sektor tersebut masih kurang.

Ia menyarankan pemerintah untuk lebih fokus pada promosi sektor-sektor ini. Misalnya, dengan mengadakan event khusus untuk menarik minat investor. Aktivasi khusus ini berpeluang meningkatkan daya ungkit serapan tenaga kerja lokal.

Peran Sektor Perindustrian dan Perdagangan

Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Nining Yuliastiani, menyatakan bahwa realisasi investasi akan memberikan efek multiplier yang signifikan. Mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya beli masyarakat, hingga penguatan struktur industri daerah.

Nining menambahkan bahwa mayoritas proyek investasi akan mulai beroperasi pada tahun 2026. Dengan demikian, Jawa Barat diproyeksikan tetap menjadi kontributor utama investasi nasional dalam beberapa tahun ke depan.

Kondisi Stabil Sektor Perindustrian dan Perdagangan

Sektor perindustrian tetap menjadi kontributor utama, sementara sektor perdagangan berperan sebagai pendukung aktivitas distribusi dan konsumsi. Meski kondisi sektor perindustrian stabil, dinamika di masing-masing sektor tetap berbeda.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan