
Cerita Seorang Anak yang Menantikan Kemenangan Ibu di Kompasianival
Aku adalah Cato, seorang anak berusia 11 tahun yang sedang duduk di kelas 6 SD. Aku sering merasa bahwa aku sudah cukup besar, tapi ketika membicarakan tentang "kompetisi menulis" yang sering diikuti ibu, aku masih bingung. Yang aku tahu hanya satu hal: setiap kali ibu menang dalam lomba menulis, aku selalu senang.
Sebab, setiap kali ibu memenangkan lomba, biasanya ada hadiah kecil yang diberikan kepada aku. Bisa saja itu makanan enak, jalan-jalan, atau bahkan menginap di hotel. Jadi, setiap kali ibu mulai sibuk di depan laptop, aku tahu bahwa ini bukan sekadar menulis, tapi bisa jadi misi untuk mendapatkan makan rendang!
Setiap kali ibu membuka laptop, aku tahu pasti bahwa dia tidak sedang menonton drama China yang lagi viral, melainkan sedang menulis artikel. Kali ini, katanya, ia akan mengikuti Kompasianival 2025 dengan tema “Cerdas Digital, Mandiri Finansial.” Aku tidak terlalu paham artinya, tapi kalau ibu mulai mengetik cepat, aku tahu bahwa ide bagus sedang muncul di kepalanya.
Biasanya, jika ide itu menjadi tulisan yang bagus, aku bisa tersenyum lebar. Sebab, pernah suatu kali ibu menang lomba aiotradedan mengajakku makan di Rumah Makan Padang kesukaanku. Aku masih ingat waktu itu. Kami makan rendang, ayam pop, dan es teh manis dingin—rasanya seperti liburan kecil. Malamnya, kami juga menginap di hotel!
Maka, ketika ibu bilang ingin ikut Kompasianival lagi, aku langsung semangat. Aku membantu doa agar ibu menang. Kadang aku juga duduk di sebelahnya sambil menggambar atau membaca komik. Tapi, kalau ibu berkata, “Ssst… lagi nyari ide,” aku tahu bahwa aku harus diam dulu. Kadang ibu sibuk banget sampai lupa waktu. Tapi aku tidak marah. Aku malah membuat pantun untuk ibu:
Aku menggambar, ibu menulis, sama-sama sibuk di rumah,
Katanya ide itu seperti benih, tumbuh kalau dirawat dengan ramah.
Ibu ngetik sampai lupa masak, katanya demi challenge viral,
Ya sudah deh, aku makan mi instan - demi Kompasianival!
Aku suka melihat wajah ibu saat artikelnya selesai ditulis. Wajahnya langsung cerah, seperti baru saja mendapat nilai seratus di ujian. Ibu bilang, “Yang penting ikut dulu, bukan cuma soal menang.” Tapi aku tetap berdoa diam-diam agar ibu menang lagi. Biar bisa makan rendang bersama dan menginap di hotel lagi!
Sekarang aku tahu, bagi ibu, Kompasianival bukan hanya lomba menulis. Itu adalah tempat di mana ibu berbagi cerita, belajar hal baru, dan bertemu teman-teman penulis lainnya. Aku bangga karena ibu bukan hanya penulis di layar, tapi juga pahlawan kecil di rumah yang mengajarkanku semangat dan kesabaran.
Jadi, semoga tahun ini ibu menang lagi ya! Aku sudah siap dengan sendok, garpu, dan perut kosong untuk makan rendang kemenangan. Selamat ulang tahun ke-14 untuk Kompasianival! Teruslah menjadi tempat di mana para penulis dan kreator bisa tumbuh, terhubung, dan membawa dampak nyata—termasuk membuat anak-anak penulis ikut bahagia!
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar