KAPP Pegunungan perkuat akar ekonomi dari jantung Wamena

KAPP Pegunungan perkuat akar ekonomi dari jantung Wamena
Ringkasan Berita:
  • Rapimda KAPP: Penyerahan SK pengurus KAPP Jayawijaya dan Mamberamo Tengah di Wamena.
  • Target Utama: Mendorong pengusaha asli Papua (OAP) jadi pemain utama ekonomi daerah.
  • Desak Pemda: Meminta 8 kabupaten segera melantik pengurus untuk sinergi pembangunan.
  • Fokus Sektor: Pengembangan potensi lokal mulai dari kopi, pertanian, hingga pariwisata.
 

Laporan Wartawan aiotrade, Amatus Huby

aiotrade, JAYAWIJAYA - Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) Provinsi Papua Pegunungan menggelar Rapat Pimpinan Daerah (RAPIMDA) sekaligus memberikan Surat Keputusan (SK) kepada dua pengurus daerah di Wamena, pada Sabtu, (10/1/2026).

Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kemajuan organisasi serta penguatan ekonomi Orang Asli Papua (OAP) di wilayah Papua Pegunungan.

KAPP adalah sebuah organisasi profesi dan kemasyarakatan yang menjadi wadah bagi para pengusaha Orang Asli Papua (OAP).

Secara sederhana, KAPP sering disebut sebagai " Kamar Dagang dan Industri (KADIN)-nya Orang Asli Papua". Organisasi ini memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah daerah dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan di Tanah Papua.

Dua SK itu diserahkan oleh Ketua Badan Pengurus KAPP Papua Pegunungan, M Garsuc Yikwa kepada pengurus KAPP Daerah Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Mamberamo Tengah.

Saat penyerahan, ia juga mengharapkan pemerintah 8 kabupaten di Papua Pegunungan melantik badan pengurus daerah KAPP agar organisasi itu memainkan perannya dalam mendorong majunya pembangunan di sana.

“Kami juga berharap pemerintah daerah di 8 kabupaten dapat melantik badan pengurus daerah dan mendukung program KAPP untuk membangun ekonomi Orang Asli Papua,” ujarnya.

KAPP hadir berdasarkan Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) Papua Nomor 18 Tahun 2008 yang diperkuat dengan Peraturan Gubernur Papua Nomor 45 Tahun 2017, serta telah memiliki surat keputusan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

"Dengan dasar hukum tersebut, kami siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua Pegunungan," tutupnya. 

Berikut adalah beberapa poin penting untuk memahami KAPP:

1. Dasar Pembentukan

KAPP dibentuk secara resmi pada 26 September 2006 di Jayapura, Provinsi Papua. Keberadaannya memiliki landasan hukum yang kuat dalam kerangka Otonomi Khusus (Otsus) Papua, di antaranya:

Perdasus Nomor 18 Tahun 2008 tentang Perekonomian Berbasis Kerakyatan.

Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur petunjuk teknis pemberdayaan pengusaha asli Papua.

2. Tujuan Utama

Tujuan utama dari dibentuknya KAPP adalah untuk memastikan orang asli Papua tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan ekonomi di tanahnya sendiri, melainkan menjadi subjek atau pelaku utama. Fokusnya meliputi:

Membina dan Mengembangkan Profesi: Meningkatkan kemampuan teknis dan manajemen para pengusaha OAP.

Kemandirian Ekonomi: Mendorong pengusaha asli Papua agar memiliki perusahaan yang mandiri dan tidak hanya bergantung pada sistem "pinjam bendera" dalam proyek pemerintah.

Advokasi: Menjadi penyalur aspirasi pengusaha adat kepada pemerintah daerah maupun pusat.

3. Bidang Usaha yang Difokuskan

KAPP menghimpun pengusaha dari berbagai skala, mulai dari pedagang kecil (seperti penjual pinang dan sayuran) hingga kontraktor besar. Beberapa sektor unggulan yang menjadi fokus mereka antara lain:

Pertanian dan Perikanan: Mengelola kekayaan alam lokal.

Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: Pengembangan resor dan kerajinan khas Papua.

Pertambangan: Memastikan keterlibatan masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya.

4. Peran sebagai Mitra Pemerintah

Sebagai mitra strategis, KAPP membantu pemerintah dalam:

Pendataan (database) pengusaha asli Papua di seluruh kabupaten/kota.

Melakukan sosialisasi kebijakan terkait pemberdayaan ekonomi. Memastikan alokasi dana Otsus untuk sektor ekonomi benar-benar terserap oleh pengusaha lokal.

Saat ini KAPP telah tersebar di berbagai provinsi baru di Papua (DOB), seperti Papua Barat Daya dan Papua Tengah dan Papua Pegunungan, untuk memastikan jangkauan pembinaan pengusaha adat tetap merata.

Sejarah singkat Jayawijaya yang kini menjadi Ibu Kota Provinsi Papua Pegunungan

Wilayah ini ditemukan oleh dunia luar melalui ekspedisi Richard Archbold pada tahun 1938. Secara administratif, kabupaten ini dibentuk pada tahun 1969. Nama Jayawijaya diambil dari nama puncak tertinggi di Indonesia yang berada di pegunungan tersebut.

Kabupaten Jayawijaya adalah jantung dari wilayah Papua Pegunungan. Sejak tahun 2022, kabupaten ini memegang peran strategis sebagai ibu kota dari provinsi baru, yaitu Provinsi Papua Pegunungan.

Masyarakat Papua Pegunungan menyebut Wamena (Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya) sebagai mama bagi delapan kabupaten di sana. Sebab delapan kabupaten seperti Lanny Jaya, Nduga, Yalimo, Yahukimo, Mamberamo Tengah, Tolikara, Pegunungan Bintang merupakan hasil pemekaran dari Jayawijaya.

Jayawijaya sebelumnya masuk sebagai bagian dari Provinsi Papua, dengan sejumlah distrik yang kini sudah menjadi 8 kabupaten terpisah.

Kabupaten ini terletak di Lembah Baliem, sebuah lembah luas yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi. Ini bukan satu-satunya kabupaten di Papua Pegunungan yang wilayahnya benar-benar terkurung daratan sebab kabupaten Lanny Jaya, Yalimo juga sama tanpa ada pemandangan laut.

Jayawijaya berada pada ketinggian rata-rata 1.500 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga udaranya sangat sejuk dengan suhu berkisar antara 14°C hingga 25°C.

Budaya dan Pariwisata

Jayawijaya adalah pusat kebudayaan suku-suku asli pegunungan, terutama Suku Dani, Lani dan Yali.

Festival Lembah Baliem (FLB) yang biasa digelar pada Agustus setiap tahun, adalah acara paling terkenal di hingga ke mancanegara. Saat momen itu, masyarakat dari 40 distrik berkumpul untuk mempertunjukkan simulasi perang antar suku sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan, termasuk karapan babi.

Tak jarang, peserta festival dari kabupaten tetangga yang dahulu menjadi bagian dalam wilayah pemerintahan Jayawijaya, ikut mengambil bagian. Setiap bulan Agustus, jumlah wisatawan asing yang berkunjung bisa mencapai 200 lebih.

Salah satu daya tarik yang diminati turis asing dan lokal adalah, tradisi mengawetkan jenazah tokoh adat (mumi) dengan cara tradisional atau pengasapan.

Salah satu dari 4 mumi yang bisa dikunjungi, telah berusia sekitar 300 tahun. Mumi ini berada di Distrik Kurulu. Akses jalan dari pusat kota ke lokasinya cukup baik sehingga bisa dijangkau dengan mobil maupun motor dengan waktu perjalanan sekitar 25 menit.

Sayangnya sebagian orang sering mengeluhkan aksi pemalangan oleh oknum orang mabuk ketika hendak melintasi distrik tersebut.

Bukan hanya itu, kabupaten ini juga dikenal memiliki salah satu danau dengan pemandangan terbaik yaitu Habema.

Danau ini sering disebut sebagai "danau di atas awan" karena merupakan salah satu danau tertinggi di Indonesia. Perjalanan ke sana sekitar 3 jam, melewati gunung dan curang curam. Jika hendak pergi ke Habema, pastikan menggunakan jaket yang tebal, syal di bagian leher dan topi sebab suhunya tidak sepanas di Wamena.

Belum ada angkutan umum ke lokasi ini. Biaya carter taksi ke sana cukup mahal, berkisar Rp3 juta sehari karena jalan yang dahulu dibuat japat saat dikunjungi Presiden Prabowo, tidak diaspal sehingga telah rusak diterjang air hujan.

Objek wisata lainnya adalah Pasir Putih Aikima di Distrik Pisugi. Lokasi ini merupakan fenomena unik berupa hamparan pasir putih seperti pantai.Untuk menjangkau lokasi ini, dibutuhkan waktu perjalanan dengan kendaraan sekitar 20 menit dari pusat kota.

Sektor Ekonomi dan Potensi

Pertanian merupakan sektor utama masyarakat, misalnya Ubi Jalar (Hipere), talas, Kopi Arabika Wamena yang berkualitas dunia, serta sayur kol, sawi, kentang, wortel, tomat, bawang, daun bawang hingga buah strobery.

Hasil pertanian di sini sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia, sebab pemerintah dan masyarakat komitmen untuk tidak menggunakannya. Akses distribusi barang yang hanya mengandalkan pesawat di Bandara Wamena, membuat pengawasan lebih efektif untuk mencegah penyelundupan pupuk kimia.(*)

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan