Kemampuan Guru Mengatasi Kemarahan


Pada suatu malam, saat melakukan live di akun TikTok saya, saya bertemu dengan berbagai siswa. Mulai dari yang masih aktif belajar, siswa yang sudah berhenti dan pindah sekolah, hingga para alumni. Dalam obrolan tersebut, kami saling bercerita tentang rasa rindu terhadap suasana sekolah, guru-guru, serta kebahagiaan terhadap guru tertentu selama proses belajar-mengajar.

Salah seorang siswa menyampaikan bahwa ia senang belajar dengan saya. Alasannya karena saya tidak pernah marah. Ia membandingkan dengan guru lain. Di satu sisi, saya merasa senang, tetapi di sisi lain, saya harus memberikan penjelasan bahwa setiap guru memiliki gaya mengajar yang berbeda-beda. Siswa perlu memahami hal ini agar rasa hormat terhadap guru tidak berkurang hanya karena pernah atau sering dimarahi.

Dalam pengalaman mengajar saya, memang jarang marah, bukan berarti tidak pernah. Saya selalu menyampaikan di awal pertemuan kelas: “Ananda jangan buat bapak marah, ya! Karena banyak efek negatif pada saya, seperti kepala saya jadi sakit, kepikiran, dan suasana kelas menjadi tidak nyaman sesudahnya.”

Namun, tidak semua situasi bisa dihindari. Ada saja perilaku siswa yang membuat saya emosi. Di sini peran saya adalah bagaimana cara mengendalikan diri dari sifat amarah tersebut. Yang saya lakukan adalah selalu berpikir positif setiap kali menemukan kasus kesalahan atau pelanggaran aturan oleh siswa.

Contohnya, dalam sebuah studi kasus, ada seorang siswa yang memakai kalung saat proses belajar mengajar. Aturannya jelas, siswa tidak boleh memakai aksesoris kecuali jam tangan. Pertama, saya memberikan pemahaman tentang aturan tersebut dan meminta siswa tersebut melepas kalungnya. Pada pertemuan berikutnya, siswa itu kembali memakai kalung. Saya mencoba bersabar, memberinya konsekuensi bahwa jika dipakai lagi maka kalung tersebut akan disita. Pada pertemuan berikutnya, ia kembali memakai dan menyerahkan kalungnya dengan senang hati, serta menyadari kesalahannya. Setelah itu, tidak ada lagi siswa yang memakai kalung.

Studi kasus berikutnya, ada siswa yang tanpa sadar berkata kotor kepada temannya, padahal saya ada di kelas. Saya tidak marah. Saya memanggilnya ke depan kelas untuk memberikan penjelasan tentang bahaya dari ucapan kotor tersebut. Menariknya, siswa tersebut menangis, dan teman-temannya pun diam dan merenung. Kejadian itu tidak terulang lagi.

Banyak studi kasus yang bisa terjadi jika guru tidak mampu mengendalikan diri. Maka penting bagi guru untuk membedakan antara tegas dan marah, agar tidak disalahartikan oleh siswa.

Dari literatur yang saya baca, siswa cenderung menyukai guru yang tidak pernah marah. Hubungan mereka menjadi lebih nyaman dan positif, sehingga siswa tidak takut dan lebih terbuka untuk belajar. Guru yang sabar dan tulus dalam mengajar menciptakan lingkungan kelas yang menyenangkan, membangun rasa percaya, dan membuat siswa merasa dihargai.

Berikut alasan mengapa siswa menyukai guru yang tidak pernah marah:

  • Lingkungan belajar yang positif. Guru yang tidak mudah marah menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan, membuat siswa tidak takut untuk berinteraksi dan bertanya.
  • Hubungan yang lebih kuat. Siswa cenderung membangun hubungan yang lebih dekat dan percaya dengan guru yang sabar dan tulus dalam mendidik.
  • Kenyamanan emosional. Siswa merasa lebih aman secara emosional saat belajar karena tidak khawatir akan dimarahi, sehingga mereka bisa fokus pada materi pelajaran tanpa rasa cemas.
  • Model peran yang baik. Guru yang mampu mengendalikan emosi menjadi contoh perilaku yang baik untuk siswa, yang dapat membantu membentuk kepribadian dan sikap siswa menjadi lebih positif.
  • Penyampaian nasihat yang efektif. Nasihat dari guru yang tulus dan penuh kasih sayang akan lebih mudah diterima dan diingat oleh siswa, bahkan setelah mereka lulus.
  • Merasa diperhatikan. Guru yang mengenali dan berinteraksi sesuai karakter siswa akan membuat siswa merasa istimewa dan diperhatikan dengan baik, yang meningkatkan rasa senang mereka.

Siswa menyukai guru yang kreatif, sabar, dan interaktif. Guru yang disukai siswa juga sering kali mampu membangun hubungan baik dengan siswa, bersikap ramah, serta menjadi panutan yang menginspirasi.

SYALMA HENDRI SPDI
Guru SMK Negeri 1 Pekanbaru

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan