Kinerja saham BRI melemah setelah rilis laporan 2025

Kinerja Saham BRI pada Tahun 2025 dan Prospek di Tahun 2026

Pada penutupan perdagangan Kamis (26/2), saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengalami penurunan sebesar 0,50% atau 20 poin menjadi Rp 3.950 per saham. Pada awal perdagangan, saham BBRI sempat dibuka di level Rp 3.970. Meski demikian, selama sepekan terakhir, saham BBRI mampu naik sebesar 4,77%.

Pada tahun buku 2025, BBRI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 57,13 triliun, yang merupakan penurunan sebesar 5,26% secara tahunan dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 60,30 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan biaya pencadangan atau impairment sebesar 20,8% menjadi Rp 46,09 triliun. Selain itu, beban bunga juga meningkat sebesar 1,2% menjadi Rp 57,28 triliun.

Namun, pendapatan bunga tercatat sebesar Rp 207,78 triliun, meningkat 4,27% secara tahunan. Pendapatan bunga bersih dan jasa asuransi bersih juga meningkat sebesar 5,54% menjadi Rp 151,8 triliun pada tahun 2025.

Dari sisi fungsi intermediasi, kredit BRI secara konsolidasi mencapai sebesar Rp 1.521,49 triliun, meningkat 12,31% secara tahunan pada akhir tahun 2025. Total aset BRI tercatat sebesar Rp 2.135,37 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga tercatat sebesar Rp 1.466,84 triliun, dengan giro mencapai Rp 448,20 triliun, meningkat 19,66% dari Rp 374,55 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi menyampaikan bahwa meskipun ada ketidakpastian global, perekonomian domestik tetap resilien. Pertumbuhan ekonomi 2025 tercatat sekitar 5,1%, dengan proyeksi pertumbuhan menjadi 5,2% pada 2026. Inflasi Indonesia terkendali dalam kisaran target Bank Indonesia, yaitu sekitar 2,9%, dan stabil pada 2026.

Kondisi tersebut mendukung daya beli masyarakat serta memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif. "Secara keseluruhan, kombinasi inflasi yang terjaga, kebijakan moneter yang lebih longgar, dan ketahanan konsumsi domestik memberikan fondasi yang cukup kuat bagi ekonomi Indonesia ke depan," ujar Hery saat paparan kinerja perseroan.

Managing Director Solstice Indonesia, Handiman Soetoyo menilai bahwa kinerja BBRI tertekan oleh naiknya beban pencadangan karena pemburukan kualitas aset. "Bisa dimaklumi karena fokusnya di segmen mikro, segmen yang paling rentan terdampak pelemahan makro ekonomi. Gross NPL (konsolidasi) juga naik dari 2,78% menjadi 3,07%," terang Handiman.

Meskipun demikian, kinerja diluar pencadangan diakui cukup solid. PPOP naik 2,6%, didorong oleh pendapatan bunga bersih yang naik 5,5% dan pendapatan non-bunga dari unit treasury dan emas. Kredit tumbuh 12,3% YoY, melonjak di 4Q25 didorong oleh penyaluran kredit ke Agrinas.

Adapun prospek tahun 2026 dinilai masih cukup menantang karena fokusnya di mikro. Tingginya NPL akan membuat beban pencadangan tetap tinggi. Dari sisi NIM juga cukup menantang mengingat loan mix bergeser ke segmen korporasi dengan loan yield lebih rendah dibanding mikro, meskipun masih tertolong oleh tingginya NIM anak usahanya, Pegadaian dan PNM.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai sentimen utama yang menekan laba big banks tahun lalu adalah kenaikan suku bunga acuan yang berdampak pada pengetatan likuiditas dan tergerusnya margin bunga bersih (net interest margin/NIM). “Laba bersih 2025 memang cenderung cukup lesu. Sentimen utamanya adalah meningkatnya cost of fund sebagai akibat dari kebijakan suku bunga yang cukup lama berada di level tinggi sebelum akhirnya melandai,” ujarnya.

Memasuki 2026, prospek dinilai lebih baik. Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia ke level 4,75% diharapkan menjadi katalis positif bagi permintaan kredit. Bahkan, ada peluang dua kali penurunan suku bunga tambahan tahun ini, meski tetap bergantung pada arah kebijakan The Fed.

Nafan merekomendasikan saham BBRI dengan target harga Rp 3.910 per saham.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan