
Perjalanan Seorang Guru yang Menginspirasi
\nRambut panjang bergelombang tergerai dengan alami. Kebaya brokat berwarna coklat menghiasi tubuhnya dengan sempurna. Meski tampil berbeda dari kebanyakan gadis yang hadir di auditorium Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) pada hari Kamis (21/8), rona bahagia selalu terpancar di wajah Yustina Gemilang, S.Pd., Gr. Ia baru saja dilantik sebagai guru profesional melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Unusa.
\nMeskipun sebagian besar peserta di ruangan itu menggunakan hijab, Yustina tidak mengenakannya. Namun, ia tidak merasa canggung dalam lingkungan tersebut. Bahkan, ia sangat nyaman dan diterima oleh teman-temannya yang berhijab.
\n"Saya merasa diterima dengan baik. Mereka ramah dan menerima saya meskipun memiliki keyakinan yang berbeda," ujarnya saat ditemui setelah pengukuhan.
\nYustina menempuh pendidikan guru selama dua tahun di Unusa. Selama masa studinya, ia banyak belajar tentang nilai-nilai keislaman yang sebelumnya tidak pernah ia temui. Salah satu mata kuliah yang menarik perhatiannya adalah Aswaja.
\nAswaja merupakan singkatan dari Ahlussunnah wal Jama'ah, sebuah aliran dalam Islam yang menekankan pada mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW dan pemahaman mayoritas sahabat. Awalnya, ia hanya mengikuti mata kuliah ini secara biasa, namun semakin dalam mempelajarinya, ia semakin menyadari relevansinya dalam kehidupan sehari-hari.
\nNilai-nilai seperti tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), toleransi, dan keadilan yang diajarkan dalam Aswaja menjadi penting dalam hidup berdampingan dalam keberagaman. Baginya, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi untuk menciptakan suasana kelas yang inklusif.
\n"Perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang harus dipelihara," tambahnya.
\nSetelah resmi dilantik sebagai guru profesional, semangat Yustina untuk mengajar anak-anak di pedalaman Papua kembali meningkat. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak yang kurang beruntung dalam mengakses pendidikan.
\nIa pernah mengajar di SD YAPELIN Ob Anggen Dogobak, Kabupaten Mamberamo Tengah, Provinsi Papua Pegunungan. Lokasinya jauh dari ibu kota Jayapura, membutuhkan perjalanan 5 jam via udara dan darat.
\nKondisi anak didiknya yang minim fasilitas pendidikan membuat Yustina termotivasi untuk terus memperdalam ilmu dan keterampilannya. Ia merasa bahwa ilmu dan kemampuannya belum cukup untuk menjawab kebutuhan anak-anak di pedalaman.
\nMengikuti program Pra Jabatan PPG di Unusa menjadi jawaban Tuhan atas keinginannya. Ia melihat ini sebagai peluang untuk melengkapi diri sebagai guru yang lebih baik.
\nMotivasi terbesar Yustina menjadi guru bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membawa nilai dan teladan kepada setiap anak. Ia ingin setiap anak yang didiknya tumbuh berintegritas dan berkarakter.
\n"Seorang guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembawa nilai dan teladan," tegasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar