
Komplotan Perampok Minimarket Merakit Pistol Sendiri
Komplotan perampok spesialis minimarket di tiga provinsi, yaitu Jawa Timur (Jatim), Jawa Tengah (Jateng), dan Jawa Barat (Jabar), diketahui memiliki kemampuan khusus dalam merakit senjata api secara autodidak. Mereka mempelajari teknik tersebut melalui video tutorial di YouTube, sehingga bisa menciptakan senjata yang menyerupai pistol untuk mengancam korban saat beraksi.
Empat anggota komplotan ini bekerja sama dalam setiap aksi. Mereka memilih minimarket yang sepi pengunjung, lalu menodong kasir dengan pistol rakitan dan golok. Setiap kali berhasil melakukan aksi, mereka bisa mendapatkan uang antara Rp20 juta hingga Rp40 juta. Uang tersebut digunakan untuk foya-foya, seperti membeli narkoba atau bermain judi online.
Polisi berhasil menangkap dua anggota komplotan, yaitu HK dan SO. Sementara itu, dua eksekutor lainnya, IN dan TN, masih buron dan masuk daftar pencarian orang (DPO).
Belajar Merakit Senjata dari YouTube dan Rekan di Lapas
Menurut AKP Muhammad Fauzi, Kanit III Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, tersangka mampu merakit senjata karena belajar sendiri melalui video tutorial di YouTube. "Mereka bisa merakit sendiri. Proyektil kami temukan di TKP. Pengakuannya belajar lewat YouTube," ujarnya.
Sementara itu, AKBP Arbaridi Jumhur, Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, menyebutkan bahwa kemampuan merakit senjata juga didapat dari rekan sesama narapidana saat menjalani hukuman di lapas. "Jadi untuk kemampuan-kemampuan seperti itu sudah di luar kepala. Mungkin ilmunya dari teman-teman yang sesama napi dulu," katanya.
Modus Kerja Komplotan
Komplotan ini bekerja secara bersama-sama dengan empat anggota. Mereka memilih target secara acak, terutama minimarket yang sepi pengunjung. Saat menemukan lokasi yang cocok, tiga dari empat anggota langsung beraksi. Mereka masuk ke dalam minimarket sambil menodongkan pistol rakitan dan golok ke arah kasir.
Untuk menakuti korbannya, komplotan ini sering menembakkan pistol rakitan ke arah atas. Jika ada korban yang berani melawan, mereka juga tidak segan melakukan penyekapan. Mulut korban dibungkus lakban, sementara tangan dan kaki diikat menggunakan tali yang telah disiapkan sebelumnya.
"Jadi mereka ini sistemnya patroli. Dia tidak semua apa lokasi juga di langsung dimasukin, enggak. Kalau memang di situ ada 4-5 orang dia enggak berani. Yang dimasukin rata-rata kosong, tidak ada pengunjung lain, sisa pegawai yang dua orang," jelas Jumhur.
Hasil Aksi dan Penggunaan Uang
Setiap kali berhasil melakukan aksi, komplotan ini bisa mendapatkan uang antara Rp20 juta hingga Rp40 juta. Selain uang dari brankas dan mesin kasir, mereka juga mengambil ratusan bungkus rokok yang siap dijual di etalase.
Uang hasil rampokan dibagi rata oleh para pelaku. Mereka menggunakan uang tersebut untuk berfoya-foya, seperti membeli narkotika dan bermain judi online. Dari hasil interogasi, polisi menemukan bahwa gaya hidup para pelaku tidak jauh berbeda dari pelaku kejahatan lainnya.
Lokasi Aksi dan Wilayah Beroperasi
Komplotan ini pernah melakukan aksi di empat lokasi, yaitu Kabupaten Magetan, Nganjuk, Lamongan, dan Tuban. TKP pertama terjadi pada Kamis (4/9/2025) di sebuah minimarket di Jalan Raya Solo, Kabupaten Magetan. Pada hari yang sama, perampokan juga terjadi di Desa Paron, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk.
Pada Minggu (7/9/2025), minimarket di Jalan Raya Babat, Lamongan, menjadi sasaran. Terakhir, pada Senin (8/9/2025), minimarket di Jalan Martadinata, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, menjadi tempat aksi terakhir.
Meski berbasis di Provinsi Jabar, komplotan ini pernah beraksi beberapa kali di wilayah tersebut. Mereka kemudian mencoba beraksi di kawasan Provinsi Jatim, lalu melanjutkan ke Provinsi Jateng.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar