
Pemain Naturalisasi Timnas Malaysia Kini Tanpa Klub
Gabriel Palmero, pemain naturalisasi Timnas Malaysia, kini berstatus agen bebas setelah klub Spanyol CD Tenerife memutus kontraknya. Keputusan ini diambil setelah Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) gagal mengajukan banding terkait kasus pemalsuan dokumen yang melibatkan beberapa pemain.
Pemutusan kontrak diumumkan melalui pernyataan resmi dari klub Tenerife, yang juga menyampaikan bahwa kontrak pinjaman Palmero ke Unionistas de Salamanca CF telah diakhiri. Sebagai akibatnya, bek kiri berusia 23 tahun tersebut kini tidak memiliki klub.
Palmero menjadi pemain naturalisasi pertama yang kontraknya diputus oleh klub karena kasus pemalsuan dokumen. Dalam pernyataannya, Tenerife menjelaskan bahwa kontrak Palmero berakhir pada 7 November, termasuk peminjamannya ke Unionistas de Salamanca CF dan kontrak awal dengan klub asal Spanyol tersebut.
Unionistas de Salamanca juga mengonfirmasi pemutusan hubungan kerja tersebut dan menyampaikan terima kasih atas lima bulan pengabdiannya. Hal ini menunjukkan bahwa pemain tersebut telah memberikan kontribusi selama masa peminjamannya.
Sebelumnya, FIFA menolak banding FAM, sehingga memperkuat hukuman terhadap asosiasi sepak bola negara tersebut. Hukuman mencakup skorsing selama 12 bulan dan denda untuk setiap pemain yang terlibat. Enam pemain lainnya yang terbukti memalsukan dokumen adalah Rodrigo Holgado, Facundo Garces, Jon Irazabal, Joao Figueiredo, Hector Hevel, dan Imanol Machuca.
FAM mengonfirmasi bahwa mereka telah meminta alasan tertulis dari FIFA dan akan mempertimbangkan langkah lanjutan, termasuk membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).
Pertanyaan tentang Tanggung Jawab
Pakar sepak bola Malaysia, Datuk Dr Pekan Ramli, mempertanyakan pihak mana yang akan bertanggung jawab atas nasib pemain naturalisasi yang kontraknya diputus. Menurut Pekan, situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang siapa yang harus bertanggung jawab penuh mengingat keputusan FIFA secara langsung memengaruhi masa depan karier pemain.
Ia menekankan bahwa menyalahkan FAM sepenuhnya atau meminta pertanggungjawaban mereka mungkin tidak adil karena tidak pasti apakah negosiasi antara pemain dan klub dilakukan oleh FAM. "Orang-orang akan mengatakan bahwa FAM perlu bertanggung jawab," kata Pekan. "Sekilas, memang tampak demikian karena FAM-lah yang dihukum."
Namun, ia menyarankan agar lebih dalam lagi dilihat. "Tidak adil menyalahkan FAM sepenuhnya tanpa mengetahui secara jelas apakah badan pengatur tersebut terlibat langsung dalam penawaran dan kesepakatan pemain yang dimaksud."
Pekan juga merujuk pada pernyataan media sebelumnya yang menyebutkan bahwa FAM tidak ikut campur dalam perekrutan pemain warisan dan dikelola oleh manajemen tim nasional. "Jadi, siapa pun yang mengelola negosiasi ini harus maju," katanya kepada Sukan Sinar.
Kemungkinan Nasib Pemain Lain
Sementara itu, Pekan tidak menutup kemungkinan bahwa nasib serupa akan menimpa beberapa pemain lama lainnya seperti Facundo Garces dan Rodrigo Holgado. "Jika kontrak dihentikan karena masalah seperti ini, klub tidak akan menanggung kerugian."
"Klub tidak perlu membayar kompensasi karena mereka punya alasan yang sah untuk mengakhiri kontrak. Biasanya dalam kontrak pemain, hal ini sudah diperhitungkan," ujar Pekan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar