Koster: Koperasi Jadi Mesin Ekonomi Bali, Fokus pada Pertanian dan Peternakan


DENPASAR – Gubernur Bali, I Wayan Koster, menekankan pentingnya koperasi dalam memperkuat ekonomi daerah dengan mengedepankan produk lokal yang memiliki identitas dan branding yang kuat. Menurutnya, konsep ini mencerminkan Ekonomi Kerthi Bali yang berkelanjutan dan berlandaskan budaya setempat.

“Koperasi harus menjadi penggerak utama ekonomi Bali yang berbasis pada potensi lokal. Produk pertanian, peternakan, dan seluruh turunannya harus menjadi kekuatan utama kita,” ujar Koster dalam keterangan resminya, Sabtu (17/1/2026).

Dalam pertemuan dengan pihak Koperasi Bina Usaha Kerthi Bali di Denpasar pada Jumat, 16 Januari 2026, Koster juga menyampaikan pentingnya penguatan koperasi multi pihak. Koperasi-koperasi yang sudah ada di Bali akan menjadi anggota inti dari koperasi tersebut.

Fokus pengembangan usaha diarahkan kepada sektor pertanian dan peternakan. Sebab, kedua sektor ini dinilai sebagai pilar penting ketahanan pangan dan ekonomi daerah.

“UMKM pangan kita ini kecil-kecil, tetapi banyak. Kalau ditata dengan baik, bisa kita dorong agar bergaung di level nasional,” ujarnya.

Adapun komoditas yang menjadi perhatian khusus adalah peternakan babi. Bali, menurut Koster, memiliki peternak babi yang unggul dan berpengalaman. Oleh karenanya, dengan pengelolaan yang lebih terencana dan intensif, Bali berpeluang mengambil peran strategis dalam pasar babi nasional.

Koster menyebut, pengembangan peternakan babi akan dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, pemurnian dan penguatan plasma nutfah babi lokal Bali yang diintensifkan di lokasi tertentu. Kedua, pengembangan babi ras.

Tak hanya peternakan babi, komoditas pertanian unggulan seperti padi Sudaji juga akan dikembangkan. Hasil riset menunjukkan bahwa padi Sudaji memiliki masa panen relatif singkat, yaitu 105 hari. Komoditas ini diyakini dapat mendukung kemandirian pangan Bali.

“Kita ingin ekonomi Bali tumbuh kuat. Tetapi tetap berakar pada nilai-nilai lokal, koperasi, dan kebersamaan,” kata Koster.

Sebelumnya, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, I Nyoman Parta, juga mendesak pemerintah agar menghentikan impor daging babi. Sebagai solusinya, dia mendorong penguatan peternak lokal.

“Pemerintah tidak boleh mengambil langkah pragmatis, dengan kebijakan impor. Harusnya yang dilakukan adalah dengan menyiapkan bibit unggul,” tulis Parta dalam akun media sosial resminya.

Dia juga mendorong agar pemerintah menyediakan bahan-bahan baku pakan yang terjangkau, serta membangun tata kelola hulu hilir yang baik serta melindungi peternak.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan