
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mengalami penurunan kinerja keuangan pada tahun 2025, terutama karena menurunnya harga batubara di pasar global. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis di Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan bersih perusahaan turun sebesar 18,26% secara year on year (yoy) menjadi US$ 1,88 miliar dibandingkan dengan US$ 2,30 miliar pada tahun sebelumnya.
Penurunan ini disebabkan oleh penurunan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) sebesar 20%. Meskipun volume penjualan meningkat menjadi 24,7 juta ton pada 2025 dibandingkan dengan 24 juta ton pada 2024, hal tersebut tidak cukup untuk menutupi penurunan ASP. Laba bersih ITMG juga mengalami penurunan signifikan, yaitu 48,96% yoy menjadi US$ 190,94 juta dari US$ 374,12 juta.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyampaikan bahwa kinerja ITMG berpotensi pulih pada tahun 2026. Hal ini didorong oleh stabilnya permintaan batubara kalori tinggi dari negara-negara dengan kebutuhan listrik musim ekstrem serta efisiensi struktural yang berhasil menekan biaya pengeluaran.
Wafi menyarankan ITMG untuk memaksimalkan penjualan ekspor ke pasar premium yang siap membayar harga tinggi untuk kualitas batu bara mereka. Selain itu, ia menilai bahwa peluang pertumbuhan kinerja ITMG sangat bergantung pada arah harga batubara acuan, stabilitas permintaan dari China dan India, serta efisiensi biaya produksi.
Jika harga batubara global dapat bertahan di level yang menguntungkan dan ITMG berhasil menjaga stripping ratio serta biaya kontraktor tetap efisien, maka margin laba emiten ini berpotensi membaik dibandingkan 2025 lalu. Fleksibilitas neraca yang kuat dan posisi kas yang solid juga memberi ruang bagi ITMG untuk menjaga kebijakan dividen sekaligus mendukung belanja modal selektif.
Namun, secara struktural, industri batubara masih menghadapi tekanan transisi energi. Oleh karena itu, prospek 2026 lebih bersifat cyclical rebound daripada pertumbuhan jangka panjang yang agresif.
Wafi menambahkan bahwa langkah ITMG untuk masuk ke sektor mineral kritis seperti nikel melalui akuisisi saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) merupakan strategi transformasi yang penting. Investasi ini diharapkan dapat mengubah narasi ITMG dari saham batubara menjadi proksi energi terbarukan dan industri kendaraan listrik.
Tantangan utama bagi ITMG adalah volatilitas harga batu bara dan nikel, serta tantangan organik perusahaan dalam mengoptimalkan cadangan tambang batu bara yang mulai menua.
Dalam rekomendasinya, Wafi merekomendasikan beli saham ITMG dengan target harga di level Rp 28.500 per saham. Di sisi lain, Arinda Izzaty dari Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut saham ITMG layak dipertimbangkan investor dengan target harga di level Rp 23.000 per saham.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar