
jabar.aiotrade.app, BANDUNG - Bagi sebagian orang, jersey hanyalah selembar kain yang digunakan untuk bermain olahraga. Namun bagi mereka yang tumbuh bersama klub kebanggaannya, jersey menjadi lebih dari sekadar pakaian. Di dalamnya tersimpan kisah, kebanggaan, dan bahkan cinta yang tak tergantikan.
Dalam sebuah diskusi bertajuk “Menjahit Sejarah, Merayakan Gairah”, tiga tokoh dengan minat besar di dunia jersey saling berbagi cerita. Mereka adalah Fajar Ramadhan, desainer MILLS; Agung Mutakin, desainer jersey Persib Bandung; dan Nays Muntahar, kolektor jersey sepak bola. Setiap dari mereka memiliki perspektif unik tentang peran jersey dalam kehidupan masyarakat.
Jersey sebagai Representasi Sejarah
Bagi Agung Mutakin, desain jersey bukan hanya tentang warna atau motif. Di setiap lekuk garis dan potongan bahan, ada sejarah yang dijahit dengan hati. Ia menyebut bahwa Persib tidak akan pernah besar tanpa dukungan bobotoh, staf, dan orang-orang di balik layar.
“Persib itu tidak akan pernah besar tanpa bobotoh, staf, dan orang-orang di balik layar,” ujarnya dalam diskusi yang diadakan di Kota Bandung.
Dalam merancang jersey Persib terbaru bersama brand asal Spanyol, Kelme, Agung menempatkan sejarah dan fungsi sebagai fondasi utama. Awalnya, ia mempertimbangkan elemen Maung, tetapi akhirnya memilih desain yang lebih minimalis karena terlalu mirip dengan klub di ibu kota. Meski desainnya sederhana, ia mengakui bahwa jersey ini justru lebih mahal.
Agung meyakini bahwa jersey bukan hanya identitas klub, tapi juga bentuk penghormatan bagi mereka yang menjaga nama besar Persib di lapangan.
Perkembangan Industri Jersey di Indonesia
Sementara itu, Fajar Ramadhan hadir membawa kisah tentang bagaimana industri jersey di Indonesia berkembang menjadi sebuah ekosistem yang kuat. Dengan 10 tahun pengalaman di dunia desain olahraga, ia melihat perubahan besar yang terjadi.
“Dulu, desainer jersey bisa dihitung jari, sekarang sudah banyak banget. Bahkan sudah jadi profesi baru,” ujarnya.
Fajar percaya bahwa perkembangan ini bukan sekadar tren, tapi juga bentuk pengakuan bahwa karya anak bangsa di bidang olahraga bisa berdiri sejajar dengan brand internasional. Cita-citanya sederhana: desainer jersey di Indonesia bisa hidup layak dan dihargai.
Setelah satu dekade berkarya, Fajar tidak ingin berhenti. Ia ingin tetap konsisten, bahkan sampai 11 tahun, 12 tahun, dan seterusnya.
Jersey sebagai Arsip Budaya
Di antara para desainer, Nays Muntahar hadir sebagai penjaga memori. Bagi Nays, jersey bukan sekadar benda koleksi, melainkan fragmen sejarah yang menampung nostalgia. Di rumahnya, ia telah menyediakan galeri pribadi untuk koleksi jersey yang dimilikinya.
Namun, ia lebih berharap Persib memiliki museum besar yang bisa dikunjungi oleh banyak orang. Ia juga berencana membantu klub jika nanti museum resmi Persib benar-benar berdiri.
“Saya sudah janji, kalau museumnya jadi, saya akan bantu isi dengan koleksi pribadi,” ujarnya.
Hubungannya dengan klub bukan hanya sebatas penggemar. Dalam setiap kegiatan Persib, Nays sering terlibat langsung, seperti tur trofi enam kota beberapa waktu lalu. Tim kolektor Persib juga ikut mengisi acara tersebut.
Kekuatan Jersey dalam Berbagai Dimensi
Bagi klub, jersey adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah. Bagi desainer, jersey menjadi kanvas ekspresi. Sedangkan bagi kolektor, jersey merupakan arsip budaya dan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Setiap jersey yang dibuat atau dikoleksi memiliki makna yang mendalam, baik secara personal maupun sosial. Dari desain hingga koleksi, semua elemen ini mencerminkan hubungan yang kuat antara manusia dan olahraga.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar