
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta pelaku jasa keuangan untuk mencermati dan memantau intensif konflik Amerika Serikat dengan Venezuela terhadap risiko pasar, likuiditas, dan kredit. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan hal itu tetap perlu dilakukan meskipun dampak konflik kedua negara terhadap perekonomian Indonesia tidak terlihat dalam jangka pendek.
“Sekalipun demikian, kita tentu juga harus mencermati perkembangan dan risikonya kepada perekonomian dan sektor jasa keuangan dalam jangka menengah-panjang,” kata Mahendra mengutip Antara, Jumat, 9 Januari 2026. Secara umum, tutur Mahendra, para pelaku jasa keuangan, termasuk di pasar keuangan, masih terus mencermati perkembangan konflik tersebut serta mencermati potensi dampak terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global.
Ia mengingatkan risiko geopolitik, bahkan sebelum tensi antara AS dan Venezuela, sudah menyebabkan ketidakpastian yang tinggi pada proses pertumbuhan serta stabilitas ekonomi dan keuangan global. “Setelah Ukraina oleh Rusia, Palestina atau Gaza oleh Israel, kini Venezuela oleh AS. Tentu preseden-preseden ini menimbulkan kekhawatiran ke depan untuk hal-hal serupa. Karena ternyata bisa dilakukan tanpa konsekuensi yang memberatkan secara real pada negara yang melakukan pelanggaran itu,” kata Mahendra.
ia menjelaskan situasi ini menjadi semakin sulit mengingat lembaga multilateral dan internasional sudah memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 tidak mencapai 3 persen, menjadi pertumbuhan terendah pascapandemi COVID-19.
Adapun sejauh ini, OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga, berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) pada 24 Desember 2025. Berdasarkan rilis data global, Mahendra menyampaikan perekonomian dunia menunjukkan perbaikan meski kinerja ekonomi Cina berada di bawah ekspektasi. Aktivitas manufaktur global juga tetap berada di zona ekspansi dengan laju yang termoderasi.
Di Amerika Serikat, perekonomian menunjukkan kinerja yang relatif solid dengan PDB untuk kuartal ketiga 2025 tumbuh 4,3 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan di atas konsensus pasar. Sementara di Cina, perlambatan ekonomi masih berlanjut dengan konsumsi rumah tangga masih tertahan.
Perkembangan-perkembangan ini mendorong sejumlah bank sentral kembali menempuh kebijakan akomodatifnya. The Fed memangkas Federal Funds Rate (FFR) dan Bank of England pada Desember 2025 juga kembali memangkas suku bunga acuan.
Namun Bank of Japan menaikkan suku bunga kebijakan ke posisi tertinggi dalam tiga dasawarsa terakhir karena didorong oleh tekanan inflasi yang relatif persisten di Jepang. Perbedaan arah kebijakan dari bank-bank sentral turut mempengaruhi dinamika pasar keuangan global.
Di tengah dinamika global, perekonomian domestik pada Desember 2025 mencatatkan inflasi inti yang meningkat. Lalu sektor manufaktur terpantau masih ekspansif, serta kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang mencatatkan surplus.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar