Likuiditas Rp200 Triliun Jadi Titik Balik, Investor Asing Kembali Tertarik pada Saham RI

Likuiditas Rp200 Triliun Jadi Titik Balik, Investor Asing Kembali Tertarik pada Saham RI

Penguatan Sentimen Investor Global

Pemerintah Indonesia melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengambil langkah penting dengan menempatkan dana negara sebesar Rp 200 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Langkah ini dinilai memberikan suntikan likuiditas yang signifikan bagi pasar keuangan nasional, khususnya pasar modal. Kebijakan tersebut diiringi komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas fiskal.

Chief Marketing Officer Jarvis Asset Management, Kartika Sutandi atau akrab disapa Tjoe Ay, menyatakan bahwa aliran likuiditas ini membawa perubahan dalam sentimen investor global. Dampaknya terlihat pada penguatan berbagai kelas aset, termasuk pasar saham yang menjadi salah satu yang paling cepat merespons.

Peran Likuiditas dalam Meningkatkan Percaya Diri Pasar

Tjoe Ay menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah menciptakan rasa percaya diri baru di pasar. Ia mengatakan, "Disuplai ke bank, jadi likuiditasnya diinjeksikan. Kan aku bilang, kalau ada likuiditas, aset pasti naik. Kebetulan yang naik saham. Karena ada confidence saja, orang kayak dapat fresh breath."

Perubahan ini terjadi setelah pelaku pasar melakukan roadshow ke investor asing. Umpan balik dari broker yang bertemu dengan fund global menunjukkan bahwa investor sempat berada dalam fase bingung dan cemas. Sentimen negatif mendominasi, meskipun Indonesia dikenal sebagai negara dengan stabilitas makroekonomi, disiplin fiskal, dan konsistensi kebijakan moneter.

Perubahan Sentimen dan Stabilitas Ekonomi

Kekhawatiran sempat muncul ketika nilai tukar rupiah melemah akibat sentimen negatif yang memuncak. Namun, pasar mulai mencerna arah kebijakan pemerintah. Investor asing perlahan menerima kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa. Sinyal tegas tentang menjaga disiplin fiskal menjadi faktor penting dalam perubahan ini.

"Awalnya orang asing itu bingung, 'kok semuanya ini hilang?' Padahal sebenarnya Indonesia itu dicintai karena stabilitasnya. Makanya waktu sentimen jelek, rupiah geser. Tapi after a while, sekarang asing sudah bisa terima Pak Purbaya," ujar Tjoe Ay.

Perkembangan Pasar Modal

Dalam beberapa pekan terakhir, Indonesia kembali masuk rekomendasi overweight sejumlah pelaku pasar global. Perubahan ini terjadi saat valuasi pasar kembali naik. "Sekarang overweight di atas 8.000, tapi sebelumnya, waktu di bawah 8.000, justru underweight," kata Tjoe Ay.

Perubahan sentimen tidak berlangsung cepat. Awal periode ditandai pandangan suram terhadap Indonesia. Namun, secara perlahan investor mulai mau mendengar kembali narasi pertumbuhan ekonomi. Konsistensi pesan dan kredibilitas kebijakan pemerintah menjadi kunci dalam proses ini.

Kepastian dan Kredibilitas Kebijakan

"And then tone-nya dari yang suram sampe sekarang udah bisa baik. So, mereka lumayan mau dengerin sekarang. Jadi growth-nya dia rencananya gimana? Dulu kan belum ada credibility, slowly, dan orang takut dia gasnya kekencengan defisitnya kita jebol. Tapi dia langsung kasih statement tetap menjaga 3 persen defisit, stabilitasnya. Jadi asing tenang," ucapnya.

Bagi investor asing, pernyataan tersebut memberi sinyal penting. Kekhawatiran terhadap disiplin fiskal mereda, dan pasar menjadi lebih tenang serta kembali terbuka terhadap saham domestik.

Potensi Arus Modal Asing

Tjoe Ay menilai arus modal asing berpotensi kembali masuk jika likuiditas terjaga dan aktivitas pasar meningkat. Salah satu sinyal menarik terlihat dari kehadiran pemain global baru.

Ia mencontohkan perusahaan jasa keuangan Amerika Serikat, Robinhood, yang mengumumkan akuisisi perusahaan sekuritas lokal. Langkah tersebut memunculkan pertanyaan karena bobot Indonesia di indeks MSCI hanya sekitar 1,3 persen.

"Tapi why Indo? Negara kita kan cuma 1,3 persen di MSCI. Currency juga setahun geser, broker gede banget di AS kenapa bisa di Indo?" ujar Tjoe Ay.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan