Lima saham emiten yang sedang diincar bursa


aiotrade.CO.ID - JAKARTA.

Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini sedang memantau pergerakan saham dari lima emiten yang mencatatkan kenaikan harga yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kelima perusahaan tersebut adalah PT MNC Energy Investments Tbk (IATA), PT Urban Jakarta Propertindo Tbk (URBN), PT Newport Marine Services Tbk (BOAT), PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM), dan PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE).

Bursa menyatakan bahwa kelima emiten tersebut mengalami peningkatan harga saham yang tidak biasa, atau dikenal sebagai Unusual Market Activity (UMA). Meski demikian, pengumuman UMA tidak selalu berarti ada pelanggaran terhadap aturan pasar modal.

William Hartanto, praktisi pasar modal sekaligus pendiri WH-Project, mengungkapkan bahwa memang terjadi pergerakan di luar kebiasaan pada saham-saham tersebut. Akibatnya, BEI pun melakukan pemantauan lebih lanjut terhadap lima emiten tersebut.

Berikut rincian kenaikan harga saham masing-masing emiten:

  • Saham IATA tercatat naik 23,42% dalam sepekan terakhir dan 59,3% dalam sebulan terakhir. Sejak awal tahun, peningkatannya mencapai 174% year to date (YTD).
  • Saham URBN naik 36,9% dalam sepekan dan 39,89% dalam sebulan. Sejak awal 2025, meningkat 103,17% YTD.
  • Saham BOAT turun 1,87% dalam sepekan, tetapi naik 56,72% dalam sebulan terakhir. Sejak awal tahun, naik 7,69% YTD.
  • Saham BBRM naik 62,39% dalam sepekan dan 115,91% dalam sebulan terakhir. Sejak awal tahun, naik 140,51% YTD.
  • Saham SPRE naik 18,13% dalam sepekan dan 54,92% dalam sebulan. Sejak awal 2025, SPRE naik 3,85% YTD.

William menilai, meskipun kenaikan jangka pendek tidak disebabkan oleh auto rejection atas (ARA) berhari-hari, namun kenaikan yang signifikan bisa menjadi indikasi untuk pengamatan khusus.

Ia merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham-saham tersebut. Target harga yang ditetapkan antara lain:

  • IATA: Rp 154 – Rp 170 per saham
  • URBN: Rp 300 – Rp 320 per saham
  • BOAT: Rp 280 – Rp 300 per saham
  • BBRM: Rp 240 – Rp 254 per saham
  • SPRE: Rp 270 per saham

William menjelaskan bahwa rekomendasi buy on weakness diberikan karena adanya UMA, yang umumnya membuat harga saham mengalami koreksi. Dengan demikian, investor dapat memanfaatkan situasi tersebut untuk membeli saham dengan harga yang lebih rendah setelah koreksi terjadi.

Selain itu, William juga menekankan pentingnya memantau perkembangan pasar secara berkala. Investor perlu memperhatikan faktor-faktor eksternal seperti kondisi perekonomian, kebijakan pemerintah, serta dinamika bisnis perusahaan yang bersangkutan.

Dengan peningkatan harga yang begitu signifikan, para investor harus waspada dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan investasi. Kenaikan harga yang cepat bisa menjadi tanda-tanda baik maupun risiko, tergantung pada alasan di balik pergerakannya.

Oleh karena itu, analisis mendalam dan pengelolaan risiko sangat penting dalam menghadapi situasi pasar yang tidak menentu. Dengan informasi yang akurat dan strategi yang tepat, investor dapat memaksimalkan potensi keuntungan sambil meminimalkan risiko kerugian.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan