
Setiap orang tua memiliki cara sendiri dalam mendidik anak. Ada yang menggunakan perintah, mempercayakan kepada pengasuh, atau melibatkan diri secara langsung sambil memberi contoh. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung pada kepribadian anak dan situasi keluarga.
Menjelang usia empat tahun, anakku menjadi lawan berdebat "tak terkalahkan" bagi aku dan istri. Saat ingin diajak bepergian, selalu ada alasan yang membuatnya sulit untuk menurut. Bahkan, saat diminta mandi pun, ia sering menolak. Memasukkan anak ke kamar mandi juga tidak mudah. Jika sudah berada di ember, ia sulit untuk keluar. Kami sering merasa kewalahan karena perilaku ini. Syukurnya, kami telah mengikuti konseling pasangan, sehingga bisa saling mengingatkan jika mulai tegang.
Alasan utama anakku enggan segera mandi adalah karena masih asyik bermain di rumah teman atau di rumah sendiri. Ia terus bermain hingga akhirnya harus dipaksa. Aku mencoba berbagai cara untuk membujuknya masuk ke kamar mandi. Mulai dari bermain gelembung, mainan ikan plastik, hingga membuat permainan robot dengan menggerakkan kakinya di atas kakiku. Dengan begitu, ia berpura-pura seperti robot yang sedang berjalan.
Apakah kamu memiliki cara lain untuk "menyihir" anak agar mau masuk kamar mandi?
Mandi bersama balita bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat. Selain itu, saat mandi bersama, orang tua dapat mengajarkan anak tentang bagian tubuh, fungsinya, serta cara membersihkannya dengan benar. Semakin besar usia anak, semakin sadar mereka akan konsep privasi. Misalnya, anak-anak yang berusia 5 atau 6 tahun biasanya mulai ingin mandi sendiri. Mereka mulai merasa malu dan memahami pentingnya privasi.
Saat ini, setiap hari anakku selalu meminta untuk mandi bersamaku, baik pagi maupun siang. Jika sore dan aku sedang santai, aku bersedia menemani. Namun, jika pagi dan aku harus segera berangkat kerja, pasti akan repot. Oleh karena itu, penting bagi aku dan istri untuk menjelaskan bahwa tidak semua waktu bisa kita habiskan bersama.
Semua tempat bisa menjadi sekolah, dan semua orang bisa menjadi guru. Demikian kata Ki Hajar Dewantoro. Kuncinya ada pada orang tua. Orang tua harus memanfaatkan setiap kesempatan, di mana pun, untuk mengajarkan nilai-nilai dan keterampilan hidup kepada anak, termasuk di kamar mandi.
Anakku sering bertanya tentang organ tubuh. Aku menjelaskan nama dan fungsinya. Aku juga mengajarkan cara menggosok tubuh dengan sabun serta membersihkan bagian-bagian tertentu, terutama di lipatan-lipatan yang sering terabaikan karena keringat.
Di usia empat tahun, anakku sudah mampu memahami dan mengingat informasi. Suatu hari, tiba-tiba dia bertanya, "Papa, ini penis ya? Ini buat pipis ya?" Aku dan istri sepakat menggunakan nama asli untuk organ tubuh, bukan istilah plesetan seperti "burung" atau "titit". Tujuannya adalah agar anak tidak bingung.
Untuk menjaga privasi, saat mandi bersama, aku selalu memakai celana dalam yang dibasahi. Aku hanya melepaskannya setelah menutup tubuh dengan handuk.
Dulu, setelah mandi, aku dan istri yang mengelap tubuh anak. Kini, saat mandi bersama, aku bisa mencontohkan cara mengelap badan dengan handuk. Pertama, lap wajah, lalu tangan, ketek, kaki, selangkangan, punggung, dan kaki. Aku juga mengajarkan anak cara menutup tubuh dengan handuk. Jadi, meski di rumah sendiri, anak tetap berpakaian, bukan telanjang bulat.
Aku yakin, dengan mengajak anak mandi bersama, ia bisa belajar melakukan sendiri dari contoh yang kita berikan. Dengan demikian, anak akan lebih percaya diri. Ia bisa mandi dan mengelap tubuh sendiri. (Aku tetap membantu membasuh dan mengelap bagian yang sulit dijangkau)
Selain itu, ikatan antara aku dan anak semakin kuat. Anak akan lebih akrab dan percaya padaku sebagai ayahnya. Kelak, ketika ia sudah lebih mandiri, tentu ia tidak lagi ingin mandi bersamaku. Akan ada saatnya dia memahami privasi dan merasa malu jika dilihat telanjang oleh orang lain.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar