Marwan Dasopang Ingatkan Perawatan Jejak Islam di Barus

Marwan Dasopang Ingatkan Perawatan Jejak Islam di Barus

Pentingnya Merawat Jejak Awal Islam di Barus

Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, menekankan pentingnya menjaga jejak awal Islam di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Ia menilai bahwa perlu adanya upaya memperkuat literasi sejarah publik melalui riset, kurasi artefak, dan ekosistem edukasi yang dapat diakses oleh generasi muda.

"Sejarah bukan hanya masa lalu, tetapi juga fondasi nilai. Penelusuran jejak Syeikh Mahmud di Barus membantu pemahaman sanad perjuangan dan penyebaran Islam yang damai, moderat, serta berakar pada budaya lokal Nusantara," ujarnya dalam seminar Hari Santri Nasional bertajuk Titik Nol Islam Nusantara dan Jejak Syeikh Mahmud di Barus, Senin (20/10).

Marwan mengimbau kolaborasi lintas lembaga, akademisi, pemerintah daerah, komunitas ulama, dan pelaku budaya agar narasi ilmiah tentang Barus semakin terverifikasi. Ia menegaskan bahwa penelusuran Islam Nusantara, khususnya penelusuran Syeikh Mahmud Barus, menegaskan kembali peran historis Barus sebagai salah satu gerbang awal dakwah Islam di kepulauan Nusantara.

Pernyataan Marwan didukung oleh dua pembicara lainnya, yaitu Ahmad Baso dan Nurdin Ahmad Tanjung. Ahmad Baso menyoroti pentingnya knowledge stewardship atas sumber-sumber primer seperti naskah, epigrafi, dan tradisi lisan sebagai pondasi penulisan sejarah Islam Nusantara yang andal.

Sementara itu, Nurdin Ahmad Tanjung memetakan temuan-temuan lapangan yang berkaitan dengan topografi situs, jaringan perdagangan maritim, dan memori komunitas, seraya menegaskan kebutuhan dokumentasi yang sistematis dan berkelanjutan.

Materi presentasi turut menampilkan ringkasan bukti-bukti historis dan arkeologis mengenai Barus mulai dari catatan pelabuhan kuno, komoditas kemenyan dan kapur barus, hingga sebaran makam tua serta penanda epigrafis yang dikaitkan dengan Syeikh Mahmud sebagai penguat argumen titik nol Islam Nusantara di kawasan ini.

Rekomendasi Seminar

Berikut beberapa rekomendasi dari seminar tersebut:

  • Penegasan sanad perjuangan dan penyebaran Islam di Barus
    Memadukan riset filologis, genealogi keilmuan, dan sejarah sosial-keagamaan untuk memetakan jaringan ulama, tarekat, serta rute niaga-dakwah yang menghubungkan Barus dengan pusat-pusat Islam di kawasan Samudra Hindia.

  • Penelusuran sejarah berbasis teks, situs, dan artefak
    Mengumpulkan, mengkatalogkan, dan memverifikasi naskah, prasasti, nisan, serta temuan arkeologis yang relevan dengan keberadaan Syeikh Mahmud di Barus; memastikan prosedur ilmiah (dating, konteks temuan, dan provenance) agar dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan edukatif.

  • Pembangunan narasi dan infrastruktur memori publik
    Mengembangkan Museum Barus dan Syeikh Mahmud berbasis data sejarah yang tervalidasi lengkap dengan kurasi pameran, pusat dokumentasi digital, dan program residensi riset, agar pengetahuan ini hidup dalam pendidikan, pariwisata sejarah, dan diplomasi budaya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan