Maulid di Aceh: Kebiasaan Cinta dan Persatuan Sosial

Tradisi Maulid Nabi di Aceh yang Penuh Makna

Maulid, atau dalam bahasa Aceh disebut maulod, bukan hanya sekadar tradisi. Bagi masyarakat Aceh, memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah bagian dari kehidupan yang berjalan seiring waktu. Tradisi ini tidak hanya menjadi momen keagamaan, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkuat persatuan dan solidaritas antar sesama.

Dalam memperingati maulid nabi, masyarakat Aceh selalu menyisipkan santunan kepada anak yatim. Di setiap masjid di kampung atau desa, perayaan ini selalu dirayakan dengan penuh sukacita. Tidak jarang, masyarakat menggelar kenduri yang dilengkapi dengan berbagai hidangan lezat. Dalam beberapa desa, masyarakat diwajibkan untuk menyumbang uang per kartu keluarga. Hasil sumbangan tersebut digunakan untuk membeli hewan ternak, seperti lembu, yang kemudian dipotong untuk dibagikan sebagai makanan.

Selain itu, sebagian masyarakat juga menyediakan hidang (menu makanan) yang dibawa ke masjid untuk para tamu dari kampung lain. Bahkan bagi pengantin baru, sebagian desa mewajibkan pengantin pria untuk membawa hidang ke masjid. Aturan ini hanya berlaku sekali saat pengantin pria menetap di desa istri.

Perayaan yang Penuh Kebersamaan

Suasana bulan maulid di Aceh selalu meriah dan penuh kegembiraan. Masyarakat saling bahu-membahu dalam mengumpulkan sumbangan dan bergotong royong di lingkungan masjid. Tidak sedikit orang yang rela mengeluarkan uang untuk mengadakan kenduri maulid. Bahkan, di beberapa desa, masyarakat sengaja membuat kenduri khusus di rumah masing-masing untuk mengundang kerabat dekat.

Anak-anak yatim dan fakir miskin sangat diperhatikan oleh masyarakat Aceh. Setiap tahun, mereka mendapatkan santunan tiga kali, yaitu pada hari raya idul fitri, idul adha, dan saat maulid. Di desa tempat saya tinggal, santunan diberikan melalui amplop atau kotak amal di masjid. Uang hasil sumbangan warga kemudian dihitung dan dibagikan sesuai jumlah anak yatim di desa. Biasanya, setiap anak yatim menerima sekitar 2 juta Rupiah. Semakin banyak sumbangan, semakin besar pula nilai yang diterima.

Tradisi Masak Kuah Beulangong

Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga kini adalah memasak kuah beulangong. Daging sapi dimasak dalam kuali besar, lalu dibagikan ke setiap warga desa, baik yang menyumbang maupun yang tidak mampu. Masyarakat membawa rantang atau kuali kecil untuk mengambil kuah beulangong, lalu membawanya pulang untuk dinikmati bersama keluarga.

Selain di masjid, tradisi maulid juga diadakan di tempat-tempat pengajian. Aceh dikenal dengan julukan Seuramoe Mekkah, yang tidak tanpa alasan. Kehadiran balai-balai pengajian selama bertahun-tahun telah melahirkan banyak ulama terkenal di kalangan masyarakat Aceh.

Masa Lalu dan Pengaruh Budaya

Tradisi maulid di Aceh sudah berlangsung sejak era kesultanan. Pada masa Sultan Ali Mughayat Syah (1507), tradisi ini mulai dikembangkan. Selanjutnya, pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), maulid diadakan lebih luas lagi dan dipercaya mulai diadakan selama tiga bulan berturut-turut. Kemungkinan besar, inilah awal mula tradisi maulid selama tiga bulan tersemat dalam budaya Aceh.

Perayaan maulid di Aceh memiliki banyak hikmah. Salah satunya adalah menciptakan keakraban antar kampung. Perwakilan masyarakat setiap kampung saling mengunjungi dan berbagi kegembiraan. Masyarakat juga aktif memberi santunan kepada anak yatim, baik berupa uang maupun undangan untuk makan bersama. Aktivitas kemasyarakatan pun lebih hidup selama bulan maulid, baik secara ekonomi maupun silaturrahmi.

Keterlibatan Masyarakat Aceh di Luar Negeri

Masyarakat Aceh yang tinggal di luar negeri juga tidak ketinggalan dalam merayakan maulid. Diaspora Aceh di Malaysia, Eropa, Kanada, Amerika, dan negara lainnya rutin mengadakan acara maulid. Mereka sering mengundang pendakwah dari tanah kelahirannya untuk memberikan ceramah. Aktivitas ini dilakukan oleh sesepuh Aceh yang telah lama merantau sebagai media silaturrahmi dalam wadah berbagi sesama muslim.

Keberagaman dan Harmoni

Bulan maulid di Aceh tidak pernah sepi dari lantunan zikir. Meskipun mayoritas penduduk Aceh beragama Islam, masyarakat non-muslim hidup rukun dan damai. Mereka bahkan sudah terbiasa dengan tradisi-tradisi masyarakat Aceh yang tanpa disadari menyatu dalam prinsip hidup sehari-hari.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan