
aiotrade, JAKARTA – Transformasi pasar modal yang dilakukan oleh otoritas bursa Indonesia diharapkan mampu memastikan bahwa perusahaan-perusahaan yang melakukan go public adalah perusahaan berkualitas. Kualitas tersebut tidak hanya terlihat dari sisi tata kelola (governance) tetapi juga kemampuan keuangannya.
Salah satu contoh perubahan yang dilakukan adalah kenaikan batas free float perusahaan tercatat dari 7,5% menjadi 15%. Selain itu, penyesuaian batas minimum free float untuk IPO ditetapkan antara 15%-25%. Perubahan ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas pasar. Di samping itu, transparansi data investor juga diperlukan untuk meminimalisir praktik manipulasi harga saham.
Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta, agenda transformasi Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki faktor positif dan negatif. Ia menjelaskan, jika lantai bursa diisi oleh perusahaan-perusahaan berskala besar, maka harga saham yang terbentuk akan stabil dan tidak mudah dimanipulasi oleh spekulan.
Namun, menurutnya, ada kekurangan dalam hal ini. "Negatifnya, pergerakan harganya relatif lambat atau tidak cocok bagi trader harian yang mencari volatilitas tinggi," ujarnya.
Meski begitu, secara umum dampak positif dari transformasi ini akan lebih besar. Nafan mencontohkan, jika good governance diterapkan dengan baik, saham emiten berskala besar bisa masuk ke dalam indeks global. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan investor di pasar modal nasional.
"Ini bisa mengurangi risiko harga saham jatuh di bawah Rp100 rupiah atau Rp150 rupiah pasca-IPO. Emiten besar itu likuid, ini lebih disukai investor institusi baik global maupun domestik," tambahnya.
Sementara itu, Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai bahwa agenda transformasi pasar modal saat ini masih memberikan beberapa ketidakpastian terkait dengan free float. Akibatnya, jumlah IPO pada awal 2026 ini masih sepi karena kombinasi wait and see dari emiten dan investor di tengah ketidakpastian global geopolitik serta volatilitas pasar. Tambah lagi, kekhawatiran dari MSCI terkait free float Indonesia membuat pasar lebih sensitif terhadap isu likuiditas dan investability.
"Ini membuat emiten, terutama yang free float-nya berpotensi kecil, cenderung menunda [IPO] sampai sentimen membaik dan struktur free float lebih aman," ujarnya.
Menurutnya, fokus IPO pada emiten skala besar memberi dampak positif berupa likuiditas yang lebih dalam, kualitas fundamental yang lebih teruji, serta daya tarik bagi investor institusi dan asing.
"Namun, minusnya dapat mengurangi ruang bagi emiten kecil-menengah, mempersempit diversifikasi, dan membuat pasar kurang inklusif bagi perusahaan high-growth tahap awal," katanya.
Dalam pipeline IPO Bursa Efek Indonesia (BEI) per 20 Februari terdapat delapan perusahaan yang akan melakukan penawaran umum perdana saham. Dari 8 perusahaan tersebut, tiga merupakan perusahaan skala menengah dengan aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, sedangkan lima lainnya adalah perusahaan skala besar dengan aset lebih dari Rp250 miliar.
Dari sektor usaha, mayoritas calon emiten IPO adalah perusahaan basic materials dan financials, masing-masing berjumlah dua perusahaan. Harry menilai kedua sektor ini memiliki peluang cukup bagus dari perspektif iklim industri saat ini.
Basic materials diuntungkan oleh agenda hilirisasi, proyek infrastruktur, dan belanja investasi industri yang meningkatkan kebutuhan modal ekspansi. Sementara sektor financial mendapat momentum dari penurunan cost of fund, pertumbuhan kredit, dan asset quality yang cenderung stabil.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar