
Perdebatan tentang Ekspansi Retail Modern di Desa
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan keinginannya untuk meminta penjelasan lebih lanjut dari Menteri Desa Yandri Susanto terkait rencana pemerintah dalam mengatur ekspansi bisnis retail modern di wilayah pedesaan. “Saya sudah berjanji dengan Pak Mendes tadi. Ada acara lain yang juga saya ingin tanyakan, seperti apa maksudnya,” ujar Budi saat berada di Jakarta Pusat, Selasa, 24 Februari 2026.
Keberadaan retail modern di desa kini menjadi topik perbincangan yang hangat antara para menteri, termasuk Yandri Susanto. Dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR pada 12 November 2025, Yandri menyatakan bahwa pembangunan Koperasi Desa Merah Putih tidak akan optimal jika ekspansi minimarket tidak diatur. “Artinya tidak apple to apple. Mereka sudah sangat besar dan sangat monopoli,” katanya.
Menanggapi rencana pemerintah dalam mengatur ekspansi, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Iqbal Shoffan Shofwan menjelaskan bahwa pengaturan bisnis retail modern masih mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025. Iqbal menegaskan bahwa perubahan aturan terkait ekspansi retail modern akan dilakukan setelah melihat dinamika di lapangan.
Menurut Iqbal, ekspansi bisnis dari puluhan ribu retail modern berjejaring seperti Alfamart saat ini masih fokus di perkotaan. Hal ini disebabkan oleh pertimbangan demografi dan pendapatan penduduk suatu wilayah sebelum melakukan ekspansi. “Itulah mengapa sampai sekarang kita masih jarang sekali menemukan retail modern yang berjejaring ada di desa-desa. Jadi saya pikir enggak ada masalah,” ujarnya.
Iqbal menekankan bahwa Kementerian Perdagangan justru mendorong kemitraan antara koperasi dan retail modern. Menurutnya, Koperasi Desa Merah Putih dan retail modern memiliki karakteristik yang berbeda. Koperasi, misalnya, utamanya menampung produk yang ada di desanya masing-masing.
Meskipun demikian, Iqbal menyatakan ada peluang bagi koperasi untuk berekspansi dan memasarkan produk yang diproduksi oleh UMKM dari desa lain. Sementara itu, Iqbal menjelaskan bahwa mayoritas dagangan retail modern berasal dari produksi pabrik.
Andi Adam Faturrahman berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar