Mengukur Nilai Ekonomi Gas untuk Industri

Peran Harga Gas Bumi dalam Perekonomian Nasional

Pemerintah kembali mempertimbangkan konsep harga gas bumi yang ekonomis untuk industri, seiring dengan potensi besar pasokan gas dari proyek Blok Masela. Proyek ini diperkirakan mampu menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas pipa, dan 35 ribu barel kondensat per hari. Namun, saat ini harga gas domestik masih berada di atas US$ 12 per MMBTU, yang dinilai menjadi beban serius bagi pelaku industri.

Tantangan Harga Gas yang Tinggi

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti bahwa harga gas yang tinggi berisiko melemahkan daya saing industri nasional. Ia menyatakan bahwa produksi gas yang akan datang bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur biaya energi industri. Ia menekankan bahwa gas dari proyek tersebut tidak hanya untuk ekspor, tetapi juga perlu memberikan nilai tambah bagi perekonomian domestik melalui harga yang lebih terjangkau.

Perspektif Investor dan Operator

Dalam forum tersebut, Purbaya secara terbuka menguji batas harga keekonomian gas dari sudut pandang investor. Ia mempertanyakan level harga yang layak agar fasilitas produksi tetap berjalan secara menguntungkan, namun tetap kompetitif bagi konsumen industri. Pertanyaan ini diarahkan kepada manajemen Inpex Corporation Ltd, penggarap utama proyek LNG Abadi Masela.

Blok Masela merupakan salah satu proyek gas terbesar di Indonesia, dengan nilai investasi sekitar USD 21 miliar atau setara Rp 352 triliun. Proyek ini dirancang memiliki kapasitas produksi 9,5 juta metrik ton LNG per tahun (MMTPA) dan 150 MMSCFD gas pipa, dengan potensi cadangan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF) di Laut Arafura.

Tanggapan dari Manajemen Proyek

Project Director Inpex Masela, Harrad Blinco menyampaikan bahwa penentuan harga keekonomian bukan perkara sederhana. Biaya investasi pembangunan kilang LNG dan fasilitas pendukung terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga memengaruhi perhitungan pengembalian investasi proyek.

Pandangan dari Industri Pengguna Gas Bumi

Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), Yustinus Gunawan menilai arah kebijakan yang disampaikan Menkeu sudah tepat. Ia menyebut Purbaya memahami betul tekanan biaya energi yang dihadapi industri dan bergerak cepat memberi sinyal koreksi harga. Yustinus mengungkapkan bahwa gas bumi yang dialirkan melalui pipa hasil regasifikasi LNG idealnya dapat ditetapkan pada kisaran USD 9 per MMBTU di titik serah (at plant gate).

Menurutnya, secara struktur biaya, harga keekonomian gas bumi tertentu (HGBT) berada di sekitar USD 7 per MMBTU. Jika terjadi gangguan pasokan, maka toleransi maksimal sekitar 15% alokasi masih dinilai ekonomis pada level USD 9 per MMBTU.

Kompleksitas Biaya di Sektor Hulu Migas

Praktisi migas sekaligus Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC), Hadi Ismoyo mengingatkan bahwa pembentukan harga gas tidak bisa dilepaskan dari kompleksitas biaya di sektor hulu. Harga gas, menurutnya, merupakan fungsi dari sunk cost, belanja modal (capex), serta biaya operasi (opex) sejak tahap eksplorasi, pengembangan, hingga produksi.

Infrastruktur sebagai Faktor Penentu Harga Akhir

Founder & Advisor ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto mengatakan bahwa harga gas yang disebut “ekonomis” sejatinya adalah harga yang mampu menutup seluruh biaya dan memberikan margin usaha yang wajar. Namun, harga gas di tingkat konsumen akhir sangat bergantung pada banyak faktor, mulai dari sumber pasokan, jarak, volume, hingga kesiapan infrastruktur. Tanpa jaringan infrastruktur yang matang dan pasar yang kompetitif, upaya menurunkan harga gas akan sulit terwujud.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan