Mengungkap Prospek Saham Blue Chips Dengan Valuasi Murah Tahun 2026


aiotrade, JAKARTA — Saham dari emiten-emiten besar (blue chips) diperkirakan menawarkan valuasi yang menarik dan memberikan peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi pada tahun 2026. Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, menyatakan bahwa prospek pasar saham pada tahun 2026 lebih menarik dibandingkan tahun 2025. Hal ini didasarkan pada pendekatan fundamental dan pertimbangan risiko serta imbal hasil (risk and reward).

Freddy mengungkapkan beberapa faktor yang mendukung pemulihan minat terhadap pasar saham Indonesia pada tahun 2026:

Pertama, siklus pemulihan ekonomi

Ekspektasi pemulihan ekonomi pada tahun 2026 diharapkan dapat meningkatkan potensi pertumbuhan laba perusahaan. MAMI memperkirakan bahwa pertumbuhan laba IHSG pada tahun 2025 berada di kisaran 8% secara year-on-year (YoY).

Kedua, valuasi atraktif

Saham blue chips menawarkan valuasi yang menarik, di mana saat ini sudah mencerminkan level yang terjadi selama masa pandemi. Dalam hal ini, konstituen indeks IDX30 menjadi indikator penting. Berdasarkan data Bloomberg, sejumlah saham dalam indeks tersebut diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) di bawah 10 kali. Beberapa contohnya adalah:

  • INKP dengan PER 5,05 kali
  • ITMG dengan PER 6,18 kali
  • UNTR dengan PER 6,61 kali
  • INDF dengan PER 7,67 kali
  • PTBA dengan PER 8 kali
  • BBNI dengan PER 8,04 kali
  • ASII dengan PER 8,18 kali
  • PGAS dengan PER 8,34 kali
  • BMRI dengan PER 9,11 kali
  • JPFA dengan PER 9,78 kali

Selain itu, lima saham IDX30 dengan price to book value (PBV) paling kecil antara lain:

  • INKP dengan PBV 0,39 kali
  • SMGR dengan PBV 0,43 kali
  • ADRO dengan PBV 0,67 kali
  • ITMG dengan PBV 0,76 kali
  • INDF dengan PBV 0,85 kali

Ketiga, potensi diversifikasi global

Indonesia, sebagai perekonomian yang berorientasi domestik, memiliki potensi untuk kembali masuk dalam radar investor asing. Hal ini terjadi di tengah tren diversifikasi investasi setelah penguatan pasar global yang cenderung terkonsentrasi pada sektor teknologi.

Menurut Freddy, beberapa sektor yang diprediksi akan semakin menarik adalah:

  • Sektor finansial, yang didukung oleh perbaikan pertumbuhan kredit dan penurunan cost of fund.
  • Sektor consumer staples, yang berpotensi diuntungkan dari pemulihan daya beli masyarakat.
  • Sektor materials, yang terkait dengan maraknya permintaan terhadap critical mineral seperti nikel, tembaga, dan kobalt.

Dengan berbagai faktor tersebut, prospek pasar saham Indonesia pada tahun 2026 dinilai cukup menjanjikan. Namun, investor diminta tetap waspada dan melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan